LOGINSebuah tebasan pedang coba menyambar leher Kaelus sebelum kakinya sempat menapak penuh di tanah D'Arest.
Ia menunduk dalam sepersekian detik, merasakan angin tajam berdesing tepat di atas rambut peraknya. Ia pun mencengkeram pergelangan penyerang, memutar, lalu menghempaskan tubuh itu ke tanah.
Dada para penjaga lain pun bergetar seketika.
Kereta kuda Valthorne bergerak meninggalkan pelabuhan saat fajar musim dingin menyemburat di ufuk timur.Rembulan merah semalam telah tenggelam, digantikan langit kelabu yang membawa angin dingin khas Utara.Di dalam kabin yang hangat, Roselyn bersandar pada bahu Kaelus. Jemarinya yang terbalut sarung tangan beludru digenggam erat, seolah pria itu enggan membiarkan sejengkal jarak pun memisahkan mereka."Kau memikirkan ucapan Merran semalam, Rose?"Roselyn menghela napas tipis, matanya menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh embun es. "Tentang langit yang mencoba mengembalikan takdir awal. Iya, aku kepikiran.”“Kau tahu sudah banyak yang berubah dibanding masa lalu.”
Gemuruh guntur membelah keheningan di dalam kamar itu.Ledakan cahaya dari Jantung Emas Samudera pelan-pelan memudar, meninggalkan kehangatan magis yang kini mengendap di antara aromaterapi herbal yang pekat.Raja Odiley termenung sejenak. Kelopak mata Brenand sedikit bergetar, menatap sepasang netra hitam jernih yang selama 12 tahun ini ditunggu untuk terbuka kembali.Namun, Merran sama sekali tidak menoleh ke arah sang raja. Ekspresi wanita itu tampak teramat dingin, seolah Brenand hanyalah seonggok angin lalu.Tidak kuasa menahan diri, ia pun mendengus pelan, memprotes dengan nada getir yang bercampur rasa tidak terima yang kekanak-kanakan. “Aku yang menunggu
“Sebenarnya sejak kapan kau curiga aku juga kembali ke masa lalu?” tanya Roselyn sembari bersandar di dada Kaelus.Pria bermanik merah itu pun menatapnya sejenak, sebelum memeluk tubuh sang istri yang duduk di atas kedua pahanya. Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Kaelus sempat terdiam, jemarinya mengusap pelan helai rambut cokelat Roselyn.Kereta kuda yang sempat berguncang pun kini bergerak lambat, membelah hujan salju lebat yang menutupi jalur curam menuju wilayah perbatasan.“Kau mau jawab atau tidak?”Roselyn sedikit mendongak, memegangi pipi Kaelus dengan kedua telapak tangan yang mungil, sementara bibirnya cemberut, meminta jawaban.Kaelus mengecup dahi sang pujaan hati, lalu menyahut, “Sejak melihatmu di pesta kekaisaran.”“Ah, saat pertama kali bertemu, ya?” lanjut Roselyn, kelopak matanya berkedip heran.“Benar, Sayangku.”“Mustahil kau langsung tahu, ‘kan?”“Hm, kalau diingat-ingat, hari itu kau tampak murung. Bahkan seperti orang yang tidak nyaman berada di keramaian,” t
“Kepalamu akan langsung melayang kalau bergerak,” ancam Kaelus dengan pedang yang terhunus tepat di samping nadi sang penyusup.Pria di bawah bayangan pohon willow itu sempat terkejut. Kelopak matanya sedikit melebar menangkap pantulan cahaya dari bilah besi yang menempel erat di kulit leher. Ia tidak menyangka Kaelus bisa bergerak secepat ini dalam sunyi. Padahal beberapa saat lalu, dirinya sempat terkecoh hingga masuk kembali kamar dan mengunci pintu balkon.Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Ketegangan di wajah sang tamu tak diundang itu luruh. Ia terlampau santai untuk seseorang yang nyawanya berada di ujung tanduk."Kalau aku mati, maka kau sendiri yang akan kesulitan," sahut pria itu. Suaranya besar, tetapi terdengar begitu halus.Ia pun berbalik dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Cahaya bulan yang tipis akhirnya menyinari wajah tegas nan rupawan milik Brenand Cyruss, Raja Odiley.Kaelus tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Matanya kian menggela
Jeritan perawat memecah kesunyian pagi.Roselyn menjatuhkan pena yang digenggam. Sebelum sempat mencerna kalimat yang menyusul—tinta menciprat, membentuk bercak hitam di atas laporan yang belum sempat ditandatangani."Grand Duchess! Lady Lexcan sudah sadar!"Kursi kerja terdorong ke belakang dengan suara berderak keras. Roselyn sudah berlari sebelum benar-benar memutuskan untuk berlari, gaunnya melambai liar, melewati lorong yang terasa lebih panjang.Dua hari menunggu tanpa jawaban pasti dari para dokter, dua hari menahan napas setiap kali pintu Kamar Emerald berderak, akhirnya berujung pada satu kalimat yang membuat dadanya bergetar antara lega dan takut untuk berharap terlalu banyak.Ia sampai di depan Kamar Emerald
Air hangat yang mengalir dari kepala hingga ujung jari Roselyn tidak mampu menghapus rasa lengket yang masih membekas di ingatan.Ia menggosok telapak tangan berulang kali, meski noda darah yang mengering sudah lama luntur bersama sabun.Pelayan yang membantunya mandi tidak berani bersuara, hanya menunduk sambil sesekali mencuri pandang pada wajah sang Grand Duchess yang kosong menatap dinding kamar mandi.'Ini bukan pertama kalinya aku melihat darah karena diriku. Kalau Rieta sampai terluka, Baroness dan seluruh rakyat Utara akan mengutukku.'Diingatnya lagi sosok terakhir Vivianne, wanita yang dijuluki ‘Permata’ saja bisa menggila hingga meregang nyawa karena dirinya.Roselyn pun menutup mat
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper
Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k







