Devan berdiri tepat di depan Vanya, memangkas jarak hingga aroma musk dari parfumnya bercampur dengan dinginnya angin malam. Ia menyadari Vanya mulai menggigil karena hanya mengenakan baju tidur tipis, maka tanpa sepatah kata pun, Devan melepas sweater yang ia kenakan dan menyampirkannya ke bahu mungil gadis itu. "Dokter..." Vanya terpaku, tangannya refleks memegang kerah sweater Devan yang masih terasa hangat oleh suhu tubuh pria itu. "Angin di sini tidak bersahabat, kenapa kamu pakai baju setipis ini?" tanya Devan, suaranya melembut, sebuah nada yang belum pernah Vanya dengar selama mereka bekerja bersama. Vanya menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. "Maaf, dok. Saya terlalu mengkhawatirkan materi untuk besok sampai tidak bisa tidur, jadi saat Dokter telepon minta ada perbaikan, saya buru-buru kesini dan lupa ganti baju." Devan terdiam cukup lama, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Vanya yang jernih. Perlahan, ia mengulurkan tangan,
Last Updated : 2026-02-20 Read more