Angin pemakaman berhembus pelan, menerbangkan kelopak bunga kamboja yang jatuh di atas tanah merah yang masih basah. Maudy duduk bersimpuh, jemarinya yang pucat gemetar saat menyentuh nisan kayu ayahnya. Di belakangnya, Rio berdiri dengan tegak, sesekali merapikan jas hitamnya sembari memasang raut wajah prihatin yang sempurna di depan para pelayat yang mulai berpamitan."Sabar, Bu. Tidak perlu risau dengan hari esok. Masih ada aku di sini,” ucap Rio lembut sambil merangkul bahu Ibu Maudy yang masih terisak.Ibu Maudy mendongak, menatap Rio dengan tatapan penuh syukur yang mengharukan. "Terima kasih, Rio. Ibu tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu. Di saat kami jatuh seperti ini, hanya kamu yang benar-benar membuktikan bakti kamu sebagai menantu."Rio melirik sekilas ke arah Maudy yang masih membisu, lalu ia merendahkan suaranya, sengaja agar Maudy bisa mendengar. "Itu sudah kewajiban Rio, Bu. Rio tidak mau Maudy dan Ibu menderita lebih jauh lagi. Apalagi setelah semua ke
Last Updated : 2026-03-28 Read more