"Aris, ayo bangun, kita makan siang dulu! Kita sudah menyiapkan semuanya di bawah," bisik suara Nikita yang lembut, namun bagiku terdengar seperti melodi dari sebuah sandiwara yang sudah kupahami skenarionya.Aku membuka mata perlahan, menatap wajahnya yang kini terlihat sangat manis dan penuh kasih sayang. Tangannya yang lentik masih meraba dadaku, menyusup ke balik kaos tipisku, memberikan sensasi yang seharusnya menggoda, namun kini hanya menyisakan rasa mual di perutku."Iya, Bu... sebentar, aku mau mandi dulu biar lebih segar," jawabku dengan nada yang kupaksakan selembut mungkin."Ya sudah, kalau begitu Mama tunggu di bawah, ya," ucapnya seraya mengecup keningku singkat sebelum beranjak pergi dan menutup pintu kamar dengan pelan.Aku masih berbaring beberapa saat, menatap langit-langit kamar ini yang mewah. Aku benar-benar muak. Setiap helaan napasnya, setiap senyuman manisnya, semuanya adalah kebohongan yang dirajut untuk menjeratku. Namun, aku sadar, dalam permainan ini, aku
Last Updated : 2026-04-25 Read more