Mata Nikita berbinar mendengar usulanku. "Ide bagus, Aris! Kalau gitu kamu saja yang atur semuanya. Mama memang nggak mungkin turun langsung setiap hari, jadwal Mama sangat padat. Nanti Mama sekalian kirim uang belanja sembakonya ke rekeningmu, ya. Kamu yang belanja, kamu yang bagi-bagi, tapi pastikan mereka tahu itu semua atas namaku.""Siap, Bu. Nanti akan aku belikan sembako dalam jumlah besar. Sekalian aku pantau desa kita, apa yang kurang. Renovasi masjid biasanya lebih diperlukan, dan memperbaiki beberapa lubang jalan yang mulai rusak," jawabku, mencoba memancingnya mengeluarkan uang lebih banyak."Lakukan saja, Ris. Pantau langsung kondisinya, lalu kasih tahu Mama apa saja yang warga butuhkan. Jangan ragu soal biaya, yang penting citra Mama di mata mereka bersih dan mulus," sahut Nikita penuh ambisi.Aku mengangguk, namun di balik kacamata hitamku, mataku menatap tajam ke depan. Dengan cara ini, Nikita akan semakin percaya padaku. Dia mengira aku adalah alat publikasinya yang
Last Updated : 2026-05-01 Read more