MasukAroma mesiu dan bau amis dari noda darah di atas marmer masih menusuk hidung, namun Domenico tidak membuang waktu. Pria itu sudah berada di depan panel kontrol dinding, memicu protokol pembersihan darurat.Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, tim pembersih internal Cavaliere Holdings berpakaian serba hitam tanpa identitas melangkah masuk melalui tangga darurat. Dengan presisi militer yang senyap, mereka mengangkat dua mayat pengawal, mengobati satu yang pingsan, dan merestorasi area penthouse seolah pertumpahan darah tak pernah terjadi di sana.Vittoria berdiri di dekat pembatas kaca, mengamati gerak-gerik tim tersebut dengan jemari yang saling bertaut kencang. Pertahanan mentalnya hampir habis, tetapi insting bertahan hidupnya memaksa pikirannya tetap jernih.Domenico menghampirinya, menyerahkan segelas wiski tanpa es."Minum ini," perintahnya pendek. Suaranya sudah kembali tenang, tetapi mata gelap itu menyimpan kewaspadaan seorang predator yang siap menerkam kembali.Vittor
Ancaman Don Alessandro menggantung di udara bagaikan kabut beracun. Empat moncong pistol bersilenser masih terkunci lurus ke arah dada Domenico dan Vittoria. Setiap detik terasa ditarik ulur, pekat oleh ketegangan yang siap meledak menjadi pertempuran berdarah. Vittoria merasakan dingin merayap dari telapak kakinya. Nama keluarganya ayahnya kembali diseret ke dalam jurang kehancuran. Namun sebelum ketakutan berhasil melumpuhkan pikirannya, genggaman tangan Domenico di jemarinya mengetat, menyalurkan dominasi yang tak tergoyahkan. "Menyentuh keluarga Conti berarti menyatakan perang denganku, Kakek," suara Domenico meluncur sedingin es, tanpa getaran sedikit pun. "Dan kamu tahu betul bahwa aku tidak pernah menyisakan musuh dalam perang." Marcello terkekeh sumbang, mencoba menutupi kegugupannya di balik senyum culas. "Kamu sendirian di sini, Domenico! Pengawalmu di lantai bawah sudah dilumpuhkan oleh orang-orang kami. Kamu tidak punya kartu untuk dimainkan lagi!" "Kamu yakin?" Domeni
Cahaya matahari musim gugur yang pucat menembus kaca raksasa, memantulkan bayangan dua cangkir porselen berisi espresso yang membiarkan asapnya menguap di atas meja marmer.Vittoria sudah mengenakan setelan blazer dan rok pensil berwarna putih gading, anggun, kaku, dan siap berperang. Di hadapannya, tiga berkas tebal berstempel Cavaliere Holdings dan dokumen pembatalan Project Vanguard telah ditandatangani dengan tinta hitam yang masih segar.Domenico berdiri di dekat jendela, mengancingkan manset kemeja hitam mewahnya. Wajahnya yang semalam terbakar gairah kini kembali sepenuhnya menjadi topeng es Domenico Cavaliere yang tak tersentuh."Pengacara pribadi keluarga Conti sudah menerima pengalihan saham secara penuh sepuluh menit yang lalu," kata Domenico, suara beratnya stabil tanpa cela. "Ayahmu resmi aman dari jeratan kebangkrutan Lorenzo. Janjiku lunas."Vittoria merapikan kerah blazernya, mengangkat wajahnya yang dingin. "Dan janjiku juga lunas. Aku milikmu di atas kertas, Domenico
Tangan besar Domenico masih mengunci pinggul Vittoria, menahannya agar tidak mundur sejengkal pun."Kamu terlalu berani untuk seorang wanita yang baru saja menggadaikan masa depannya," bisik Domenico. Napas hangatnya beraroma wiski dan tembakau mahal, mengusap rahang Vittoria.Vittoria menengadahkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata gelap pria yang telah menghancurkan suaminya itu. Tidak ada lagi ketakutan di sana, hanya api ketabahan yang membara."Aku tidak menggadaikan masa depanku, Domenico," jawab Vittoria, suaranya tenang namun tajam. "Aku membeli kebebasan ayahku dan mengambil tempat yang seharusnya milikku."Domenico terkekeh rendah. Tangan kanannya bergerak naik, jemarinya yang kasar mengusap tulang pipi Vittoria, menelusuri leher halus wanita itu hingga berhenti di tali gaun sutranya."Kamu selalu mencari alasan untuk membenarkan gairahmu sendiri, Vittoria," gumam Domenico. Dengan satu gerakan lambat, ia menurunkan tali gaun itu dari bahu Vittoria. Kain sutra halus itu
Keheningan di ruang kerja itu terasa menghimpit. Tatapan Domenico terkunci rapat pada mata Vittoria, menunggu jawaban dari wanita yang kini sepenuhnya terpojok di balik dinding kaca.Vittoria menatap pria di hadapannya. Rasa benci, amarah, dan gairah gelap yang sulit dijelaskan bertarung hebat di dalam dadanya. Domenico telah memperhitungkan segalanya dengan presisi yang mengerikan, menghancurkan Lorenzo, mengepung keluarga Conti, dan kini menawarkan jalan keluar yang bertopeng mahkota."Kamu ingin aku menjadi istrimu?" suara Vittoria akhirnya terdengar, pelan namun jernih, tanpa getaran ketakutan lagi."Aku menginginkan ketundukan mutlakmu, Vittoria. Di dalam dokumen hukum, di atas tempat tidur, dan di hadapan dunia," jawab Domenico, mengusap rahang Vittoria dengan jari-jarinya yang hangat. "Nama Cavaliere bukan sekadar nama. Itu adalah perisai sekaligus senjata."Vittoria menghembuskan napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kendali atas dirinya sendiri. Jika ia harus menyera
Suara langkah kaki yang mantap dan berat bergema di atas lantai marmer, mendekati ruang kerja.Vittoria tidak panik. Ia tidak mencoba menutup map itu atau melarikan diri kembali ke ruang tengah. Meski berbahaya, ia berusaha untuk tenang, ia tetap berdiri tegak di balik meja kayu jati raksasa tersebut, membiarkan map merah bertuliskan Project Vanguard tetap terbuka lebar di bawah jarinya.Pintu kaca bergeser terbuka.Domenico melangkah masuk, melepaskan kancing kemeja teratasnya dengan satu tangan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Vittoria yang berdiri di area pribadinya. Tatapannya meluncur turun ke map merah di atas meja, dan seketika itu juga, atmosfer di ruangan tersebut berubah menjadi dingin."Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan hal konyol, Vittoria," ujar Domenico. Suaranya rendah, halus, namun menyimpan bahaya yang nyata."Konyol?" Vittoria tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan tajam. Ia mengangkat lembaran kertas dari berkas keluarganya.
Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia
Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan keha
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian







