Tanpa membuang waktu, aku langsung memutar arah motorku.Aku memacu motorku dengan kecepatan penuh, membelah udara siang yang terik menuju Jalan Karet. Pikiranku terus tertuju pada pesan singkat dari Risma. Dalam benakku, aku sudah membayangkan yang tidak-tidak; Risma tergeletak di aspal panas, sepedanya hancur, atau mungkin dia sedang menangis menahan sakit. Tapi, setibanya aku di hamparan perkebunan karet yang cukup sepi, aku menghentikan motor secara mendadak.Jalanan ini lurus, diapit oleh barisan pohon karet yang rapat dan mencekam. Namun, aku sama sekali tidak melihat keberadaan Risma. Tidak ada sepeda, tidak ada tanda-tanda kecelakaan. Kecemasanku mendadak berubah menjadi waspada. Aku terus menelusuri jalan dengan perlahan, hingga di depan sana, sebuah batang pohon besar melintang, menghalangi seluruh badan jalan. Aku mematikan mesin motor. Sesaat sebelum kaki kiriku menapak tanah untuk turun, ekor mataku menangkap pergerakan di balik semak-semak yang rimbun."Sial," um
Last Updated : 2026-05-06 Read more