เข้าสู่ระบบMalam itu, suasana rumah terasa lebih tenang setelah Askara selesai bermain dan akhirnya tertidur di kamarnya. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala dengan cahaya hangat, berpadu dengan suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Di atas meja kecil, dua cangkir minuman hangat sudah hampir kosong, sementara televisi yang sejak tadi menyala hanya menjadi latar tanpa benar-benar menarik perhatian siapa pun. Aira duduk bersandar di sofa dengan sebuah bantal kecil di pangkuannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali ia selipkan ke belakang telinga ketika membaca pesan di ponselnya. Di sebelahnya, Dipta baru saja menyelesaikan beberapa surel pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan sampai pagi. Setelah meletakkan ponsel di atas meja, laki-laki itu mengembuskan napas panjang, kemudian meregangkan bahunya yang terasa kaku setelah seharian bekerja. Aira meliriknya sekilas. “Sudah selesai?” “Untuk malam ini, iya.” “Bagus. Berarti sekarang aku boleh tanya sesuatu?” Dipta m
Menjelang magrib, mobil yang dikendarai Dipta akhirnya memasuki halaman rumah. Cahaya matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan masuk. Setelah mematikan mesin, Dipta sempat duduk beberapa detik di balik kemudi. Hari itu cukup melelahkan, bukan semata-mata karena urusan perusahaan yang harus diselesaikannya, melainkan juga karena ia harus memastikan bahwa persoalan Priska dan Rania tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit. Setidaknya, untuk saat ini, langkah yang perlu diambil sudah jelas. Sisanya akan berjalan melalui prosedur yang semestinya.Ia mengembuskan napas panjang, lalu meraih tas kerja di kursi sebelah sebelum keluar dari mobil. Begitu melangkah masuk, suasana rumah yang tenang langsung menyambutnya. Terdengar suara anak kecil dari arah ruang bermain, sesekali diselingi bunyi mainan yang beradu, sementara dari ruang keluarga terdengar suara televisi dengan volume rendah.Dipta meletakkan tasnya di meja
Pagi itu, ruang rapat kecil di lantai eksekutif Rajendra Engineering kembali digunakan untuk membahas perkembangan kasus yang melibatkan Priska dan Rania. Tidak banyak orang yang diizinkan masuk.Dipta hanya meminta kehadiran kepala divisi legal, perwakilan sumber daya manusia, serta tim internal yang sejak awal memeriksa bukti-bukti kejadian di ruangannya. Baginya, perkara tersebut sudah cukup jelas untuk memasuki tahap berikutnya. Ia tidak berniat menghabiskan waktu perusahaan hanya untuk mendengarkan penyangkalan yang sama berulang kali, terlebih setelah rekaman kamera pengawas dan sejumlah catatan akses memperlihatkan rangkaian kejadian yang sulit dibantah.Kepala divisi legal meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami sudah menyusun kronologi berdasarkan rekaman kamera, catatan akses ruangan, keterangan pegawai yang bertugas, serta hasil pemeriksaan internal sementara. Ada cukup banyak bukti yang perlu kami serahkan kepada pihak berwenang untuk dinilai lebih lanjut, terutama menge
Ruang pemeriksaan masih sama, tapi atmosfernya sudah berubah. Rania sekarang bukan lagi orang yang ditanya. Dia sudah jadi orang yang bercerita sendiri. “Saya awalnya hanya diminta mengatur akses kecil." suara Rania pelan. “…tapi lama-lama berubah.” Auditor tidak memotong hanya mendengarkan. “Dia tidak pernah bilang langsung apa target akhirnya.Yang dia lakukan itu… mengarahkan situasi.” “Bukan perintah.. tapi kondisi.” Rania berhenti sebentar. Tangannya menekan meja pelan. “…tapi ada satu hal yang saya baru sadar belakangan.” Semua langsung fokus. “…dia tidak bekerja sendirian dari awal.” “Dia punya jalur lain, bukan hanya saya.” “Ada seseorang yang membantu dari luar sistem.” Auditor langsung mengangkat pandangan. “Anda tahu identitasnya?” Rania menelan ludah, kali ini lebih berat. “Saya tidak tahu nama awalnya, top 10 api dia selalu menyebut seseorang yang ‘bisa mengamankan kalau terjadi masalah besar’.” Di titik ini, arah mulai berubah. Bukan lagi sekadar Priska ta
Ruang audit internal itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena AC, justru karena tidak ada lagi ruang untuk “alasan sosial”. Hanya ada meja, laptop, dan dua orang auditor yang sudah tidak tertarik pada emosi hanya fakta. Rania duduk, tangannya mulai tidak setenang sebelumnya. Di depan layar, log komunikasi kembali ditampilkan. Nama-nama, waktu, akses, percakapan singkat. Semuanya terlalu rapi untuk bisa dibantah sepenuhnya. “Akses ini Anda lakukan atas instruksi siapa?” tanya auditor lagi. Rania diam, kali ini tidak seperti awal yang masih bisa pura-pura tenang. Diamnya lebih berat. “Saya hanya membantu.” jawabnya akhirnya. Auditor tidak langsung bereaksi, hanya geser satu file lagi. “Ini bukan bantuan internal biasa. Ini melibatkan koordinasi dengan pihak luar perusahaan.” Rania menelan ludah. Di sisi lain gedung, ruang kerja Dipta. Aira duduk di sofa, membaca beberapa dokumen kecil di tablet. Namun telinganya jelas “setengah fokus” ke arah ini. “Dia mulai tertekan.”
Aira menutup pintu ruang kerja Dipta pelan. Begitu bunyi klik terdengar bahunya langsung turun sedikit. Seperti ada beban yang baru saja “diizinkan jatuh”. Langkahnya yang tadi di luar terlihat rapi dan tenang, perlahan berubah begitu dia sudah tidak lagi jadi sorotan siapa pun. Baru dua langkah di dalam ruangan, kakinya terasa agak goyah. Bukan jatuh tapi jelas tidak stabil. Aira langsung berhenti, berdiri diam sebentar. Matanya melirik ke lantai, lalu ke kursi terdekat. Seolah sedang “mengkalibrasi ulang” tubuhnya sendiri. “Capek banget ternyata jadi manusia profesional.” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar. Dia menarik napas panjang, lalu duduk di kursi tanpa drama. Baru setelah itu, bahunya benar-benar lemas. Di sisi lain ruangan, Dipta sedang membereskan beberapa dokumen. Dia melirik sekilas, lalu sadar satu hal kecil yang tidak diucapkan Aira tadi di luar. Mode tadi itu bukan stabil, itu mode bertahan hidup. Dipta tidak langsung komentar, hanya saja sudut bibirnya naik s
Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb
Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena
Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan
Suasana kelas XI IPA 2 pagi itu lebih tegang dari biasanya. Kertas ulangan biologi sudah dibagikan, masih tertutup di atas meja masing-masing siswa. Suara kipas angin berputar terasa lebih keras karena hampir semua orang diam. Aira duduk tegak. Tangannya berada di atas meja, jari-jarinya saling b







