แชร์

Kontrak?

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-08 19:00:13
Sera melangkah gontai memasuki ruang koas, aroma antiseptik yang tajam menyambut indranya. Di tangan kanannya, ia memagang sebuah cup kopi. Sera menyesap cairan itu, berharap kafein segera memompa kesadarannya yang masih terasa tertinggal di bantal. Kepalanya masih menyisakan denyut samar, sisa dari tidur yang terlalu dalam.

Ia menjatuhkan diri di kursi, meletakkan cup kopi yang tinggal setengah, lalu meraih ponsel dari saku snelli. Ibu jarinya tertahan di atas nama 'Mas Rendra'. Ada keinginan
Adinasya Mahila

hari ini 2 bab aja ya geng ❤️❤️

| 22
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (13)
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
dah ngikut in aja sran evan ren pny ank ma sera eheh
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
wahhhh sbnr ny spa yg pngen Rendra temui d Amartapura it?? nahhh bnr kt Evan knp g jjur aj Klo emg udh cinta sm Sera??
goodnovel comment avatar
Adeena
semoga Rendra pulang dengan selamat
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tetap Keras Kepala

    Di dalam kamar perawatan Sintia. Keluarga wanita itu sudah datang. Ratu tampak melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh Eyang Utari di belakangnya. Sedangkan Dewa belum nampak batang hidungnya. Eyang Utari berjalan dengan langkah yang sedikit tergesa. Wajah senjanya dipenuhi kecemasan yang mendalam saat pandangannya terkunci pada sosok Sintia yang masih terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di punggung tangan. Wanita tua itu segera mengambil tempat duduk di kursi yang berada tepat di sisi ranjang. "Sintia... bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja? Bagian mana yang terasa sakit?" tanya Eyang Utari, suaranya bergetar pelan saat tangannya yang keriput meraih dan mengusap jemari Sintia yang terasa dingin. Sintia tidak langsung menjawab. Ia hanya diam mematung, memalingkan wajahnya ke arah lain seolah enggan menatap mata ibunya. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat, menyembunyikan emosi yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Melihat keterdiaman ibunya, Ratu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Obrolan Gen Z

    Erika duduk di depan Rendra dan Sera di salah satu meja bundar kantin rumah sakit. Beberapa saat yang lalu, setelah tertangkap basah membicarakan cowok keren di balkon lantai tiga, Rendra dengan santai justru mengajak dua wanita itu untuk minum kopi bersama. Namun, alih-alih santai, Erika langsung didera rasa takut yang luar biasa. Sepanjang duduk, kepalanya menunduk terus menatap permukaan meja, bahkan tidak berani menyentuh cangkir kopi di depannya. Tubuhnya sempat tersentak kaget saat suara berat Rendra memecah keheningan di antara mereka. "Jadi, siapa nama kapten tim bola basket yang kalian bicarakan tadi?" tanya Rendra, nadanya terdengar datar namun menuntut jawaban. Erika tersentak, bola matanya bergerak gelisah. Ia melirik Sera sekilas, merasa bingung dan bimbang apakah harus menjawab pertanyaan sensitif itu atau tetap diam. Namun, melihat tatapan mata Rendra yang lurus menghujam ke arahnya, ia akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan terbata-bata. "Na-namanya

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Ada Konsekuensi Dari Perbuatan

    Di dalam kamar perawatan VIP yang sunyi, aroma cairan antiseptik menguar tipis. Sintia berbaring di atas ranjang dengan separuh tubuhnya tertutup selimut. Wajah wanita paruh baya itu masih nampak pucat, menyisakan gurat syok yang teramat sangat. Selang infus terpasang di punggung tangan kanannya. Rendra melangkah mendekat ke sisi ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap ibunya datar. "Aku sudah menghubungi Papa. Orang-orang di rumah juga sudah dikabari mengenai kondisi Mama," ucap Rendra memecah keheningan. Sintia tidak menoleh. Sepasang matanya hanya menatap lurus dan datar ke arah pintu kamar rawat yang tertutup rapat, seolah sedang menunggu seseorang. Rendra menyadari arah pandangan ibunya. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Sera tidak mau masuk ke sini. Dia tidak ingin kehadirannya malah membuat kondisi Mama semakin memburuk." Mendengar nama itu disebut, Sintia tetap bergeming. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengalihkan pandangannya dari pintu menuju

