Bunda Zayna menatap pesan balasan Soraya beberapa saat sebelum akhirnya mematikan layar ponselnya. Jemarinya sempat ragu, menggantung di udara, seolah masih ada yang ingin ia ketik—sebuah penjelasan, atau mungkin sekadar basa-basi yang menenangkan. Namun urung. Ia memilih diam.Seharusnya ia meminta izin lebih dulu pada Aim, suaminya. Kebiasaan kecil yang selalu ia jaga sejak awal pernikahan mereka—mengabarkan setiap langkah, sekecil apa pun. Bukan karena takut, tapi karena saling menghargai.Ia menengok kekamar untuk melihat apakah suaminya sudah tidak bisa dibangunkan lagi untuk sekedar diskusi,Namun Aim tertidur sangat lelap, satu tangannya masih berada di atas tubuh kecil Zayan yang meringkuk nyaman di dadanya. Anak itu memang selalu begitu—tak bisa tidur tanpa sentuhan. Kadang minta ditepuk pelan, kadang harus dipeluk erat, seakan dunia paling aman hanya ada di antara ayah dan ibunya.Bunda Zayna tersenyum tipis. “Besok saja,” gumamnya pelan dalam hati. Ia menarik selimut hingga
Mehr lesen