เข้าสู่ระบบPerintah Mayang seketika langsung mematahkan sisa pertahanan Bimo. Rasa canggung dan takut yang dirasakan olehnya kini berganti dengan hasrat membara yang makin tak terkendali.“Baik, Nyonya…” sahut Bimo sambil memegang erat kedua pinggul montok Mayang, menarik tubuh mama mertuanya itu agar lebih merapat ke arahnya, lalu membenamkan miliknya sedalam mungkin.PLOK! PLOK! PLOK!“AAAHHH! SSSHHH!! BIMO!” pekik Mayang tertahan, jemarinya mencengkram erat sprei ranjang saat Bimo menghujamnya brutal dalam posisi menungging.Aroma cairan gairah memenuhi udara kamar, bercampur dengan suara benturan kulit mereka. Mayang merem melek menikmati setiap hentakan dari Bimo. Sensasi hangat dan tebal yang memenuhi goa kenikmatannya membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.“Terus, Bimo... gede banget punyamu... genjot terus!” erang Mayang semakin liar, sengaja menggesekkan pantatnya berlawanan arah dengan sodokan Bimo.Bimo makin kesetanan mendengarnya. Kedua tangannya meremas kuat kedua bongkahan pant
Cahaya senter itu menyorot langsung ke arah Bimo. Bimo langsung panik karena takut dikira maling oleh Security di apartemen ini.Datuk menggerakkan tangannya membentuk sebuah lingkaran portal lalu menarik tangan Bimo untuk masuk ke dalam sana.“AHKKK!!” teriak Bimo saat dirinya terlempar ke dalam portal tersebut lalu jatuh di atas lantai yang dingin.GEDEBUK!! “AWWW!!” ringis Bimo kesakitan saat hidungnya mencium lantai. Dia perlahan bangkit dan melihat Mayang tengah tertidur di atas ranjang dengan kedua paha terbuka lebar, memperlihatkan hutan rimbanya yang tidak tertutup apapun.Glek! Bimo menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat pemandangan indah di depannya. Miliknya mendadak berkedut-kedut di bawah sana. “Bimo cucuku, sudah lama kamu tidak menyelam ke dalam lembah kenikmatan mama mertuamu. Ayo langsung masuk dan cobloskan milikmu ke dalam sana hehe,” tawa Datuk Maringgi tanpa memperlihatkan wujud aslinya.“Tidak Kek, aku tidak akan menyentuh Mama tanpa diminta olehnya,
“B-bukannya ini kamar apartemennya Prof.Malik?!” tanya Bimo ingin memastikan.“Prof. Malik? Maaf tidak ada nama orang itu tinggal disini. Saya hanya tinggal seorang diri dan tidak mengenal nama orang tadi. Maaf, saya lagi goreng telur di dalam. Permisi,” setelah mengatakan hal itu, pria tadi kembali menutup pintunya cukup keras tepat di depan wajahnya Bimo.Bum! Hati Bimo semakin gusar saat mengetahui kenyataan bahwa Prof.Malik sudah pindah dari apartemen ini. Dia menangkap adanya banyak keanehan yang terjadi disini namun sialnya dia tidak kunjung menemukan jawaban.Di waktu yang bersamaan, tiga berkas cahaya muncul di hadapannya. Cahaya itu berubah menjadi wujud Datuk Maringgi dan kedua khodam harimaunya yang sudah lama tidak terlihat.“KAKEK?!” Bimo reflek memeluk erat Kakek leluhurnya itu dengan mata berkaca-kaca. Dia pikir Datuk dan kedua khodam harimaunya tidak akan pernah muncul di hadapannya lagi.Datuk mengelus punggung Bimo dengan lembut. “Cucuku, sudah lama kita tidak berju
Bimo melirik ke arah bawah miliknya yang tampak memanjang di balik kimono handuk. “I-itu namanya burung Ma, eh Nyonya.” Pipi Mayang bersemu merah saat melihatnya. “B-burung? B-bagaimana mungkin bisa segede itu? Kamu pasti bohong!” “Benar Nyonya. Maaf bukannya saya bermaksud untuk kurang ajar. Saya ganti pakaian dulu ya,” Bimo buru-buru berbalik pergi lalu masuk ke dalam kamar tamu untuk berganti pakaian. Setelah itu dia kembali keluar dan melihat Mayang sedang menata banyak makanan di atas meja makan. Aroma masakannya tercium sangat nikmat, membuat perutnya mendadak bergemuruh dan meneteskan air liurnya sendiri.“Ayo duduklah, kita makan bersama,” ajak Mayang.Sella yang baru saja keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian modis di tubuhnya kembali melayangkan tatapan sinis ke arah Bimo. “Mama ngapain sih ngajak gembel itu duduk sama kita?! Biarin aja dia duduk di bawah! Setelah dia makan pastikan dia pergi dari rumah ini secepatnya!” seru Sella seraya mendudukkan pantatnya di sa
“M-ma?! Apa maksud Mama?! Aku ini Bimo Ma! Apa Mama tidak mengingatku sama sekali?!” tanya Bimo seraya mencengkram kedua bahu mama mertuanya dari balik pagar besi.Tangan Bimo langsung dipukul oleh salah satu satpam dengan kuat. “Hei jangan sembarangan menyentuh Nyonya kami!! Pergi dari tempat ini!!” “Ahhkk!!” Bimo menarik kembali tangannya seraya meringis kesakitan.“Tono, jangan berbuat kasar padanya. Kasihan dia,” tegur Mayang pada satpam bernama Tono itu.Tono buru-buru menundukkan kepalanya ke bawah. “Maafkan kelancangan saya Nyonya.” “Ada ribut-ribut apa ini sih? Berisik banget?” tanya Sella tiba-tiba muncul dari belakang dan melipat kedua tangan di dada. Mata istrinya itu menatap Bimo dari atas sampai ke bawah dengan ekspresi jijik dan reflek menutup hidungnya. “Iuhh!! Siapa sih gembel miskin ini! Tono!! Toni!! Kalian ngapain aja sih disini?! Usir gelandangan ini sekarang juga!!” “I-iya Nyonya!!” sahut Tono dan Toni. Namun, belum sempat mereka akan mengusir Bimo, Mayang sud
Baru saja Bimo akan melangkah keluar, tiba-tiba saja si gondrong mengambil besi tajam yang tergeletak di atas papan catur lalu menusuk perutnya sendiri di hadapan Bimo. CRRRT!! “Gondrong!! Apa yang kamu lakukan?!” pekik Bimo dengan mata terbelalak tak percaya. Si gondrong langsung jatuh ambruk dengan mulut mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Bimo segera menghampiri si gondrong dan memapah kepala pria itu atas pahanya dengan mata berkaca-kaca. “B-Bimo….m-maaf. A-aku tidak bisa membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri. A-aku juga sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Tidak ada satupun orang yang akan merindukan aku…t-tapi kamu masih memiliki keluarga. Kamu harus kembali Bimo,” ucap si gondrong dengan susah payah. Bimo tak dapat menahan air mata saat nyawa teman satu selnya itu berada di ujung tanduk. “Kamu harus bertahan gondrong. Kamu sangat berarti untukku, kamu adalah keluargaku.” Si gondrong berusaha tersenyum sambil menggenggam erat tangan Bimo. “







