Teilen

Bab 87

last update Veröffentlichungsdatum: 27.03.2026 16:13:43

Namun raut terkejut pada Ibunya Maudy itu hanya untuk beberapa detik. Bukannya berterima kasih pada Bayu, atau menyesal telah merendahkan Bayu yang muncul di wajah Ibunya Maudy, melainkan gumpalan kebencian baru yang lebih pekat dan tudingan lebih buruk yang muncul.

​"Bayu? Dari mana pelayan rendahan itu punya uang ratusan juta dalam sekejap? Maudy, kamu jangan mau dibodohi! Kalaupun benar dia yang membayar, Ibu justru makin ngeri. Itu pasti uang haram! Uang hasil kerja gelap atau hasil mencuri
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Abdul Rachman
sambungan mana
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 377

    Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang makan yang tenang. Aroma nasi goreng dan kopi mint kesukaan Bayu sudah menguar di udara. Namun, suasana hangat itu mendadak pecah oleh suara sendok yang berdenting keras di atas piring kaca.​Maudy yang baru saja menyuap sesendok kecil sarapannya tiba-tiba meletakkan sendoknya kembali. Wajah cantiknya seketika kehilangan warna, berubah menjadi pucat pasi. Sebelah tangannya refleks mencengkeram pinggiran meja, sementara tangan lainnya memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat.​"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Bayu, langsung meletakkan cangkir kopinya. Guratan cemas seketika tercetak jelas di wajah tampannya.​"Pusing, Mas... kepala aku mendadak berputar," bisik Maudy lirih. belum sempat Bayu menjawab, Maudy membekap mulutnya sendiri. Rasa mual yang teramat sangat menyodok dadanya. Tubuhnya gemetar dan lemas, kehilangan seluruh tenaga hingga ia nyaris terkulai dari kursi jika Bayu tidak dengan cekatan menangkap tubuhnya.​

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 376

    Maudy yang masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bayu bisa merasakan dada suaminya naik-turun karena sisa kekehan pelan. Aroma maskulin khas tubuh Bayu yang bercampur dengan sabun mandi malam benar-benar menjadi candu yang menenangkan bagi Maudy. Rasa cemas akibat ulah Tasya tadi siang seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang teramat dalam.​"Tapi, Mas… Memangnya tadi di koridor tidak ada staf lain yang melihat? Maksudku, kalau Tasya sampai hampir jatuh begitu, apa sekretarismu tidak menolongnya?" Maudy mendongak lagi, menatap wajah tampan suaminya dengan mata bulatnya yang jernih.​Bayu menaikkan sebelah alisnya, jemarinya beralih memainkan ujung rambut Maudy yang bergelombang. "Sekretarisku? Dia justru berdiri kaku di belakangku sambil menahan napas. Begitu kami masuk lift, dia langsung batuk-batuk kecil menahan tawa. Aku rasa, kalau tidak ada aku di sana, dia sudah terpingkal-pingkal di depan wajah Tasya."​Maudy tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Kamu

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 375

    Malam kembali menjemput kota, dan di dalam kamar utama yang hangat, suasana tenang itu kembali tercipta. Setelah makan malam bersama yang santai, Bayu dan Maudy kini sudah berada di atas tempat tidur. Bayu bersandar santai di kepala ranjang dengan kaos santai berwarna abu-abu, sementara Maudy merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung Bayu yang konstan. Sebelah tangan Bayu bergerak lambat, mengusap bahu Maudy dengan penuh kasih sayang.​"Sayang, kamu tahu tidak? Hari ini aku menonton sebuah pertunjukan komedi gratis di koridor kantor," celetuk Bayu tiba-tiba, memecah keheningan malam dengan nada suara yang terdengar sangat geli.​Maudy mendongak, menatap dagu kokoh suaminya dari bawah. "Komedi? Memangnya siapa yang melucu di kantor, Mas? Jangan bilang anak-anak direksi membuat masalah lagi."​Bayu terkekeh rendah, suara tawa baritonnya bergetar di dada, membuat Maudy bisa merasakannya langsung. "Bukan mereka. Tapi sepupumu yang luar biasa itu, Tasy

