"Siapa di sana?" tanyanya dengan degup jantung cepat.Tidak ada jawaban, bulu kuduk Renata meremang dan ia seketika merasa cemas seolah suatu hal buruk akan terjadi. Ia lalu berbalik dengan cepat dan seketika itu juga, seluruh keberaniannya runtuh.Mata Renata membelalak, napasnya tertahan. Di sana, bersandar pada pintu yang baru saja ia kunci, berdiri Devan dengan senyum membahayakan. Pria itu masih mengenakan setelan hitamnya, namun dasinya sudah longgar. Matanya merah, bukan karena alkohol, melainkan karena obsesi yang sudah mencapai titik didih."Kau!" sebut Renata seolah melihat hantu yang menyeramkan. Tubuhnya kaku, suaranya tertahan di tenggorokan ketika ingin berteriak. Bahkan untuk lari dari sana, mendadak kemampuan itu lenyap, kakinya tak dapat digerakkan dan menancap di lantai dengan kuat. "Kau pikir kau bisa lari ke Kensington dan menghilang begitu saja dariku dengan mudah, Renata?" suara Devan rendah, serak dan penuh ancaman.Renata mundur hingga punggungnya menabrak
Read More