Setelah kelas berakhir, koridor kampus berubah menjadi lorong yang lembap dan dingin. Erina sudah berpamitan untuk masuk ke kelas mata kuliah selanjutnya, meninggalkan Maorielle sendirian di selasar. Hujan rintik kecil masi awet sampai sekarang. Menciptakan tirai air yang membatasi pandangan ke arah gerbang luar.Mao melangkah hingga ke lantai satu. Dia seharusnya bisa pulang sekarang. Tapi, dia memilih berdiri bersandar pada salah satu pilar besar, posisi favoritnya, sambil memeluk tasnya. Ia memerhatikan air yang mengalir di parit kecil selasar, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya akibat kejadian di ruang dosen tadi."Hujannya tidak akan reda dalam waktu dekat."Suara bariton itu muncul dari arah kiri, membuat Mao sedikit tersentak. Ia menoleh dan menemukan Khai sudah berdiri di sana. Pria itu sudah melepas jas dosennya, kini hanya mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah payung hitam
Read more