“Iya, aku ada di rumah sakit. Malam ini mungkin aku akan menginap di sini. Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, Papa menyelamatkanku. Iya, benar. Sampaikan salamku untuk Mama, aku tidak pulang malam ini. Apa? Kau dan Mama akan ke sini? Apa kau tidak sibuk? Oh, baiklah, aku tunggu kalau begitu. Iya, bye.”Ketika Hazel berbicara melalui sambungan telepon di sudut kamar rawat VIP yang tenang, dada Denzel berdesir hebat. Kalimat ‘Papa menyelamatkanku’ yang diucapkan Hazel barusan dengan begitu lugas benar-benar memantik rasa bangga yang luar biasa di lubuk hatinya. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun berlalu, Denzel merasa dirinya akhirnya berguna. Ia merasa benar-benar telah menjadi sosok ayah yang melindungi putrinya—meski itu baru terjadi sekali seumur hidupnya.Saat Hazel menutup telepon dan berbalik badan, Denzel mengembangkan senyum tipis di wajahnya yang masih agak pucat. Ia bertanya dengan nada lembut, “Apa itu suamimu?”Hazel mengangguk tipis sebagai jawaban
اقرأ المزيد