LOGINMalam merayap makin pekat di atas kota Milan. Kemenangan mutlak atas Marco Rossi di gerbang pabrik Monza tidak serta-merta membawa ketenangan. Di dalam kabin kedap udara mobil mewah yang meluncur membelah jalanan basah menuju kawasan elit Brera, atmosfer justru terasa kian mencekam.Vittoria menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, matanya menatap pendar lampu-lampu jalanan yang membias di kaca mobil. Sarung tangan kulit hitamnya masih menempel kaku di pangkuannya."Don Alessandro tidak akan membiarkan kekalahan Rossi berlalu begitu saja," ujar Vittoria, memecah keheningan. Suaranya tenang, namun sarat akan kalkulasi yang tajam. "Rossi adalah sekutu rahasia kakekmu untuk menekan konsorsium utara. Begitu Antonio Rossi tahu dia ditipu oleh berkas kosong, dia akan menagih ganti rugi pada kakekmu."Domenico yang duduk di sebelahnya tidak memalingkan wajah dari layar tablet di tangannya. Jemari panjangnya menari di atas layar, memindai laporan transaksi pasar gelap yang baru saja diki
Awan hitam menggelantung rendah di atas kawasan industri Monza, membentangkan kabut tipis di sepanjang gerbang utama kompleks pabrik Conti Logistics. Kompleks bernilai puluhan juta euro itu adalah jantung distribusi bahan baku utara Italia, aset paling berharga yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Vittoria dan Domenico.Di luar pagar besi raksasa yang terkunci rapat, lima mobil SUV hitam berlogo keluarga Rossi terparkir melintang, memblokir jalan akses utama.Belasan pria bertubuh kekar dengan mantel kulit gelap dan senjata api terselip di balik jas berdiri mengepung gerbang. Di barisan paling depan, berdiri Marco Rossi, putra mahkota keluarga Rossi yang terkenal sadis, memegang cetakan salinan dokumen jalur distribusi Conti yang baru saja ia rebut dari Lorenzo."Buka gerbangnya!" teriak Marco dengan nada angkuh, menghentakkan kakinya ke tanah. "Atas nama konfrontasi klaim keluarga Rossi, pabrik dan seluruh jalur distribusi ini resmi disita sebagai jaminan utang Lombardi Group
Aroma antiseptik dan cairan pembersih yang menyengat memenuhi lorong sempit rumah sakit umum di pinggiran kota Milan. Tempat ini kumuh dan remang-remang, sangat kontras dengan kemewahan penthouse milik Domenico atau ruang rapat Cavaliere Holdings.Domenico melangkah membelah lorong dengan mantel hitamnya, diikuti oleh Vittoria yang mengenakan gaun merah darah. Dua pengawal pribadi mereka berjalan sigap di depan, melumpuhkan dua pria berpakaian jaket kulit, orang-orang Rossi yang ditugaskan mengawasi kamar Lorenzo agar pria itu tidak melarikan diri tanpa menimbulkan kegaduhan.Enzo mendorong pintu kamar nomor 104 hingga terbuka lebar.Di atas tempat tidur besi kusam, terbaring Lorenzo Lombardi. Tubuhnya dalam kondisi mengenaskan, wajahnya lebam kebiruan, hidungnya dipasangi penyangga, salah satu kakinya digantung gips, dan dadanya terbungkus perban ketat akibat patah tulang iga.Lorenzo meringis saat mendengar pintu terbuka. Matanya yang bengkak melebar kengerian ketika melihat dua sos
Cahaya siang menerobos masuk dari dinding kaca raksasa lantai lima puluh, membiaskan pendar kemewahan di atas meja kayu mahoni yang kini berantakan. Berkas-berkas saham yang tadi pagi dibahas oleh belasan anggota dewan berserakan di atas karpet tebal, menjadi saksi bisu dari pergumulan panas dan dominasi yang baru saja usai.Vittoria menyandarkan dadanya yang masih naik-turun pada dada bidang Domenico. Keduanya masih berada di atas meja rapat raksasa itu. Kemeja hitam Domenico terbuka lebar, memperlihatkan otot dadanya yang berkeringat tipis. Tangan besar pria itu melingkar erat di pinggang telanjang Vittoria, enggan memberi jarak meski ketegangan telah mengendur."Kamu ber berani sekali, Nyonya Cavaliere," bisik Domenico, jemarinya mengusap lembut garis punggung mulus Vittoria yang terekspos di balik gaun merahnya yang setengah terbuka. Suaranya serak, sarat akan kepuasan murni. "Membiarkan suamimu mengambilmu di atas meja dewan direksi."Vittoria membuka matanya perlahan. Ia tidak m
Pintu ganda ruang rapat lantai lima puluh terkunci rapat dari dalam dengan dentang berat. Suara histeris Marcello yang diseret di koridor luar perlahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang begitu pekat dan sarat akan ketegangan.Di dalam ruangan megah itu, sisa-sisa aroma konspirasi dan parfum mahal para anggota dewan masih menggantung di udara.Domenico tidak beranjak dari posisinya yang berlutut di hadapan Vittoria. Jemari besarnya yang kuat masih mencengkeram jemari kiri Vittoria, menahan wanita itu di atas kursi kulit kebesarannya. Matanya yang gelap, yang baru saja membantai karier politik pamannya tanpa berkedip, kini terkunci lurus pada bibir merah darah milik istrinya."Kamu melihat cara mereka menatapmu tadi, mia regina?" bisik Domenico, suaranya turun menjadi nada rendah yang menggetarkan dada. "Mereka ketakutan. Pria-pria tua yang menguasai bursa saham Milan gemetar di depan seorang wanita bergaun merah."Vittoria menunduk, menatap pria yang mengurung kakinya di antara k
Wajah Marcello berubah dari pucat menjadi merah padam, lalu hijau kelabu. Napasnya memburu, matanya membelalak tak percaya menatap lembaran dokumen bernoda segel hukum resmi yang dibeberkan Vittoria di atas meja mahoni."Ini penipuan! Ini konspirasi kotor!" raung Marcello, menepuk meja dengan kedua telapak tangannya hingga cangkir-cangkir porselen di hadapan para anggota dewan berdenting kencang. "Bagaimana bisa wanita ini, bekas istri bajingan Lombardi, memegang sepuluh persen saham mengambang Konsorsium Utara?! Itu tidak sah!""Jaga lidahmu, Marcello," suara Domenico meluncur pelan, namun getaran dingin di dalamnya membuat dua anggota dewan tertua di sebelah kiri refleks menarik kursi mereka ke belakang.Domenico melangkah melintasi karpet tebal, berdiri tepat di belakang kursi Vittoria. Kedua tangannya yang kokoh hinggap di sandaran kursi istrinya, memagari Vittoria dengan aura dominasi mutlak yang tak tergoyahkan."Dokumen itu disahkan oleh Notaris Negara dan Bank Sentral Milan te
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan







