LOGINMoran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.”
Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami.
Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya?
Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.
***
Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.
Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tangannya ragu tetapi mantap di pundak Shuyan. Bibir mereka bertaut singkat.
Jari Moran mencengkeram sisi kereta tanpa sadar. Kakinya nyaris terpeleset saat turun, membuat Xi Bao refleks menarik lengannya.
“Nona…” suara Xi Bao gemetar.
Moran mengangkat tangan, memberi isyarat diam. Dadanya naik turun tidak teratur.
Meski sudah menduga kakaknya memiliki hubungan dengan seorang pria, Moran tidak pernah membayangkan akan datang tepat di saat seperti ini.
Moran segera mendekat pada Xi Bao suaranya ditekan serendah mungkin. “Ingat. Apa pun yang kamu lihat hari ini, jangan katakan pada ibu atau ayah.”
Xi Bao mengangguk cepat. Ia berdiri lebih dekat ke Moran, tubuhnya menegang seakan ikut merasa bersalah.
Di sisi lain, Shuyan akhirnya menyadari keberadaan mereka. Tubuhnya tersentak. Ia segera menjauh dari pemuda itu dan mendorongnya perlahan ke arah jalan setapak.
Pemuda itu ragu sejenak, menatap Shuyan dengan wajah berat sebelum akhirnya berbalik dan menghilang di balik pepohonan.
Shuyan menarik napas panjang, lalu berbalik. Wajahnya seketika memucat saat melihat Moran berdiri beberapa meter darinya.
“Moran … apa yang kamu lakukan di sini?” Shuyan melangkah mendekat, langkahnya ragu. Pandangannya mengitari sekitar. “Kamu mengikutiku?”
“Aku baru saja sampai bagaimana bisa dibilang aku mengikutimu?” Moran menjawab santai.
“Lantas kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini kalau tidak —”
Tanpa berpikir panjang, Moran meraih lengan Shuyan. “Masuklah cepat!”
“Apa yang kamu lakukan? Moran!”
“Kalau kau tidak mau masuk keretaku, apa kamu mau masuk ke kereta orang di belakang itu?”
Shuyan mendongak, jelas tak mengerti. Namun sebelum sempat bertanya, suara derap kereta kuda terdengar dari kejauhan. Roda kayu menghantam jalan berbatu, semakin mendekat.
Shuyan nyaris kehilangan keseimbangan saat ditarik. Ia belum sempat bereaksi ketika Moran sudah menyeretnya ke dalam kereta. Xi Bao buru-buru membuka pintu kain, lalu ikut naik setelah mereka.
Kuda meringkik pelan sebelum kusir memecut tali kekangnya. Kereta langsung melesat meninggalkan tepi sungai. Roda kayu berderak keras, tubuh mereka terhuyung di dalam ruang sempit itu.
Shuyan menahan dinding kereta dengan satu tangan. Napasnya memburu.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Harusnya aku yang bertanya.” Moran mengintip lewat celah tirai jendela kecil. Napasnya belum sepenuhnya teratur. “Apa yang kamu lakukan dengan pria itu di tempat seperti ini?”
“Bukan urusanmu.” Shuyan membuang pandangan. Jarinya saling menggenggam erat di pangkuan. “Katakan kamu mau apa? Aku akan kabulkan semua yang kamu minta, asal jangan—”
“Dia kekasihmu, benar?” Moran memungkas ucapan Shuyan yang terus saja menghindar.
Namun, kini Shuyan hanya tertawa pelan. “Kenapa? Kamu ingin tertawa karena kekasihku hanya seorang pemuda biasa?”
Moran melipat kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya turut bersandar pada dinding kereta.
Shuyan bersikap waspada seperti ini, tampaknya hubungan kakak adik yang diceritakan Xi Bao lebih buruk dari yang Moran kira.
“Seharusnya kau bersyukur aku yang datang lebih dulu. Jika utusan ayah yang menemukanmu, bagaimana kau akan membela diri?”
Shuyan tidak langsung menjawab. Hanya meneliti wajah Moran dengan seksama, seolah baru menyadari sesuatu. “Ayah mengirim orang ke sini?”
Moran menatapnya dengan sudut bibir terangkat tipis. “Lihat saja kereta yang berhenti di belakang itu.”
Shuyan buru-buru membuka jendela kecil di belakang kereta. Terlihat beberapa orang berdiri di tepi sungai Baihe dan tampak menyusuri tempat itu. Gadis berwajah tidur itu kembali menutup jendela. “Kenapa kamu ingin membantuku?”
“Karena aku masih menganggapmu sebagai kakak,” ujar Moran singkat.
Dahi Shuyan berkerut dalam. Ia menoleh pada Xi Bao menuntut penjelasan tetapi pelayan itu hanya menggelengkan kepala. “Bicaralah yang jelas. Aku tidak mengerti maksudmu!”
“Tidak ada gunanya menjelaskan padamu.” Moran membuang napas panjang. “Kalau kamu punya kekasih kenapa tidak bicara dengan ayah agar kalian bisa menikah?”
Shuyan bersandar pada dinding kereta. Kepalanya sedikit mendongak, menatap langit-langit kayu. “Jika bicara dengan ayah semudah bicara denganmu, aku sudah melakukannya sejak dulu.”
Gadis berbaju putih itu menutup mata sejenak. “Feng Lang hanya petani di kaki gunung. Ayah tidak pernah setuju, jadi kami hanya bisa bertemu diam-diam.”
“Ck.” Moran mendengkus kasar. “Apa salahnya menikah dengan petani di kaki gunung? Dengan hasil panen juga bisa hidup layak.”
Xi Bao dan Shuyan saling pandang sejenak, seolah tidak menyangka Moran akan mengatakan hal ini. Namun Shuyan kembali menatap Moran, senyumnya pahit.
“Status keluarganya berbeda dengan kita. Ayah sebagai Menteri Personalia memiliki tanggung jawab penting di kekaisaran tentu harus punya menantu yang bisa diandalkan untuk masa depan.” Shuyan kembali berkata lirih.
“Ayah sudah menjodohkanmu?” selidik Moran.
“Beberapa Tuan Muda dari keluarga Adipati datang melamar. Sebagian dari mereka cukup dekat dengan Putra Mahkota. Ayah memintaku mempertimbangkan lagi.”
Moran menatap mata Shuyan yang sendu.
Saat seperti ini Shuyan memang tak punya pilihan. Tapi menikah dengan para penguasa itu hanya akan membuatnya sengsara.
“Kamu tenang saja. Setelah aku menikah, kamu tidak akan punya saingan lagi di kediaman,” ucap Shuyan lirih, matanya terpejam seolah menerima takdir.
Moran menyipit. “Kamu benar-benar ingin menikah?”
Shuyan tersenyum tipis. “Sebagai anak pertama, terlebih lagi anak seorang selir, bukankah itu sudah menjadi nasibku?”
Moran menarik napas kasar. “Shuyan, percayalah kamu akan mati jika menikah dengan orang yang salah!”
Shuyan menggeleng heran. “Aku rasa kamu hanya iri denganku.”
Mendengar itu Moran melongo beberapa saat. “Kutanya padamu, apa setelah menikah dengan mereka kamu akan baik-baik saja?”
“Aku menikah dengan keluarga bangsawan, tentu saja hidupku akan baik-baik saja,” jawab Shuyan melemparkan pandangan ke sudut lain.
“Oh? Lalu bagaimana dengan Feng Lang?” tanya Moran lagi.
Kali ini Shuyan tidak menjawab. Sepasang mata gadis itu terlihat berembun. Hanya saja ia masih menahan diri.
Semetara Moran mendekat, menatap lekat sang kakak. “Apa kamu tidak ingin hidup bahagia dengan orang yang mencintaimu?”
“Tidak ada yang tidak ingin bahagia, tapi ini berkaitan dengan keluarga kita, jabatan ayah—”
“Jangan pura-pura bodoh lagi!” Moran menatap Shuyan, dadanya naik-turun cepat. “Sebelum-sebelumnya mungkin aku bersalah padamu. Tapi kali ini, aku ingin kamu memikirkan dirimu sendiri. Kamu berhak mendapatkan keinginanmu.”
Mendengar itu Shuyan mengangkat kepala dan menatap Moran lekat-lekat.
“Pikirkan lagi baik-baik. Kalau kamu mau berjuang, sebisa mungkin aku akan membantumu,” ucap Moran kembali meyakinkan sang kakak.
“Kamu … bagaimana cara kamu membantuku?”
Moran terdiam cukup lama. Selama Shuyan tidak menikah dengan pria itu, nyawanya, juga nyawa Moran akan selamat. Dekret itu belum turun… Moran masih sempat menghindarkannya.
Akhirnya Moran mengangkat sudut bibirnya. “Kawin lari!”
Shuyan dan Xi Bao melotot tidak percaya. “Apa?”
Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala
Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta
“Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu
Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang
Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu
“Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har







