MasukPuas melakukan hubungan intim dengan Darto, Amina segera membetulkan kembali bajunya bagian atas sementara roknya dia biarkan terbuka dari sisi pinggang ke bawah. Sepertinya Amina sengaja melakukan itu untuk menunjukkan bulu-bulu tebal pada area intimnya pada Darto.
Darto masih terengah-engah mengatur napas, dia sedang berjalan dengan baju berantakan menuju ke arah dispenser untuk mengambil air minum. Saat selesai meneguk air dalam gelas dia menoleh ke arah Amina yang masih rebahan dengan"Kenapa malah bahas Mami?" Tanya Devan dengan suara gagap. Devan segera beranjak berdiri lalu pergi keluar dari dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya. Yuyun hanya menutupi tubuh telanjang miliknya dengan sehelai kain di atas ranjang. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. "Selalu saja kabur, tiap aku bahas tentang perbuatannya selalu saja kabur!" Omel Yuyun pada dirinya sendiri. *** Setelah membersihkan tubuhnya Devan segera pergi ke ruang makan. Dia sudah lapar sekali karena sejak sore sama sekali belum menelan sebutir nasi. Anto sejak tadi juga makan di dapur sambil mengobrol dengan Sarinten. Mendengar seseorang duduk di kursi ruang makan, Anto segera berdiri untuk melihat, ternyata Devan yang duduk di sana. Tak lama setelah itu Wati datang dan ikut bergabung dengan Devan. "Kenapa Bang? Yuyun marah lagi?" Tanya Wati. "Nggak, kenapa Yuyun marah?" Devan mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Yuyun langsung menarik kedua tangannya dari genggaman Devan."Selama ini nggak ada cinta dan perasaan tulus antara aku sama Mas Devan, untuk apa Mas Devan merasa bersalah? Sejak awal hubungan pernikahan antara kita hanya hubungan palsu." Devan terdiam, dia menatap wajah Yuyun seraya menghela napas panjang."Aku tahu kamu mikirnya begitu, pasti kamu bakalan bilang perasaan antara kita nggak nyata, setiap saat kamu mengatakan itu untuk menegaskan kembali tentang ikatan pernikahan kita, tapi bagiku kamu adalah istriku, satu-satunya wanita yang memang aku mau dari dulu," ujarnya. Devan menatap celana dalam Yuyun, dari posisinya sekarang selangkangan istri cantiknya itu terlihat jelas dan sangat menggoda."Hemh!" Dengus Yuyun sambil melipat kedua tangannya.Devan tidak sabar terus dicueki oleh Yuyun, dia segera berdiri kemudian menggenggam kedua bahu Yuyun dan dia tekan ke ranjang. Kedua kaki Yuyun masih menggantung di lantai kamar."Mas, mau ngapain?!" Tanya Yuy
"Ya sudah kalau begitu, Rinten nggak akan ikut campur lagi," jawab Sarinten seraya melenggang pergi. Kini Yuyun sendirian di ruang makan.Yuyun meneguk air dingin dari dalam gelasnya. Yuyun malas mengurus pekerjaan di kantor Rangga, bahkan besok dia juga tidak memiliki rencana untuk pergi mencari klien seperti hari ini. "Baguslah, kalau Mita datang ke rumah, artinya dia berusaha keras sampai mati-matian untuk mendapatkan apa yang dia mau, dengan begitu aku juga nggak perlu repot-repot nyari penyelesaian tentang proyek di kantor." ***Di ruangan utama, Devan terus menolak permintaan Mita untuk menceraikan Yuyun."Mas Dev, aku kurang apa sih? Kalau Mas butuh uang atau semua hal tetek bengek yang Mas butuh, aku bisa kasih!" Ujarnya pada Devan dengan blak-blakan.Devan mengernyitkan keningnya."Maaf Mit, aku bersedia berteman sama kami bukanya butuh apa-apa sama kamu. Keluargaku juga bukan keluarga yang miskin-miskin banget, Ibu sambung aku punya tujuh
Hardi mengukir senyumnya."Ya, saya memang sibuk hari ini, tapi tidak masalah jika saya ingin melihat kerjasama seperti apa yang Bu Yuyun tawarkan?" Tanyanya dengan sungguh-sungguh.Yuyun segera memberikan proposal yang dia bawa pada Hardi.Pria tersebut tampak memperhatikan isinya dengan seksama."Kemarin saya sebenarnya sudah mendapatkan klien, tapi tiba-tiba klien menarik kembali lalu membatalkan perjanjian secara sepihak, klien tidak memberikan alasan apapun. Saya sangat bingung proyek ini harus tetap dikerjakan karena semuanya sudah disiapkan untuk diluncurkan minggu depan," jelasnya.Hardi terlihat seperti mengetahui sesuatu, dia segera bertanya pada Yuyun."Kalau boleh tahu siapa klien yang sebelumnya bersedia mengerjakan proyek ini?" Tanyanya."Pak Mohan, beliau dari perusahaan Surabaya, Pak. Saat itu kami bertemu dalam acara seminar di Yogyakarta." Hardi manggut-manggut. Lima hari yang lalu Hardi tanpa sengaja bertemu dengan Mohan, pria yang
Samsudin memonyongkan bibirnya, dia kesal sekali. Ingin sekali rasanya dia memukuli orang yang ikut menyahut dalam percakapan antara dirinya dan Narti."Ngapain ikutan nimbrung!" Dumelnya."Kamu duda sekarang? Pantesan dari berangkat tadi muka kamu asem banget!" Celetuk Nardi sambil cengar-cengir menertawai sikap Samsudin."Ngapain kamu ke sini? Sana kerja!" Usir Samsudin pada Nardi."Narti nolak kamu, Sam?" Lanjut Nardi dengan ekspresi wajah menahan tawa."Aku nggak ngajak Narti nikah, aku cuma mau dia cerita tentang masalahnya biar lega, tapi kalau nggak mau ya sudah. Keputusan Narti juga terserah Narti, masa aku mau maksa-maksa," ujar Samsudin."Memangnya dia ngomong sama kamu kalau dia ada masalah? Jangan-jangan kamu besar kepala, terus pas dia cemberut kamu pikir dia ada masalah dan nebak-nebak seenak jidat kamu?" Samsudin termenung sesaat lalu menggaruk keningnya sendiri."Iya juga sih, ya pokoknya begitu! Dah sana! Pergi kamu! Bikin perasaank
Narti terus memikirkannya, sebenarnya siapa yang sudah jatuh cinta pada Anto? Setelah bertengkar dengan Anto, Narti memutuskan langsung pergi ke peternakan. Di rumah Anto, pria tersebut masih tiduran di sofa. Dia juga sedang memikirkan perkataan Narti tadi. Narti benar-benar terlihat marah dan kesal padanya. "Narti benar-benar marah sama aku? Apa jangan-jangan dia cemas kalau aku mutusin cerai? Kayaknya nggak gitu, malahan dia bilang terserah aku mau ngapain," gumam Anto pada dirinya sendiri. *** Narti sejak tadi sedang dalam perjalanan menuju ke peternakan. Setibanya di peternakan, dari posisinya berdiri sekarang dia melihat Susanti berjalan di dekat gudang peralatan sudah mendorong peralatan menuju ke kandang untuk memerah susu. Narti baru saja melewati gerbang pintu masuk. Dia berjalan perlahan menuju ke ruang ganti untuk berganti dengan baju pegawai. Narti mendengar suara motor dari belakang punggungnya. Motor tersebut
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe