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 374

    ​Tasya berlutut di atas lantai marmer yang dingin, jemarinya memungut kertas-kertas laporan dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia mengatur napasnya agar terdengar sedikit terengah, sementara matanya melirik dari balik helaian rambutnya yang sengaja dibiarkan jatuh berantakan membingkai wajah pucat buatannya.Langkah kaki tegap itu berhenti. Sepasang sepatu pantofel hitam mengilat milik Bayu kini berada tepat dua jengkal di depan dokumen yang berserakan. Tasya mendongak perlahan, memasang sorot mata yang sayu dan penuh kilat kepasrahan.​"P-Pak Komisaris...Maafkan saya. Saya benar-benar ceroboh. Kepala saya sedikit pusing karena meninjau ulang laporan divisi semalaman, jadi fokus saya agak terganggu,” irih Tasya, suaranya dibuat bergetar seolah ia sangat terkejut sekaligus ketakutan setengah mati melihat kehadiran sang Owner. ​Tasya mencoba bangkit berdiri, namun ia sengaja membuat gerakannya limbung. Tubuhnya condong ke depan, berpura-pura kehilangan keseimbangan agar refleks

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 373

    Setelah kembali ke ruang kerjanya, Tasya mengunci pintu dengan rapat. Wajahnya yang semula pucat pasi karena ketakutan kini perlahan berubah menjadi merah padam oleh rasa geram yang membakar dada. Ia melempar tas sepatunya ke sudut ruangan dengan kasar.​"Kurang ajar!" geram Tasya, giginya mengatup rapat sembari mondar-mandir di balik meja manajernya.​Rasa malu didepan Silvy dan ancaman pemecatan dari Bayu bukannya membuat Tasya sadar, melainkan memicu sisi gelap dari keangkuhannya yang terluka. Dari dulu, keluarganya tidak pernah mau kalah dari keluarga Maudy. Baginya, Maudy tidak layak mendapatkan segalanya. Suami tampan yang kaya raya, kekuasaan mutlak, dan pengakuan sebagai mantan CEO perusahaan itu.​Tasya berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap ke arah luar. Sebuah pemikiran licik mendadak melintas di otaknya yang buntu. Sumbu egonya yang sakit mulai merajut sebuah rencana baru.​"Kalau Maudy yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan pria sekelas Bayu, kenapa aku tidak?" g

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 372

    Di dalam ruangan yang mendadak terasa sekecil kotak korek api itu, keheningan bergulir begitu menyiksa. Tasya masih berdiri mematung dengan bibir yang sedikit terbuka, namun tak ada satu pun patah kata yang mampu lolos dari tenggorokannya. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya, merusak kenyamanan setelan kerja mahal yang ia kenakan.​Bayu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Tasya. Pria itu menarik sebelah tangannya dari saku celana, lalu mengetukkan ujung jemarinya di atas tas belanja berisi sepatu hak tinggi milik Tasya. Bunyi ketukan itu terdengar ritmis, seolah sedang menghitung sisa waktu harga diri Tasya yang berada di ambang kehancuran.​"Jika pendengaran saya tidak salah. Anda baru saja mengancam akan memberikan nilai merah pada evaluasi kerja Sekretaris Silvy jika dia menolak menjadi pelayan pribadi Anda?" Bayu kembali bersuara dengan nada yang tenang dan mengerikan.​Tasya refleks menggelengkan kepala dengan cepat, matanya berkaca-kaca karena panik. "B-bukan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 187

    Setelah meninggalkan kediaman Ibu angkatnya dengan perasaan campur aduk, Bayu segera memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju satu-satunya tempat yang bisa memberinya kedamaian: rumah Maudy. Meski tadi Maudy melepasnya dengan senyuman tenang, Bayu tahu bahwa di balik ketenangan itu, Maudy pas

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 176

    Langkah kaki Bayu yang biasanya terdengar tegas dan penuh wibawa di lorong kantor, kini terdengar berat dan terseret. DIa melangkah gontai, seolah-olah setiap ubin marmer yang dia pijak adalah beban yang harus dia angkat. Pikirannya masih terpenjara pada meja kafe tadi, pada suara dingin Lyra yang

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 158

    Suasana di dalam kamar hotel yang mewah itu seketika berubah mencekam. Kehangatan sisa-sisa kemesraan yang tadi melingkupi mereka seolah menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bayu memegang ponselnya dengan tangan yang sedikit kaku, sementara Maudy berdiri di sampingnya dengan napas yan

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 135

    Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status