Share

Bab 292

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-05-29 20:10:26

Sementara itu, di dalam kamar utama lantai atas yang terisolasi dari suara bising dunia luar, suasana ruangan terasa kian mencekam dan sarat akan kelicikan. Alena duduk di tepi ranjang dengan jemari yang terus-menerus mengetuk permukaan kasur secara tidak beraturan. Kegelisahan dan ketidaksabaran terpancar jelas dari sepasang matanya yang terus melirik ke arah jam dinding perak yang berdetak konstan.

​Ponsel di tangannya bergetar singkat, menampilkan satu pesan teks baru dari nomor Rio. Dengan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 305

    Maudy berdiri diam di koridor selama beberapa saat, menatap pintu lift yang kini telah tertutup rapat. Kepergian Alena dan Pradipta meninggalkan rasa hampa yang melegakan di udara. Badai yang sejak kemarin mengguncang fondasi hubungannya dengan Bayu akhirnya benar-benar berlalu, menyisakan ketenangan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.​Dengan langkah yang lambat dan anggun, Maudy memutar tubuhnya kembali ke arah pintu ruang kerja Bayu. Ia mendorong daun pintu itu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini terasa jauh lebih hangat dan luas setelah aura ketegangan tadi menguap sepenuhnya.​Di dalam ruangan, Bayu masih duduk di sofa panjang. Bahunya yang semula tegang kini telah merosot santai. Begitu mendengar suara ketukan pintu dan melihat siluet Maudy berjalan mendekat, Bayu mendongakkan kepalanya. Sepasang matanya yang semula sedingin es saat menghadapi Alena, seketika berubah menjadi lembut dan dipenuhi binar kelegaan yang teramat murni.​Bayu mengembuskan napas pan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 304

    Bayu tetap mempertahankan posisi duduknya, mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Pradipta dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tatapan matanya bergantian menatap pria paruh baya yang tampak begitu layu itu, lalu beralih pada Alena yang masih setia menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan beberapa bulir air mata jatuh membasahi pangkuannya sendiri.​Keheningan di dalam ruangan itu terasa berputar begitu lambat, mengulur waktu hingga ketegangan di dada Pradipta dan Alena berada di titik tertinggi. Bayu menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Kemarahan besar yang sempat membakar dadanya sejak kemarin siang kini mendadak surut, digantikan oleh rasa hambar. Ia melihat tidak ada lagi gunanya menginjak orang yang sudah benar-benar patah arang dan mengakui kekalahannya dengan terhormat.​"Baiklah, Pak Pradipta. Saya menghargai niat baik Anda untuk datang ke sini dan meluruskan semuanya. Saya bukan pria pendendam yang akan terus mengejar orang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 303

    Pagi itu, rintik gerimis yang membasahi kaca-kaca jendela gedung perkantoran mewah milik Bayu seolah menambah kesan dingin dan kaku pada suasana di lantai eksekutif. Di dalam ruang kerja utamanya yang luas, Bayu berdiri tegak memunggungi meja kerjanya. Kedua tangannya terlipat di balik punggung, sementara pandangan matanya menatap lurus ke arah pemandangan kota yang samar tertutup kabut tipis.​Suara ketukan pintu yang teratur memecah kesunyian ruangan tersebut. Setelah Bayu memberikan izin masuk dengan gumaman rendah, Cindy membuka pintu ruangan itu lebar-lebar, mempersilakan dua orang tamu yang sudah dijadwalkan hadir pagi ini untuk melangkah masuk.​Pradipta berjalan paling depan dengan langkah yang sengaja dibuat tenang tapi diliputi ketegangan yang tertahan. Di sampingnya, Alena melangkah dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam. Tidak ada lagi langkah angkuh, riasan wajah yang mencolok, atau pakaian seksi yang ia kenakan kemarin siang. Hari ini, Alena tampak begitu sederhana d

