مشاركة

Api yang Tidak Padam

مؤلف: Rainey Alta
last update تاريخ النشر: 2026-07-17 08:01:45

Bulan telah bertahta di puncak langit, tetapi Raja Odiley masih terjaga.

Ia duduk di kursi dengan kaki terjulur ke atas meja. Cawan wine berada di satu tangan, sementara botol yang sudah setengah kosong digenggam tangan lainnya. 

Malam ini ia bertelanjang dada, hanya melilitkan se

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Janji Raja Odiley

    “Kepalamu akan langsung melayang kalau bergerak,” ancam Kaelus dengan pedang yang terhunus tepat di samping nadi sang penyusup.Pria di bawah bayangan pohon willow itu sempat terkejut. Kelopak matanya sedikit melebar menangkap pantulan cahaya dari bilah besi yang menempel erat di kulit leher. Ia tidak menyangka Kaelus bisa bergerak secepat ini dalam sunyi. Padahal beberapa saat lalu, dirinya sempat terkecoh hingga masuk kembali kamar dan mengunci pintu balkon.Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Ketegangan di wajah sang tamu tak diundang itu luruh. Ia terlampau santai untuk seseorang yang nyawanya berada di ujung tanduk."Kalau aku mati, maka kau sendiri yang akan kesulitan," sahut pria itu. Suaranya besar, tetapi terdengar begitu halus.Ia pun berbalik dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Cahaya bulan yang tipis akhirnya menyinari wajah tegas nan rupawan milik Brenand Cyruss, Raja Odiley.Kaelus tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Matanya kian menggela

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Penguntit Tampan

    Jeritan perawat memecah kesunyian pagi.Roselyn menjatuhkan pena yang digenggam. Sebelum sempat mencerna kalimat yang menyusul—tinta menciprat, membentuk bercak hitam di atas laporan yang belum sempat ditandatangani."Grand Duchess! Lady Lexcan sudah sadar!"Kursi kerja terdorong ke belakang dengan suara berderak keras. Roselyn sudah berlari sebelum benar-benar memutuskan untuk berlari, gaunnya melambai liar, melewati lorong yang terasa lebih panjang.Dua hari menunggu tanpa jawaban pasti dari para dokter, dua hari menahan napas setiap kali pintu Kamar Emerald berderak, akhirnya berujung pada satu kalimat yang membuat dadanya bergetar antara lega dan takut untuk berharap terlalu banyak.Ia sampai di depan Kamar Emerald

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Bayang-Bayang yang Tak Pernah Pergi

    Air hangat yang mengalir dari kepala hingga ujung jari Roselyn tidak mampu menghapus rasa lengket yang masih membekas di ingatan.Ia menggosok telapak tangan berulang kali, meski noda darah yang mengering sudah lama luntur bersama sabun.Pelayan yang membantunya mandi tidak berani bersuara, hanya menunduk sambil sesekali mencuri pandang pada wajah sang Grand Duchess yang kosong menatap dinding kamar mandi.'Ini bukan pertama kalinya aku melihat darah karena diriku. Kalau Rieta sampai terluka, Baroness dan seluruh rakyat Utara akan mengutukku.'Diingatnya lagi sosok terakhir Vivianne, wanita yang dijuluki ‘Permata’ saja bisa menggila hingga meregang nyawa karena dirinya.Roselyn pun menutup mat

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Musuh Kakaknya

    Bau anyir darah yang pekat beradu dengan aroma menyengat dari rebusan herbal di dalam Kamar Emerald. Ruangan luas berhiaskan permata hijau tua itu biasanya disediakan bagi tamu-tamu agung kerajaan. Namun sore ini, suasananya berubah mencekam, beralih fungsi menjadi ruang rawat dadakan."Anda juga harus diperiksa, Grand Duchess," ucap Mrs. Hargrove dengan wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam."Aku baik-baik saja.""Setidaknya, tolong ganti gaun Anda."Roselyn enggan menjawab. Pandangannya terpaku lurus ke depan.Begitu melangkah melewati pintu Kamar Emerald, dadanya seakan berhenti berdetak. Di atas ranjang, Rieta terbaring tengkurap. Kain-kain putih yang digunakan dokter untuk menyeka luka di punggung gadis itu dengan cepat berubah warna menjadi merah kehitaman.Putri Vogard berdiri mematung di dekat tempat tidur. Kedua tangannya bertaut erat, meremas kain gaunnya yang kini dikotori noda tanah dan bercak darah. Meskipun kulitnya sudah diseka dengan air hangat tadi, rasa lengket s

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Seseorang untuk Dibunuh

    Kereta kuda berlogo keluarga Lexcan telah bersiap di pelataran depan Kastil Valthorne. Udara sore itu masih terasa menggigit, membawa embusan angin dingin yang menerbangkan butiran salju tipis di sekitar tangga kastil. Baroness Lexcan yang kondisinya belum sepenuhnya pulih sudah berada di dalam kereta, menyisakan Rieta yang berdiri di luar untuk mengucapkan perpisahan terakhir kepada para penguasa Utara."Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Grand Duke," ucap Rieta, suaranya terdengar jernih di tengah deru angin. “Saya tidak akan sambutan hangat kalian.”“Maaf karena tidak bisa menjamu secara langsung selama kalian di sini.”“Tidak masalah, Grand Duke. Sekali lagi maaf atas perbuatan buruk kakak saya.”Kaelus hanya mengangguk kecil. Ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang buruk terhadap jiwa yang telah pergi.Di sisi lain, Roselyn berdiri di samping. Setelah ketegangan yang berhasil mereka urai di ruang kerja tadi pagi, kehadiran keduanya kini memancarkan ketenangan, membuat para pe

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Melelehkan Es di Balik Pintu

    Gagang pintu di depan terasa sedingin es saat jemari Roselyn menggapainya. Setelah Rieta berpamitan dan melangkah pergi menyusuri lorong dengan gaun duka, keheningan kembali memenuhi sudut Kastil Valthorne.‘Padahal bukan dia yang salah,’ gumamnya sambil mengingat Rieta yang meminta maaf hingga pundaknya tampak bergetar.Roselyn menunduk, memandangi nampan perak di tangan. Uap hangat dari hidangan sarapan mulai menipis, berpacu dengan udara musim dingin yang merayap dari balik jendela besar.Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa bersalah yang sejak semalam menyumbat dadanya. Panggilan formal "Grand Duchess" yang diucapkan Kaelus dengan begitu kaku kemarin masih menyisakan semburat kegitiran Namun, melihat kastil yang goyah pagi ini, Roselyn tahu ia tidak bisa terus bersembunyi di balik tameng trauma. Pemimpin Utara harus kembali rukun demi menjaga wilayah mereka. Mereka tidak boleh terus berjalan dalam ketegangan yang membekukan ini.Tok. Tok.Roselyn mengetuk pintu denga

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Gadis Tanpa Keluarga

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Fajar di Pelukanmu

    Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Kaelus Valthorne

    Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status