แชร์

Chapter 6 | Dekret Dari Istana

ผู้เขียน: Allensia Maren
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-26 11:37:38

Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.

Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.

Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. 

Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.

***

“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”

“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”

“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kalau dia bisa bertindak semena-mena.”

Gerakan tangan Moran terhenti saat ia tengah memilih daun bawang segar di lapak pasar. Ia tak tahan untuk membuang napas pelan, lalu mengambil beberapa helai terbaik dan memasukkannya ke dalam keranjang anyam di tangannya.

Di rumah, di jalan, hingga di pasar yang riuh oleh teriakan pedagang, nama itu terus terselip dalam pembicaraan. 

“Tampaknya topik yang sedang ramai hari ini adalah Jenderal Song,” ujar Xi Bao, pelayan pribadi Moran. Gadis itu berjalan di sampingnya dengan senyum ceria.

“Kamu pun tertarik membahasnya?” Moran tak bisa menahan diri melirik tajam pada Xi Bao.

Xi Bao mengangkat alisnya. Ketidakpercayaan melintas di tatapannya seketika itu. “Nona sebelumnya selalu mengagumi Jenderal Song.”

“Kagum?” Moran mendengus lirih. “Apa yang dikagumi dari pria sekejam itu? Kau tidak dengar tadi para nelayan tak bersalah pun bisa ia bunuh.”

Moran menggeser tubuhnya menghindari seorang pembawa keranjang besar yang berpapasan dengannya. 

Xi Bao mendesah panjang lalu bergumam lagi. “Andai Nona tidak jatuh ke sungai waktu itu, Nona pasti sudah membuat perayaan besar dan tidak mungkin bicara begitu.”

Moran menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Apa aku benar-benar pernah sefanatik itu padanya?” 

Tanpa ragu Xi Bao mengangguk. “Tentu saja.”

Terperangah, Moran memelankan langkahnya. “Sekalipun aku tidak lupa ingatan, aku pasti memperhatikan batasan, kan? Kematian para nelayan itu mana mungkin aku rayakan?”

“Nona mana pernah berpikir soal itu? Yang penting bagi Nona hanya menarik perhatian Jenderal Song.”

“La–lalu … apa dia pernah tertarik padaku?”

Xi Bao menerbitkan senyum terpaksa. “Dia … saking dinginnya tidak pernah menggubris siapapun yang mencari perhatian padanya.”

Napas lega Moran meluncur dari bibirnya. Bukan hanya prestasinya yang membuat rakyat selalu membicarakan Song Jingren. Wajahnya yang dingin dan rupawan itu diam-diam menyihir banyak gadis muda. 

Sayangnya, Song Jingren bukan pria yang luluh oleh kue beras atau senyum malu-malu. Banyak yang datang membawa harapan kecil. Banyak pula yang pulang membawa trauma. 

Berniat menyerahkan sekotak makanan, tetapi justru menyaksikan pedang terhunus tanpa ragu. Entah melihat jari terpotong, kepala terpenggal atau hal lain yang lebih mengerikan lagi. Sekali melihat adegan itu saja sudah cukup untuk menghapus seluruh khayalan untuk menjadi kekasih hatinya.

Moran sendiri tak bisa menahan rasa ngeri setiap kali membayangkan kisah-kisah tersebut. 

Moran menghentikan langkahnya di lapak penjual daging. Ia baru saja mengantre ketika kerumunan mendadak riuh oleh celetukan seorang wanita. 

“Kalian tahu tidak? Aku baru saja keluar rumah dan melihat kereta kasim utusan istana. Kabarnya siang ini Maharani mengeluarkan dekret pernikahan untuk Jenderal Song Jingren. Entah siapa gadis malang yang akan menjadi istrinya.”

“Sungguh? Kasihan sekali gadis itu. Hidupnya pasti tidak akan mudah,” sahut wanita di sebelahnya.

Suasana lapak daging itu semakin gaduh oleh bisik-bisik penasaran.

Moran menelan ludah. Seharusnya Shuyan kakak pertamanya, yang menerima malapetaka itu. Namun, Shuyan sudah pergi bersama kekasihnya tadi malam. Siapa yang akan menjadi istrinya?

Semoga saja alur cerita itu benar-benar bisa berubah.

“Nona, mereka bilang Jenderal Song akan mengirim pasukan untuk menjemput penggantinya hari ini juga. Apa Nona benar-benar tidak peduli padanya?” tanya Xi Bao setelah mengambil daging pesanan.

Moran menoleh ke arah Xi Bao. Ia tertawa pelan. “Memasak daging panggang untuk makan malam jauh lebih penting daripada melihat orang itu,” jawabnya sambil menunjuk tas belanja yang dibawa Xi Bao.

Xi Bao mengangguk patuh, berpikir mungkin sang majikan sudah tidak menyukai jenderal itu lagi. 

Baru saja transaksi selesai, teriakan nyaring dari arah jalan membuat Moran dan Xi Bao spontan menoleh.

Seorang pria dari kediaman Yang berlari tergesa-gesa, napasnya terengah.  “Nona! Nona Kedua!”

Alis Moran langsung bertaut. “Ada apa? Kenapa kamu panik begitu?”

“Nona…” Penjaga itu membungkuk, mencoba mengatur napas. “Siang ini utusan istana datang membawa dekret perjodohan dari Yang Mulia Maharani. Salah satu putri Keluarga Yang dipilih untuk menjadi istri Jenderal Song Jingren!”

Moran terdiam, pupil matanya hampir melebar sempurna. Darah dalam tubuhnya seakan berhenti mengalir.

Mustahil.

Bagaimana bisa? Shuyan kabur kenapa dekret pernikahan itu masih saja turun pada keluarganya?

“A—apa katamu?”

“Awalnya Tuan Besar sudah menetapkan Nona Pertama,” lanjut penjaga itu dengan suara gemetar. “Tetapi semalam Nona Shuyan melarikan diri dan belum ditemukan. Tuan Besar memerintahkan Anda pulang sekarang juga!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 6 | Dekret Dari Istana

    Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 5 | Pergi Tanpa Persiapan

    Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

    “Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 3 | Menghasut Tokoh Utama Kawin Lari

    Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 2 | Menemukan Peluit Giok

    Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

    “Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status