เข้าสู่ระบบHari Kamis tiba dengan sisa-sisa aroma tanah basah yang masih tertinggal di udara. Maorielle melangkah menyusuri lorong kampus dengan tangan yang menggenggam sebuah payung hitam besar yang telah ia keringkan dengan saksama semalam.
Maorielle hanya memiliki satu kelas mata kuliah di pagi hari. Sisa tujuannya hanya satu: ruang dosen. Ia ingin segera mengembalikan payung ini. Namun, setibanya di depan meja Khai, ia hanya menemukan tumpukan buku yang tertata rapi dan kursi yang kosong.
"Mencari Pak Khai, Mao?"
Mao tersentak dan berbalik mendapati Pak Angin yang baru saja masuk sambil membawa segelas kopi.
"Eh, iya, Pak. Saya ingin mengembalikan payung ini," jawab Mao agak canggung.
Pak Angin mengerutkan kening, lalu tertawa kecil saat mengenali benda di tangan Mao. "Ah, jadi payung itu ada padamu? Kemarin siang Khai meminjamnya dariku. Katanya ada 'urusan mendesak' yang harus ia pastikan aman di tengah hujan."
Mao tertegun. Kalimat Pak Angin bar
Pagi itu, sinar matahari Selasa menyusup di antara pilar-pilar koridor, namun suhu di depan mading terasa jauh lebih panas. Kerumunan mahasiswa berkumpul, berdesakan untuk melihat daftar yang paling dinanti tahun ini. Finalis Putra dan Putri Kampus.Maorielle menyelinap di antara bahu-bahu mahasiswa, hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah poster mengkilap dengan desain elegan. Di sana, deretan foto potret diri para peserta terpampang dengan sangat profesional. Maorielle menyipitkan mata, menatap salah satu foto di barisan finalis Putri Kampus. Wanita itu bernama Mei, dari Fakultas Hukum. Di foto itu, Mei tampak sempurna dengan senyum yang terlihat sangat terukur. Seperti sebuah diksi yang dipilih dengan sangat hati-hati agar tidak memiliki celah."Cantik, ya?" celetuk Erina yang ikut menyandarkan bahu di mading. "Dia primadona di Hukum. Katanya sih, dia tidak pernah gagal mendapatkan apa yang dia mau."Maroerielle hanya mengangguk pelan. Seperti setuju deng
Khai kembali melirik jam tangannya. Jarum menunjukkan pukul 13.00 tepat. Ia sudah berada di depan pintu kelas. Namun melalui celah kecil, ia melihat Maorielle baru saja membuka bungkusan makanannya dengan wajah lelah yang sangat kentara.Khai menghela napas, lalu kembali menyandarkan punggungnya di tembok koridor. Ia mengeluarkan ponsel, berpura-pura sangat sibuk. Padahal ia hanya sedang memberikan 'ruang' bagi gadis itu. Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit berlalu.Bagi mahasiswa lain, Khai mungkin dianggap dosen yang santai atau sedang sibuk. Namun bagi Erina yang telah membaca silabus di kepala dosen itu, keterlambatan ini adalah sebuah kesengajaan. Seorang Khairen yang biasanya teratur, kini sedang berdiri mematung di luar kelas. Sengaja membuang waktunya agar seorang mahasiswi bisa makan tanpa tersedak."Mao, cepat habiskan makananmu," bisik Erina sambil menahan senyum geli. "Pawangmu berjaga di luar tuh nungguin."Maorielle nyaris tersedak. "Paw
