Fajar kian menyingsing, Bimo perlahan membuka kedua matanya begitu mendengar suara alarm ponselnya berdering cukup keras. Pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah wajah cantik Mayang tengah berada di dalam dekapannya. Terdengar dengkur halus yang teratur dari bibir mama mertuanya itu, rasa bersalah itu kembali menghujam hatinya. Gara-gara kebodohannya, Mayang mengalami trauma yang mengguncang psikis dan mentalnya. “Maafkan aku, Ma. Aku janji, apapun yang terjadi aku gak bakal pergi ninggalin Mama, “batinnya lirih. Bimo mengambil ponselnya untuk mematikan alarm nya, namun pergerakannya itu membuat Mayang terganggu dan perlahan membuka kedua matanya. “Bimo, ini sudah jam berapa Nak? “ Tanya Mayang seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya. Bimo menoleh ke arah Mayang yang sudah terbangun olehnya. Wajahnya memerah melihat gundukan bukit kembar Mayang terpampang nyata di depannya tanpa penghalang apapun.“Eh, maaf Ma. Suara alarmku malah membangunkan Mama juga. Kalau Mama lel
Read more