로그인Hari persidangan vonis untuk Rio akhirnya tiba setelah berminggu-minggu proses peradilan berjalan. Pagi itu, suasana di ruang keluarga kediaman Bayu terasa sedikit berbeda. Bayu tampak sudah rapi mengenakan kemeja panjang dan celana bahan, bersiap untuk berangkat ke gedung pengadilan negeri guna mendengarkan langsung putusan hakim terhadap pria yang telah menghancurkan ketenangan keluarga mereka.Maudy yang baru saja menyiapkan sarapan di dapur mendapati suaminya sudah siap dengan pakaian formal. Langkah Maudy langsung terhenti, dan raut wajahnya seketika berubah tegang."Mas mau ke mana rapi begitu?" tanya Maudy dengan suara yang langsung meninggi cemas.Bayu menoleh, lalu menjawab dengan tenang. "Mau ke pengadilan, Ma. Hari ini kan sidang pembacaan vonis untuk Rio. Papa mau dengar langsung keputusannya."Mendengar kata pengadilan dan nama Rio disebut, tangan Maudy langsung bergetar. Gelas kaca yang baru saja dipegangnya diletakkan kembali ke atas meja dengan gerakan tergesa-gesa
Di tengah keheningan malam itu, pergerakan kecil tiba-tiba terjadi di atas ranjang. Evelyn mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan penglihatan dengan remang cahaya ruangan. Begitu kesadarannya terkumpul, gadis itu teringat di mana ia berada.Ia langsung menoleh ke samping. Kepanikan tiba-tiba menyergap dada Evelyn saat melihat ibunya sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap ke arahnya. Mengira Maudy kembali jatuh sakit atau pusingnya kumat, Evelyn seketika terbangun dan langsung mendudukkan diri dengan napas memburu."Ma!" panggil Evelyn kaget, suaranya terdengar cemas. "Mama sudah bangun? Kepala Mama masih pusing? Ada yang sakit, Ma? Mau Evelyn panggilin Papa?"Melihat putrinya panik seketika, Maudy langsung tersenyum hangat. Senyuman tulus yang sudah lama tidak terlihat di wajah wanita itu kini mengembang dengan indahnya. Rasa penat, pusing, dan sesak di dada yang selama ini menghimpit Maudy seolah lenyap begitu saja seketika melihat perhatian luar biasa dari put
Saat Bayu hendak beranjak berdiri untuk kembali ke lantai atas memeriksa keadaan Maudy, Evelyn tiba-tiba menahan lengan papanya pelan.Bayu menoleh, mendapati putri bungsunya menatapnya dengan raut wajah penuh harap."Pa..." panggil Evelyn pelan. "Evelyn boleh ikut tidur di kamar Mama malam ini? Evelyn ingin menjaga Mama."Bayu sempat tertegun sejenak. Ia tidak menyangka Evelyn akan mengajukan permintaan seperti itu. Selama beberapa minggu terakhir, jangankan mendampingi orang lain, Evelyn sendiri masih berjuang keluar dari rasa takutnya. Melihat keberanian dan niat tulus dari putrinya, Bayu tersenyum hangat. Ia tidak punya alasan sedikit pun untuk melarang.Namun, sebelum Bayu sempat mengangguk, Arka langsung bersuara dari samping sofa."Pa, Arka juga ikut tidur di kamar Mama ya," celoteh Arka santai. "Kan kemarin Papa bilang kita harus saling menjaga. Jadi sekalian saja Arka tidur di sana."Bagas dan Cakra yang duduk berdekatan langsung saling pandang, lalu ikut-ikutan menimpa
