เข้าสู่ระบบEva Moreau melangkah masuk dengan anggun. “Salam, Duchess Isabella Laurent,” sapanya dengan senyum tipis yang sopan.“Sebuah kehormatan menerima kunjungan Anda, Lady Eva,” jawab Isabella tenang. Ia memberikan hormat formal dengan gerakan yang luwes, menunjukkan bahwa ia sudah belajar banyak etiket sejak kedatangannya ke istana.Isabela menyambut tamunya dengan sopan dan penuh keramahtamahan. Mereka duduk berdua di ruang tamu berhadapan.Kecanggungan merayap di antara mereka seiring dengan suara denting porselen saat Isabella menuangkan teh. Eva tidak langsung membuka percakapan. Tatapannya menelusuri setiap sudut ruangan, lalu mendarat pada wajah Isabella. Tatapannya sangat mirip dengan tatapan putrinya, Helena. Sementara itu, Isabella pun melakukan hal yang sama. Ia melihat kemiripan dari segala sisi dari wanita dewasa di depannya dengan sosok rivalnya. Eva Moreau memiliki fitur wajah yang sama dan warna irish mata yang sama dengan Helena, putrinya. Selain itu, Isabella sedang mem
Paviliun Honeysuckle,Isabella mengamati setiap barisan angka yang berada dalam laporan keuangan anggaran istana Rose. Ini baru satu berkas. Masih banyak berkas laporan lainnya.Meskipun ia sempat sakit akibat insiden tenggelam, ia tetap diberi kesempatan untuk mengaudit laporan keuangan Istana Rose. Alex telah meminta negosiasi dengan sang raja, meminta waktu tambahan untuk istrinya agar bisa mempelajari pembukuan.Isabella menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut. Pena bulu di tangannya menari-nari di atas perkamen, mencoret nominal yang tidak masuk akal. Ada banyak dana yang tidak tepat sasaran.Laporan keuangan yang ditinggalkan Helena bukan sekadar boros. Namun, itu adalah sebuah kekacauan yang disengaja.
Pintu Paviliun Rosemary terbuka dengan pelan. Eva Moreau melangkah masuk, langkahnya anggun dan tenang, sangat kontras dengan suasana paviliun yang dipenuhi ketegangan. Di sudut ruangan, Helena duduk meringkuk, menatap kosong ke arah jendela. “Sayangku,” suara Eva lembut, menyapa seperti embun pagi. Ia mendekat, lalu duduk di samping putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap rambut Helena yang kusut dengan jemari yang hangat. “Lihat dirimu... kau menyiksa dirimu sendiri.”Helena tidak menoleh, suaranya parau dan tajam. “Jangan datang jika hanya untuk menasihatiku, Ibu. Aku tidak butuh belas kasihan dan nasehatmu. Aku hanya butuh keadilan.”Eva menghela napas, sebuah helaan napas yang memikul beban berat. “Ibu tidak datang untuk menghakimimu. Ibu datang karena Ibu mengkhawatirkanmu. Alex tidak akan berubah jika kau terus mengusik wanita Laurent itu. Kau adalah istri pertamanya, Helena. Gunakan kelembutanmu, bukan kemarahanmu.”“Kelembutan?” Helena tertawa pahit, akhirnya menoleh
“Jadi namamu Mei Lin? Kau berasal dari mana?” tanya Isabella dilanda penasaran. Betapa tidak, penampilan Mei Lin sangat berbeda dari para wanita muda yang ia temui. Dia memang bermata sipit yang merupakan salah satu ciri fisik berasal dari Timur. Namun, postur tubuhnya sangat bagus, ramping dan berotot. Hal itu menandakan dia memang pandai bela diri. Lama, Isabella menatapnya. Mengejutkan, gadis itu seolah tahu kalau majikannya memang sedang mencari tahu tentang dirinya. Dia tidak merasa terusik sama sekali ketika ditatap oleh sang Duchess.Mei Lin justru membungkuk hormat. “Saya berasal dari negeri timur. Karena terjadi perang, kami berpindah-pindah tempat hingga kami tinggal di negeri ini. Hamba mengabdi pada pedagang sutra di Perbatasan Utara.”“Kemampuan bela dirimu tidak biasa. Siapa yang mengajarimu?” Isabella mengamati ekspresi wajahnya saat berbicara. Ia sedang membaca karakter gadis muda itu. Baiklah, aku akan simpan semua yang kulihat. Satu yang pasti …. Gadis ini seorang
