Suasana di dalam ruangan itu kini berubah menjadi horor yang nyata. Bau logam dari gunting perak itu seolah tercium tajam di antara aroma kopi dan parfum yang memenuhi ruangan. Maudy, yang berdiri beberapa langkah di belakang Bayu, mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal. Matanya bergerak gelisah, menatap Cindy yang sudah kehilangan kendali diri, lalu beralih ke arah Bayu.Dengan gerakan yang sangat halus, Maudy menyentuh lengan Bayu, memberikan kode melalui tatapan matanya agar Bayu melangkah maju secara perlahan. Dia berharap Bayu bisa merayu Cindy, membujuknya dengan kata-kata manis agar benda tajam itu menjauh dari tubuhnya."Cindy... tolong. Letakkan guntingnya. Kita bicara lagi, oke? Apa yang kamu mau? Kamu mau liburan? Kamu mau mobil baru? Apa pun, Cindy. Aku akan berikan apa pun asal kamu letakkan benda itu,” suara Bayu kini merendah, terdengar sangat hati-hati seperti sedang membujuk seekor binatang yang terluka.Cindy menggelengkan kepala dengan kuat, membuat rambu
Read more