Begitu Bayu dan Maudy pulang, pintu rumah langsung terbuka. Arka, Bagas, Cakra, Daffa, dan Evelyn yang sedari tadi menunggu di ruang tamu buru-buru berhamburan keluar menghampiri orang tuanya. "Ma, gimana keadaannya? Dokter bilang apa?" tanya Arka langsung memberondong ibunya begitu Maudy.Bagas dan Cakra ikut merapat, menatap sang ibu dengan sorot mata penuh cemas. Evelyn berdiri di sebelah Bagas, menggenggam jemarinya sendiri erat-erat karena khawatir.Sebelum Maudy sempat membuka suara untuk menjawab, Bayu mengangkat sebelah tangannya dengan lembut untuk menenangkan anak-anaknya."Sebentar ya, semuanya," kata Bayu pelan sambil merangkul bahu istrinya. "Mama capek banget habis dari klinik. Biar Mama istirahat dulu di kamar, ya. Pertanyaannya nanti saja kalau Mama sudah bangun."Mendengar instruksi sang papa, kelima anak itu langsung mengangguk patuh. Tidak ada yang mendesak atau membantah."Iya, Pa. Biar Mama istirahat aja," sahut Arka pelan.Bayu membimbing Maudy masuk ke d
Sesampainya di rumah sakit, suasana koridor yang sepi membuat langkah kaki Bayu, Maudy, dan Arka terdengar jelas. Maudy duduk di bangku tunggu dengan jemari yang saling bertautan erat, sementara Arka berdiri tidak jauh di sampingnya sambil terus memegang pundak sang ibu.Tak lama kemudian, nama Maudy dipanggil dari dalam ruang praktek. Mereka bertiga masuk dan disambut ramah oleh Dokter Haryo, dokter keluarga yang sudah lama mengenal mereka.Setelah Maudy duduk di kursi pemeriksaan, Dokter Haryo mulai melingkarkan manset tensimeter di lengan kiri Maudy. Ruangan hening sejenak saat alat pemantau tekanan darah itu bekerja. Dokter Haryo memandangi angka yang tertera di layar monitor, lalu menghela napas pelan."Tekanan darah Ibu Maudy lumayan tinggi ini, 170/95," ujar Dokter Haryo seraya melepaskan manset dari lengan Maudy. "Pantas saja kepalanya terasa pusing dan kliyengan."Bayu mengerutkan dahi, raut kecemasan jelas terpancar dari wajahnya. "Tinggi banget ya, Dok? Padahal biasanya
Kepanikan yang terus menimbun dada Maudy akhirnya mulai mengambil jalannya sendiri. Tubuhnya tidak lagi sanggup menampung tumpukan kecemasan yang berlebihan itu. Dalam sepekan terakhir, Maudy sering memegangi pelipisnya, meringis pelan saat rasa pusing yang teramat sangat mendadak menyerang kepalanya. Wajahnya yang biasa segar kini tampak pucat dan muram.Siang itu di ruang keluarga, Maudy baru saja meletakkan secangkir teh hangat ketika pandangannya mendadak berputar. Ia memejamkan mata erat-erat, meremas tepi sofa untuk menopang tubuhnya.Bayu yang baru keluar dari ruang kerja langsung bergegas menghampiri istrinya. Arka yang sedang duduk di dekat sana pun ikut meloncat berdiri."Ma, kamu kenapa lagi? Pusingnya kumat?" tanya Bayu cemas sambil merangkul bahu Maudy.Maudy menggeleng pelan, meski kelopak matanya masih terpejam rapat. "Cuma kliyengan sebentar, Mas. Nanti juga hilang sendiri kalau dibawa duduk."Arka berjongkok di depan ibunya, menatap raut wajah Maudy yang begitu l
“Simpan pertanyaanmu dan kembali lanjutkan pekerjaanmu!” titah Rio mengalihkan pertanyaan dari Bayu. Bayu tidak bisa mengelak. Dia lekas undur diri dan beranjak dari tempatnya berdiri. “Baik Pak Rio, saya akan kembali bekerja,” ucap Bayu sebelum dia melangkah pergi. Pintu ruangan tersebut kembali
"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!" Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar.
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.
Satu jam sudah Bayu berdiri di balik pintu. Sementara Maudy, dia tetap pada posisinya. Duduk bertekuk lutut di sudut kasur. Tidak bergerak dan juga tidak ada niatan merealisasikan ancamannya.Kaki Bayu mulai merasa pegal. Sejak tadi dia sudah berusaha mengabaikan rasa pegalnya,, tapi kali itu dia s