“Alex, aku mohon. Untuk kali ini aku tidak setuju dengan keputusanmu. Aku … aku masih menghargai putri Helena. Dia istri pertamamu.” Isabella beralasan. Alex terdiam. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Isabella. Di kepalanya, ia hanya menginginkan Isabella sebagai istri satu-satunya. Ia menikah dengan Helena Moreau karena kepentingan politis dan balas jasa. Selebihnya, ia hanya menganggap wanita itu istri secara status di istana. Ia tidak pernah jatuh cinta padanya. “Dia sering mengusikmu. Tapi kau sama sekali tidak membencinya? Ya … dia memang istriku.” Isabella terdiam. Senyum tipis tersungging di wajahnya. “Aku tidak pernah membenci siapapun. Aku hanya membenci sikapnya yang selalu berusaha menyudutkanku. Aku tahu alasannya, dia sangat cemburu karena kehadiranku. Aku mengerti dia sangat mencintaimu, Alex. aku pun sadar diri. Aku hanya ingin hidup dengan damai di sini,di istana. Kita tidak perlu saling mengusik,”Alex tersenyum mendengar ucapan Isabella yang terde
…Sudah beberapa hari berlalu, Isabella terbaring di ranjang sang pangeran. Hari ke empat, demamnya berangsur turun. Kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Namun, meskipun demikian, ia tidak lantas bisa kembali ke paviliun Honeysuckle karena Alex mengurungnya di dalam kamar dengan penjagaan yang ketat. Isabella bangun terlambat karena sisa pengaruh obat semalam. Matanya memicing ketika melihat sinar matahai yang masuk lewat jendela raksasa yang sudah dibuka sejak pagi. Nyanyian suara burung kecil yang merdu saling bersahutan dengan suara desing baja yang beradu. Ia tidak tahu kalau tepat di bawah balkon, Alex sedang berlatih pedang bersama prajurit. Sebuah kegiatan rutin setiap hari. Pantas saja Alex memiliki masa otot yang bagus karena dia rajin berolahraga dengan berpedang dan berkuda setiap hari tanpa kenal jenuh. Karena dilanda penasaran, Isabella menegakkan tubuhnya, membetulkan jubah tidurnya kemudian berjalan menuju balkon. Ia melihat ke bawah untuk menonton suaminya yang sedang
“Apa? Dia meminta menu yang sama seperti menu yang aku makan?” Helena mendengus kesal setelah mendapat laporan dari Jehanne. Koki itu pergi melapor pada Helena di istana Rose saat malam ketika Isabella sudah tertidur. Ia merasa takut karena ancaman Isabella yang terlihat serius dan tidak main-main
Jamuan pagi telah usai. Isabella keluar dari balairung istana Ashmond ditemani pelayan wanita muda bernama Mona. Gadis itu bertugas melayaninya selama tinggal di paviliun Honeysuckel. “Nyonya, maafkan hamba tidak tahu kalau Anda sedang sakit. Jika tahu, hamba akan membuatkan minuman herbal untuk A
Alex mulai mendaratkan kecupan singkat di ceruk leher Isabella. Seketika kepala gadis itu kosong. Ia harus melakukan sesuatu atau ia kehilangan kendalinya. Alex mulai melonggarkan ikatan jubah tidurnya sendiri, memperlihatkan perut rata dengan kontur otot yang jelas. Untuk sesaat, Isabella terman
“Apa yang kau katakan tadi?” tanya Alex singkat. Tatapannya tertumbuk ke arah pengawalnya. Pengawal itu menelan salivanya sebelum menjawab. Ia mengangkat mata lalu berusaha menjawab. “Duchess Isabella tampak bahagia ketika mendengar Yang Mulia tidak akan datang malam ini.”Seketika udara terasa me