Home / Fantasi / Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir / Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

Share

Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

last update Last Updated: 2026-02-26 11:32:30

“Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”

Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”

Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”

Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”

Shuyan sendiri masih terlihat gamang. 

Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”

“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”

“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu tanpa ragu.”

Shuyan membeku di tempatnya, tetapi wanita itu masih enggan berbicara.

“Shuyan, setidaknya jika kamu pergi, kamu masih memilih nasibmu sendiri.” Moran membujuk untuk terakhir kalinya

Pada akhirnya Shuyan membuang napas panjang. “Moran, Aku bisa bicara baik-baik dengan ayah untuk menolak mereka dan mencari kandidat suami yang lain.”

“Itu hanya solusi sementara waktu. Sekarang kamu bisa menanganinya, tapi bagaimana jika kedepannya kamu berhadapan dengan dekret Maharani? Begitu titah itu turun, makin tak ada yang bisa menolongmu.”

Moran menatap Shuyan lurus-lurus. “Aku tidak bilang ini jalan yang benar. Kawin lari adalah pilihan terakhir yang bisa aku tawarkan. Mungkin Pilihan paling buruk… tapi satu-satunya yang masih memberimu kesempatan hidup sesuai keinginanmu.”

Shuyan terlihat menelan ludahnya kasar. Ia memandang sebuah giok putih di pinggangnya.

Moran memperbaiki posisi duduknya lalu menepuk pundak sang kakak. “Pikirkan baik-baik. Kalau kamu benar-benar ingin pergi, beritahu aku.”

***

Selepas makan malam, Moran merenung di taman belakang. Ia memungut kerikil di samping bangku batu, lalu melemparkannya ke permukaan air.

Namun alis Moran justru semakin mengerut. Kerikil berikutnya melayang dari ujung jarinya, jatuh tanpa arah, seolah mengikuti pikirannya yang kacau.

Di kediaman sebesar ini, setiap orang tampak hidup tenang. Tetapi Moran tahu, akhir kisah mereka dengan begitu jelas. 

“Nona obatnya sudah selesai direbus,” ujar Xi Bao memecah lamunan. Gadis itu meletakkan semangkuk porcelain berisi cairan hitam di meja batu. 

“Obat lagi?” Moran mengernyit. 

Xi Bao mengangguk. “Tabib Liu bilang anda harus minum ini tiga kali sehari.”

“Hidup di zaman modern harus berhadapan dengan Mei Lin yang kejam itu, di dunia cerita ini malah dihadapkan dengan pembantaian yang lebih parah, juga obat-obat herbal yang menyiksa ini,” gumamnya usai melempar batu hingga air kolam beriak.

Xi Bao mengerutkan dahi. “Nona berkata apa?”

“Aku berkata hidupku pahit,” sahut Moran ringan lalu meneguk semangkuk cairan berwarna hitam di hadapannya.

“Apa yang kau gumamkan seorang diri, Moran?” suara lembut terdengar dari belakang.

Moran dan Xi Bao menoleh bersamaan. Xi Bao langsung menunduk memberi hormat. Nyonya Yang berdiri di bawah cahaya lentera. Di sampingnya seorang pelayan membawa membawa nampan berisi jubah putih berbulu tebal. 

“Ibu… mengapa ibu sendiri yang datang kemari?” Moran segera bangkit berdiri menghampiri sang ibu. 

Nyonya Yang tersenyum, lalu duduk di sampingnya. “Malam semakin dingin. Ibu membawakan jubah bulu rubah untukmu. Ibu juga sudah minta pelayan untuk  tambah arang di kamarmu.”

Moran menerima tanpa banyak bicara. “Terima kasih, Ibu.”

Telapak tangan hangat Nyonya Yang menepuk pundaknya perlahan. “Tubuhmu baru pulih, jangan terlalu lama di luar. Istirahatlah lebih awal.”

Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan, nada suaranya makin lembut.

“Ayahmu masih mengkhawatirkanmu. Jadi, meminta Tabib Liu tinggal di halaman samping beberapa hari ini. Seandainya merasa kurang enak badan, suruh Xi Bao memanggilnya.”

Kepala Moran mengangguk cepat. “Moran habis minum obat jadi agak gerah. Nanti kalau sudah mendingan Moran pasti tidur.”

