Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 115 MASA KECIL KENAN

Share

BAB 115 MASA KECIL KENAN

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-05-24 18:14:19

"Bagaimana kabarmu di Indonesia?" Suara seorang wanita dari seberang telepon terdengar begitu lembut dan menenangkan di telinga Kenan.

​"Baik, Ma. Mama health okay, right? How is Singapore?" sahut Kenan hangat.

​"I just miss you, Kenan. You suddenly decide to go back Indonesia after so long... Mama quite sad, you know? Cannot see you every day now," ujar wanita itu, menyuarakan kesedihan karena harus berpisah dengan putranya.

​"Singapura dan Indonesia itu dekat, Ma. Not that far, lah. I can alw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
kyara
wait, rossa adik kenan, gadis kecil itu aurel anak alaric, dan alaric yg terlibat kecelakaan rossa.. bisa jadii...makanya kenan dendam.. ahh tak sabar akupun..
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
masih terpendam teka teki kenan. go vanya devan semoga bersatu, ......
goodnovel comment avatar
Adilah Ismail
masih kabur utk memahami kenan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 121 KALAH LANGKAH

    "Char–lie?" Bukan nama itu yang Devan harapkan untuk mengetahui identitas pria yang keluar bersama Nathan dari lobi hotel. 'Kau yakin?" tanya Devan untuk memastikan. Namun, belum sempat Nathan menjawab, notifikasi dari ponsel Devan berbunyi. Satu pesan dari Vanya yang telah membuka blokirnya pada nomor laki-laki itu, menunjukkan titik lokasi keberadaannya saat ini. "Urusan kita belum selesai!" Ujar Devan hendak berlalu dari IGD. Namun, tangan Nathan menahan bahunya. "Kamu mau kemana? jangan bilang kalau mau jemput Vanya!" Geram Nathan. Mata Devan melirik tangan Nathan yang menahan bahunya lalu beralih menatap tajam wajah Nathan. "Kalaupun aku menjemputnya, apa urusannya denganmu? dia pacarku!" Nathan tertawa mengejek, "Pacar?" ulangnya masih dengan tawa yang meremehkan. "Vanya sudah bilang padaku kalau kalian sudah putus. Jadi, kita bersaing sekarang." Devan menepis kasar tangan Nathan dari bahunya, "Bersaing? kamu tahu dari dulu aku tidak suka persaingan." "Kenapa Devan

  • ANESTESI RINDU   BAB 120 TERHASUT

    Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan.​"Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekedar perhiasan dan foto biasa. Di dalamnya, aku menyimpan mikro-SD berisi salinan dokumen asli serta bukti kelicikan Hani yang memaksa Papaku menandatangani pengalihan aset perusahaan keluarga kami secara ilegal."​Devan merasa dunianya runtuh seketika. Kepalan tangannya yang semula siap menghantam Kenan perlahan mengendur, tubuhnya bergetar hebat di sepanjang jemarinya. Otak cerdasnya yang biasa tenang saat menghadapi situasi darurat di meja operasi, kini mendadak buntu.​Ia sudah kalah langkah. T

  • ANESTESI RINDU   BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

    Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan. Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya." "Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi. "Kamu serius?" Vanya tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya dari genggaman Devan dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Devan menatap pilu punggung Vanya yang menghilang di balik anak tangga dengan isakan tangis yang menusuk hati Devan. *** Devan mencengkeram kemudi dengan erat, menembus jalur tol Cipularang yang siang itu terasa begitu panjang. Di sebelahnya, kursi penumpang tetap kosong. Vanya benar-benar membuktikan ucapannya, gadis itu menolak pulang bersamanya. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya

  • ANESTESI RINDU   BAB 118 PUTUS

    Devan mengulurkan tangannya yang agak bergetar, membiarkan jemarinya menggantung beberapa senti di atas pipi Vanya. Ia ingin sekali mengusap sisa air mata yang mengering di sana, namun ia urungkan karena takut sentuhannya mengejutkan dan membangunkan tidur nyenyak gadis itu.​Keheningan kamar terasa mencekik bagi Devan. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia hanya bisa memandangi wajah wanita yang begitu ia cintai. “Mas Devan selalu mengundur jadwal fitting baju pengantin dengan alasan sibuk ini-itu... Pada akhirnya, semua ini selalu tentang Rossa!”​Untaian kalimat getir Vanya tadi pagi kembali terngiang, menorehkan rasa bersalah yang teramat dalam di dada Devan. Ia menghela napas panjang, menumpu sikunya di atas lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.​"Kamu salah Vanya, ini bukan tentang Rossa," bisik Devan teramat pelan pada kesunyian malam. "Ini tentang kamu. Tentang bagaimana caranya agar aku nggak kehilangan kamu."​Mendengar bisikan lirih itu, tubuh Vanya bergerak sed