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 302

    Keesokan harinya, dii dalam ruangan Alena, koper-koper besar sudah berdiri berjajar di dekat pintu, menjadi penanda bahwa beberapa jam lagi kehidupan Pradipta dan putrinya di kota itu akan segera berakhir untuk selamanya.​Alena duduk bersandar di kepala ranjang, menatap kosong ke arah deretan koper tersebut. Matanya masih tampak sembap dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Rasa malu, hancur, dan penyesalan yang mendalam masih menggunung di dalam dadanya.​Pradipta melangkah lambat mendekati putrinya. Ia membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di atas meja kecil, lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur, tepat di samping Alena. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang, gurat-gurat kelelahan dan beban berat di wajahnya tampak sedikit melunak pagi ini.​"Alena..." panggil Pradipta, suaranya mengalun sangat rendah dan lambat di tengah keheningan pagi yang sunyi. "Sebelum kita benar-benar pergi dari kota

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 301

    Mendengar penuturan Maudy yang begitu mengejutkan, gerakan tangan Bayu yang semula hendak merapikan lembaran berkas di pangkuannya seketika terhenti.​Bayu mendongakkan kepala sepenuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Maudy untuk mencari tanda-tanda apakah wanita itu sedang bercanda. Namun, yang ia dapati hanyalah binar kepuasan yang tulus dan jujur.​"Rio dihajar preman? Oleh perintah ayah Alena?" tanya Bayu dengan pelan dan terkejut.​Maudy mengangguk perlahan, lalu mulai mengurai kembali seluruh cerita yang baru saja dia dengar dari seberang telepon. Maudy menceritakan bagaimana Lyra membeberkan kronologi penggerebekan itu dengan sangat mendetail, tentang bagaimana marahnya Pradipta saat mengetahui uang perusahaan keluarga mereka senilai lima ratus juta rupiah dikuras habis oleh Alena demi mendanai obsesi gilanya, dan bagaimana uang itu ternyata sudah habis diputar oleh Rio untuk membayar uang muka sebuah rumah baru.​Bayu mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 300

    Ketegangan di dalam ruangan ber-AC itu mendadak meningkat hingga ke titik yang mencekam. Aroma amarah yang dibawa oleh Pradipta berkelindan dengan hawa dingin yang dipancarkan oleh tatapan mata ketiga preman berbadan tegap di belakangnya.​Rio merasakan keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya, membasahi kerah kemeja mahalnya. Di dalam dadanya, jantung Rio berdegup kencang dibayangi kepanikan yang luar biasa. Fakta yang sebenarnya adalah, uang lima ratus juta rupiah yang ditransfer oleh Alena beberapa waktu lalu sudah tidak lagi utuh di dalam rekeningnya.​Begitu dana segar itu masuk, Rio yang memang sedang terlilit masalah finansial pasca-perceraian dengan Maudy langsung menggunakannya tanpa berpikir panjang. Sebagian besar dari uang itu telah ia bayarkan sebagai uang muka untuk membeli sebuah rumah baru yang akan ia gunakan sebagai tempat tinggal sekaligus lambang gengsinya yang runtuh. Sementara sisa dari uang tersebut sengaja ia simpan rapat-rapat di rekening

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 42

    Keheningan di kamar hotel itu terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh pengakuan mengerikan yang baru saja terlontar. Maudy masih mematung di tepi ranjang. Tatapannya kosong, tertuju pada foto yang tergeletak di lantai. Foto yang kini tampak seperti potongan bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 18

    Maudy hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bayu, lalu beralih menatap Lyra dengan raut wajah tidak enak hati. "Maaf ya, Lyra. Bayu memang begitu, dia OB yang sedikit bandel di sini. Jangan dimasukkan ke hati ucapan lancangnya tadi," ucap Maudy meminta maaf pada Lyra. ​Lyra hanya tertawa k

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 16

    Bayu menepi di bawah pohon rindang yang agak jauh dari butik itu. Ia menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Rio tengah tertawa mesra bersama wanita itu. Jarinya gemetar, berada hanya beberapa milimeter di atas tombol Kirim ke kontak Maudy. ​"Kalau aku kirim sekarang, apa yang terjadi?Bu Mau

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 55

    Mobil yang dikendarai Ayah dan Ibu Maudy melaju menembus kesunyian malam. Namun suasana di dalamnya jauh dari kata tenang. Begitu gang sempit kontrakan Bayu menghilang dari spion, Ibu Maudy tiba-tiba melepaskan pegangan di pelipisnya. Ia duduk tegak, napasnya kembali teratur, dan sorot matanya yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status