“Kalau begitu, ibu kembali dulu,” ujar Nyonya Yang lalu berbalik pergi bersama pelayannya meninggalkan halamannya.

“Xi Bao.” Moran menyerahkan jubah bulu rubah berwarna putih itu pada Xi Bao. “Halaman kamar ibu ke halamanku bukankah jaraknya cukup jauh? Wanita-wanita di sini tidak takut hantu ya?”

Mendengar itu Xi Bao tertawa kecil. “Nona bercanda? Kediaman ini dijaga ketat oleh beberapa pengawal pribadi Tuan Besar, jangankan orang, hantu pun akan berpikir dua kali.”

“Pengawal pribadi?” Moran menatapnya bingung.

Xi Bao mendekat dan berbisik, seolah takut angin ikut mendengar. “Semua pekerja pria di rumah ini punya kemampuan bela diri. Dari penjaga gerbang sampai tukang kebun, semuanya.”

“Kenapa aku tidak tahu soal ini?”

Xi Bao mengangkat alisnya. “Mungkin karena Nona sudah lupa, sebelumnya Tuan Besar menawari anda ingin belajar bela diri atau tidak, tapi anda lebih suka menjadi wanita lembut dan anggun.” 

Mendengar penjelasan itu Moran melepas napas panjang. Moran yang ini memang bodoh, sekarang menyesal pun sudah terlambat.

Akan tetapi Moran mendekat pada gadis pelayan di sebelahnya. “Apa di halamanku ada juga orang yang bisa bela diri? Berapa jumlahnya?”

“Um … Sekitar sepuluh orang.”

Moran berkedip beberapa kali. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan arti kata pejabat tinggi. Pantas saja Shuyan selalu bertemu kekasihnya di luar rumah. Di sini bahkan daun jatuh mungkin bisa bicara.

Moran lalu lalu mengambil peluit giok yang tergantung di pinggangnya. 

Tadi siang meniup peluit ini sembarangan membuatnya hampir mati ketakutan. Jika ia meniupnya di rumah dan orang misterius itu benar-benar datang lagi… setidaknya ada sepuluh orang yang bisa menolongnya.

Moran mengangkat peluit giok itu ke bibirnya.

Belum sempat meniup, Xi Bao buru-buru menahan pergelangan tangannya. “Nona… jangan bilang Nona mau meniupnya lagi? Bagaimana kalau orang misterius itu muncul?”

“Bukankah kau bilang ada ahli bela diri di halamanku?” Moran menatapnya tenang. “Kalau begitu, yang seharusnya takut bukan aku.”

Xi Bao membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya jelas masih ragu, tetapi pada akhirnya ia melepaskan tangan Moran perlahan.

Peluit giok menyentuh bibirnya. Hembusan napas keluar perlahan.

Tiga tiupan panjang dan jernih pecah di udara malam, mengalun ringan di antara pepohonan bambu.

Sesaat… tidak terjadi apa-apa.

Angin tetap berhembus, lentera tetap bergoyang, dan kolam hanya memantulkan bulan seperti biasa.

Moran menghela napas lega. “Kurasa dia tidak akan datang malam in—”

Suara dedaunan berdesir. Bukan karena angin.

Bayangan hitam jatuh tanpa suara di atas atap paviliun. Dalam satu kedipan mata, sosok berpakaian gelap sudah berdiri di tepi kolam.

Jeritan Xi Bao tercekat di tenggorokan. Ia hampir roboh dan spontan berlindung di balik Moran yang menegang.

Pria yang datang kali ini tak lagi seperti siang tadi. Tatapannya membeku di balik kain penutup wajah. Matanya singgah pada peluit di tangan Moran sebelum terangkat menatap gadis itu.

“Tahukah perintah yang baru saja kau tiup?” 

Moran mengernyit tak mengerti. "Aku cuma meniup peluit ini sembarangan, bagaimana bisa memberi perintah?" 

Pria itu tiba-tiba mengayunkan pedang ke leher Moran. "Satu tiupan panjang, artinya siaga. Tiga tiupan panjang artinya membunuh.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 6 | Dekret Dari Istana

    Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 5 | Pergi Tanpa Persiapan

    Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

    “Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 3 | Menghasut Tokoh Utama Kawin Lari

    Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 2 | Menemukan Peluit Giok

    Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

    “Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status