“Ah, Den Devan bisa saja,” sahut Sarinten dengan wajah tersipu malu.“Nggak usah, Ten, sudah malam kamu tidur saja, lagian aku juga sudah kenyang,” jawab Devan tiba-tiba. Nada suara Devan berubah menjadi serius, tadinya dia sempat ingin menggoda Sarinten akan tetapi karena teringat dengan perkataan Mita di kafe, dan hal itu membuat Devan merasa tidak nyaman.“Ya sudah kalau Den Devan nggak mau, aku lanjut tidur dulu,” pamitnya pada Devan.Devan hanya melambaikan tangannya tanpa menjawab perkataan Sarinten. Usai menikmati makanan di meja makan, Devan pergi ke kamar, ketika melewati pintu kamar Amina Devan mendengar erangan Amina di dalam kamar.“Ah, Pak, ooh, ohh, Pak pepekku panas, oohh, ohhh,” erang Amina di balik pintu dalam kamar.“Katanya tadi Ibu kelelahan, oh, ohh, ohh, nggak tahunya minta genjot juga di tengah malam begini, oh, Bu, ooh, bulu pepek Ibu tebal sekali, ooh, seksi sekali Bu,” timpal Darto sambil menyodok liang intim Amina yang kini mengangkang
Mehr lesen