Tangan besar Domenico masih mengunci pinggul Vittoria, menahannya agar tidak mundur sejengkal pun."Kamu terlalu berani untuk seorang wanita yang baru saja menggadaikan masa depannya," bisik Domenico. Napas hangatnya beraroma wiski dan tembakau mahal, mengusap rahang Vittoria.Vittoria menengadahkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata gelap pria yang telah menghancurkan suaminya itu. Tidak ada lagi ketakutan di sana, hanya api ketabahan yang membara."Aku tidak menggadaikan masa depanku, Domenico," jawab Vittoria, suaranya tenang namun tajam. "Aku membeli kebebasan ayahku dan mengambil tempat yang seharusnya milikku."Domenico terkekeh rendah. Tangan kanannya bergerak naik, jemarinya yang kasar mengusap tulang pipi Vittoria, menelusuri leher halus wanita itu hingga berhenti di tali gaun sutranya."Kamu selalu mencari alasan untuk membenarkan gairahmu sendiri, Vittoria," gumam Domenico. Dengan satu gerakan lambat, ia menurunkan tali gaun itu dari bahu Vittoria. Kain sutra halus itu
Mehr lesen