Khai berusaha keras memanggil kembali sisa-sisa kewarasan logikanya. Sebagai seorang akademisi, ia mencoba mendiagnosis perasaannya sendiri. Mungkin ini hanya lonjakan dopamin sesaat karena sudah terlalu lama menutup diri dari urusan hati. Ia meyakinkan diri bahwa ia bisa bertahan, setidaknya sampai semester berakhir. Menjaga jarak profesional adalah satu-satunya cara menyelamatkan reputasinya yang selama ini tanpa cela.Namun, mata pria itu seolah memiliki kehendaknya sendiri. Pandangannya berpindah ke lantai dua gedung sebelah. Ia melihat Maorielle dan Erina sedang berjalan di koridor terbuka. Tiba-tiba, sosok Maorielle menghilang dari jangkauan pandangannya karena gadis itu membungkuk. Entah apa yang dilakukannya.Di saat itulah, mata Khai justru bertabrakan dengan tatapan Erina. Erina berdiri tepat di belakang Maorielle, sedang menatap tajam ke arah tempat Khai berada. Diserang tatapan menyelidik seperti itu, Khai yang biasanya tak tergoyahkan, langsung membuang mu
Selasa siang, langit di atas kampus tampak sedikit mendung. Seharusnya ia fokus pada jurnal yang terbuka di layar laptopnya. Namun matanya terus teralihkan ke arah jendela besar di ruang kelas lantai dua gedung MKU. Dari sana, ia memiliki sudut pandang sempurna untuk mengamati pelataran gedung jurusan Psikologi, tempat Maorielle berada.Khai menyipitkan mata. Di taman kecil di depan jurusan psikologi, ia melihat Maorielle. Namun, dia tidak sendirian. Gadis itu sedang berbincang dengan seorang pria yang mengenakan jaket hoodie. Pria itu tampak tinggi, memiliki senyum yang lepas, dan yang paling mengganggu Khai adalah betapa akrabnya mereka.Meski pun ada beberapa mahasiswa bersama mereka. Tapi, kedekatan mereka sangat mencolok. Pria itu kemudian merogoh saku hoodie-nya dan memberikan sesuatu. Sebuah benda kecil dan Maorielle menerima dengan senyumnya yang lebar.Khai terus memperhatikan saat pria berhoodie itu mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu yang membuat
Senin pagi, kampus masih terasa begitu tenang. Mata kuliah sebelumnya hanya berlangsung singkat. Maorielle merasa energinya kembali setelah dari kantin. Tapi, rasa kantuk mulai menyerang.Ia melirik ke arah gedung MKU. Ia melihat Khai berjalan menuju ruang dosen dengan setumpuk map di tangannya. Maorielle menghitung waktu. Dengan tumpukan sebanyak itu, Khai pasti akan tertahan di kantornya sampai jam kelas dimulai.Merasa aman, Maorielle melangkah menuju ruang kelas Khai. Seperti dugaannya, kelas itu benar-benar kosong. Ia butuh tempat tenang untuk memejamkan mata sejenak. Ia memilih kursi di barisan tengah. Maorielle meletakkan tasnya sebagai bantal, lalu menyandarkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja. Semilir angin dari jendela yang terbuka membuatnya sangat rileks.Dalam hitungan menit, Maorielle benar-benar tertidur pulas. Dia tidak menyadari bahwa rencana "aman" yang ia bangun memiliki celah. Maorielle tidak tahu bahwa sepuluh menit kemudian, pintu k
Sore itu, Erina ke rumah Angin untuk mengantarkan beberapa dokumen fakultas yang tertinggal. Mereka duduk di teras samping yang asri. Ditemani aroma kopi hitam yang kuat, selera Angin. Setelah basa-basi singkat, Erina tidak tahan untuk tidak mengungkit kejadian di perpustakaan tempo hari."Yang di perpustakaan. Pak Khai benar-benar mencari asisten riset?"Angin tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Anggap saja aku sedang eksperimen sosial kecil-kecilan. Aku sebenarnya kasihan melihat Khai. Dia terlihat frustrasi sekali."Erina menaikkan alisnya, tertarik. "Frustrasi kenapa?""Aku tahu betul Khai itu tipe pria yang dunianya harus presisi. Dia melihat Maorielle dan dia jatuh hati. Tapi masalahnya, Maorielle itu seperti dinding beton. Khai tidak terbiasa dengan ketidakpastian." Angin menyesap kopinya sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih serius."Khai itu sangat pragmatis. Dia punya prinsip cut loss yang sangat







