"Pa, Vanya berangkat dulu, ya," pamit Vanya menyalimi telapak tangan Henry. Henry melirik jam tangannya heran. "Lho, kamu nggak sarapan dulu? Devan juga belum datang menjemput." "Vanya diantar sopir saja hari ini, Pa. Terus mau sarapan bareng Siska di kantin," sahut Vanya, mencoba terdengar santai. Henry langsung menangkap gurat mendung di wajah putrinya. "Kalian sedang bertengkar?" selidiknya. Vanya menggeleng lesu. Ia menghela napas panjang mengingat bagaimana semalaman ponselnya sepi tanpa satu pun pesan atau telepon dari Devan. Padahal, meski hatinya sedang dongkol setengah mati, isi kepala Vanya justru dipenuhi rasa cemas memikirkan luka lebam di wajah pria itu. "Jangan bohong. Wajahmu itu tidak bisa menyembunyikan apa-apa," goda Henry. Vanya mengerucutkan bibirnya kesal. "Mas Devan menyebalkan, Pa! Pokoknya Vanya mau berangkat sama sopir saja. Terus, akhir pekan ini Vanya mau menjenguk Mama Kemuning di Bandung, ya? Boleh kan, Pa?" Henry terkekeh geli melihat
Read more