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menunggu Di Luar Part 2

    Sera kemudian berbalik, menghampiri salah satu pengawal kepresidenan yang sejak tadi mengawasinya. "Saya izin pergi sebentar ke arah balkon luar bersama teman saya. Hanya di sekitar sini saja," pamit Sera sopan. Kedua pengawal itu saling berpandangan sejenak. Sorot mata mereka tampak ragu dan keberatan dengan permintaan Sera. "Mohon maaf, Nona. Perintah dari Pak Evan, Anda tidak diperkenankan meninggalkan area selasar ini tanpa pengawalan ketat demi keselamatan Anda." Sera mengembuskan napas perlahan. "Saya hanya akan berbincang sebentar di area sekitar sini, tidak akan keluar dari lingkungan rumah sakit. Tolong izinkan saya." Karena Sera tetap bersikeras, kedua pengawal itu akhirnya tidak bisa menolak sepenuhnya. "Baik, Nona. Kalau begitu, salah satu dari kami harus tetap mengikuti Anda dari belakang," ucap salah satu pengawal dengan tegas. Sera mengangguk pasrah. Ia berbalik dan memberi kode kepada Erika untuk berjalan bersamanya menyusuri koridor rumah sakit yang panjang.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menunggu Di Luar Part 1

    Sera mengerjapkan matanya, lalu menegakkan posisi duduknya. "Tolong sampaikan pada Nyonya Sintia untuk menunggu sebentar, saat ini Pak Presiden sedang menelepon," jawab Sera dengan nada suara tenang. Perawat itu menatap Sera sejenak. "Baik. Lalu, apa Anda tidak mau masuk terlebih dahulu untuk menemani beliau?" Sera menggelengkan kepala perlahan sambil mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Nanti saja. Yang penting kondisi Nyonya Sintia sudah baik-baik saja dan stabil." "Baik, kalau begitu saya permisi dulu," ucap perawat itu sembari membungkukkan badan sedikit, kemudian berbalik meninggalkan Sera sendirian di selasar tunggu yang sepi. Sera kembali menyandarkan punggungnya. Ia melipat kedua tangan di depan dada, menunggu dalam keheningan sampai akhirnya derap langkah kaki yang sangat ia kenal terdengar mendekat. Rendra berjalan kembali ke arahnya setelah menyelesaikan panggilan telepon dengan Dewa. Sera segera berdiri dari duduknya begitu Rendra berada di depannya.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Syok Sampai Jatuh Pingsan

    Sera berlari dan langsung menarik lengan Rendra tepat saat bilah pisau dihunuskan. Dengan napas terengah-engah, Sera memegang lengan Rendra, matanya bergerak liar memeriksa setiap inci tubuh suaminya dengan penuh kecemasan. "Mas baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Sera penuh kepanikan. Beberapa detik yang lalu Evan dan tim pengamanan kepresidenan menerobos masuk tepat waktu. Dengan gerakan yang sangat cepat, Evan melompat maju dan melayangkan tendangan lurus yang telak ke Ardan. Tubuh Ardan terpental ke belakang, menghantam meja kayu dan jatuh tersungkur di lantai. Namun, pisau di genggaman tangan Ardan rupanya belum terlepas. Wajah pria itu semakin menyala oleh kegilaan. Dengan raungan histeris, ia kembali bangkit, membalikkan tubuh, dan kali ini sasarannya berubah total. Ia mengayunkan pisaunya ke arah Sintia yang berdiri mematung di dekat dinding kaca. Sintia terbelalak, ujung pisau itu sudah melesat maju dan hampir menusuk dadanya. Namun, sebelum besi tajam itu merobek

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status