"Kau mau apa? Membunuhku?"Suara Renata pecah, benar-benar rapuh saat ini karena Ayah yang seharusnya menjadi sandaran justru membencinya. Cairan bening menggantung di pelupuk matanya—sebuah bendungan emosi yang ia tahan mati-matian agar tidak luruh di hadapan pria ini.Ada kesiapan yang mengerikan dalam nada bicaranya. Jujur saja, jiwanya sudah lama lebam, habis dikoyak dan dilemparkan layaknya pion tak berharga oleh ayahnya sendiri dan ketiga pria yang menyebut diri mereka pelindung.Mati mungkin satu-satunya cara untuk pulang, bertemu ibunya di keabadian. Jauh dari duri dunia yang terus menghujam. Namun, setiap kali bayangan sang nenek melintas, keinginan itu surut, meninggalkannya terombang-ambing di ambang keraguan yang menyiksa.Henry tidak bergerak. Sorot matanya sedingin es kutub, mengunci tatapan Renata hingga gadis itu merasa oksigen di paru-parunya menipis."Kalau itu yang kau minta," suara Henry rendah, bergetar dengan kekejaman yang tenang, "aku akan mengabulkannya dan sa
Read More