  • ANESTESI RINDU   BAB 117 MEMBELAH MALAM KOTA BANDUNG

    Devan membeku di dalam mobilnya. Ia menyipitkan matanya sekali lagi untuk memastikan, namun laki-laki itu sudah terlanjur masuk kedalam mobil milik Nathan.Rahang Devan mengeras. Rasa tidak percaya berkecamuk hebat di dalam dadanya, melihat kenyataan pahit yang baru saja ada di depan mata.​Kalau benar pria itu adalah Adam, berarti Adam masih hidup. Dan dia ada di sana, masuk ke dalam mobil Nathan.​Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bersarang dalam benak Devan seolah menemukan jawaban. Perubahan sikap Nathan yang mendadak dingin, pukulan mentah yang ia terima hari itu, hingga fitnah di rumah sakit karena ulah Evelyn, semuanya didalangi oleh bajingan yang sama. Pria yang sekarang menumbuhkan kumisnya itu telah berhasil mencuci otak sahabatnya sendiri.​Melihat mobil Nathan mulai bergerak membelah pelataran lobi hotel mewah itu, Devan didera dilema yang luar biasa hebat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, bersiap menginjak gas untuk membuntuti kendaraan Nathan. Ia ing

  • ANESTESI RINDU   BAB 116 PRIA YANG BERSAMA NATHAN

    "Siska, dimana Vanya?" tanya Devan. Malam itu ia telah menghubungi Vanya berkali-kali, namun gadis itu tidak merespon panggilannya sejak pergi begitu saja dari ruang kerjanya tadi pagi. Seharian ini, Devan terus disibukkan oleh operasi dan juga rapat dengan para direksi. Membuatnya lagi-lagi harus membatalkan jadwal fitting baju pengantin, bahkan sampai melewatkan jam makan siangnya.Siska yang sedang merapikan lembar rekam medis di meja perawat seketika menegang begitu mendengar suara bariton yang sangat ia kenal. Ia menoleh perlahan, mendapati Devan berdiri di hadapannya dengan wajah lelah, kemeja biru yang lengannya sudah digulung hingga siku, dan masker medis yang kembali menutupi luka di wajahnya.​"Eh, Dokter Devan..." Siska menelan ludah gugup, melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari bantuan. "Dokter Vanya... sudah pulang dari sore tadi, Dok."​"Pulang ke rumahnya?" cecar Devan, melangkah satu kaki lebih dekat. Nada suaranya yang rendah justru terdengar menakutkan di teling

  • ANESTESI RINDU   BAB 39 AKU MERINDUKANMU

    Suasana hangat yang baru saja tercipta antara Devan dan Ibu Kemuning mendadak membeku. Kehadiran Evelyn di ambang pintu ICU bagaikan badai yang menghempas ketenangan ruangan yang steril itu. Dengan langkah yang angkuh dan sepatu hak tinggi yang berbunyi tajam di atas lantai, Evelyn mendekat, menata

  • ANESTESI RINDU   BAB 11 PERINTAH KELUARGA ALARIC

    Devan melajukan sedan hitamnya di tengah gerimis hujan. Ia menghembuskan nafas panjang mengingat kejadian di rumah Evelyn. Devan memahami situasinya, undangan makan malam ini, juga perintah penugasan ke Singapura adalah cara Dr. Gunawan untuk menjodohkan keponakannya, Evelyn, dengan dirinya.Begitu

  • ANESTESI RINDU   BAB 10 JAMUAN MAKAN MALAM

    Kediaman keluarga Harrington malam itu tampak benderang. Gerbang besi tinggi menjulang terbuka otomatis, menyambut sedan hitam Devan memasuki pelataran luas dengan air mancur bergaya Eropa di tengahnya. Devan menghentikan mobilnya, menatap sejenak bangunan megah di depannya dengan napas berat. Jika

  • ANESTESI RINDU   BAB 9 BERITA HEBOH

    "Apa yang kamu lakukan pada Vanya?" tanya Adam dengan suara meninggi, melangkah lebar mendekati tempat tidur. "Dokter Siska bilang dia pingsan di ruanganmu. Kamu menyiksanya dengan banyak tugas karena dia seorang residen kan?"​Devan berdiri perlahan. Tubuhnya yang lebih tinggi dan tegap menciptaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status