Home / Fantasi / Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir / Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

Share

Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir
Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir
Author: Allensia Maren

Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

last update Last Updated: 2026-02-26 11:29:42

“Nona Kedua buat masalah lagi?”

“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”

“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”

“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”

Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.

Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. 

“Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. 

Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa hari lalu dan menjelma wujud adik tiri dari pemeran utama yang memiliki nama sama dengannya.

Tokoh utama di novel itu adalah Yang Shuyan, putri tertua yang lahir dari istri kedua, gadis berhati lembut dan berbakat di bidang sastra dan musik.

Ketika keluarga Yang menerima perintah pernikahan dengan Song Jingren, Shuyan dipilih menjadi selirnya.

Sementara itu, adik tirinya, Yang Moran dia adalah putri sah, tetapi tergila-gila pada Song Jingren dan melakukan segala yang ia bisa untuk memenangkan hati sang Jenderal. Ia bahkan tega mencelakai dan memfitnah Shuyan demi obsesinya.

Namun, meski berhasil menyingkirkan kakaknya, akhir hidup Moran tetap tragis. Tanpa sadar ia telah bersekutu dan diperalat oleh Putra Mahkota yang memberontak. Setelah naik takhta, Moran dijadikan gundik dan mati sendirian di istana dingin.

Moran menghela napas, lalu memilah beberapa kosmetik yang menurutnya masih bisa dipakai untuk sehari-hari. Menyisihkan beberapa pemerah bibir berwarna kalem dan bedak yang tidak terlalu putih saat dipakai. 

Pada saat itulah pintu kamar berderit pelan.

Moran refleks menoleh.

Seorang gadis muda melangkah masuk sambil membawa baskom air bercampur kelopak mawar merah. Gadis itu berhenti mendadak di ambang pintu ketika melihat Moran menyisihkan benda-benda di meja riasnya.

“Xi Bao, tolong buang semua bedak tebal ini, juga semua pemerah pipi yang menor ini,” titah Moran ketika melihat pantulan Xi Bao dari cerminnya.

“A–ah?” suara Xi Bao terdengar ragu, tangannya meletakkan baskom ke meja dengan hati-hati. “Nona Kedua sudah tidak suka berdandan lagi?”

Moran sempat terdiam sepersekian detik sebelum tersenyum tipis, berusaha terlihat biasa saja. 

Moran berdeham mencari jawaban. “Kemarin … Bukankah kamu bilang aku sempat berdebat dengan Nona Jiang karena tampilan wajahku ini? Setelah aku lihat lagi, apa yang dia katakan memang benar. Dandanan ini memang buruk.”

Meski tatapannya tidak percaya tetapi Xi Bao menurut saja dan mengambil kotak kosong, mengemasi barang-barang yang dimaksud oleh sang majikan.

Sudut mulut Moran berkedut. Semesta memang sedang mempermainkannya. Sebelumnya dia hanya mengutuk peran antagonis wanita di novel itu karena terlalu bodoh tetapi sekarang ia justru bertransmigrasi sebagai karakter tersebut. 

Sementara tangannya bergerak, kepala Moran tak berhenti berpikir berusaha mengingat alur cerita. 

“Nona? Apa Anda ada masalah?”

Sebuah tepukan ringan di pundaknya membuat Moran tersentak. Ia menoleh cepat. Xi Bao sudah berdiri sangat dekat, wajahnya tampak panik. Gadis itu segera menarik kembali tangannya sendiri, seolah baru sadar telah bertindak lancang.

“Maaf, Nona,” ucap Xi Bao gugup. “Nona Kedua baru saja sembuh dari sakit. Tuan Besar berpesan kalau Nona tiba-tiba teringat sesuatu dan merasa pusing, saya harus segera memanggil tabib.”

Moran menggeleng.

“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa,”  katanya singkat lalu menaruh bedak terakhirnya ke meja. “Oh ya, hari ini kenapa aku tidak melihat Shuyan?” 

Pertanyaan itu terdengar biasa saja, tetapi Xi Bao justru ragu. Ia menunduk sebentar sebelum menjawab, “Nona Shuyan sejak pagi pergi keluar. Saya tidak tahu kemana tujuannya. Hanya berpesan akan kembali sebelum makan siang.”

Moran terdiam. Dadanya terasa mengencang.

Kini ingatan itu muncul dengan jelas. Saat ini, Shuyan seharusnya berada di tepi Sungai Baihe. Di sanalah ia diam-diam bertemu dengan seorang pemuda desa.

Shuyan dibawa pulang dengan paksa. Tubuhnya nyaris diseret masuk ke kediaman. Punggungnya terluka parah dipukul papan, darah merembes membasahi pakaian, sementara wajahnya pucat, tak menyisakan sedikitpun warna.

Moran menegakkan punggungnya. Ia berdiri dari kursi, kain basah masih tergenggam di tangannya. “Xi Bao, cepat siapkan mobil!”

Sepasang mata Xi Bao mengerjap. “Mobil? Apa itu mobil, Nona?” 

Moran melipat bibirnya. Ia lupa bahwa sekarang berada di jaman kuno. Mana ada mobil ataupun kendaraan bermesin?! 

“Ah, maksudku kereta, siapkan kereta yang bisa cepat sampai ke Sungai Baihe.”

Mendengar itu, Xi Bao semakin menekuk dahi. “Nona … Tuan Besar menyuruh anda beristirahat, kalau sampai tahu anda pergi, bukankah akan menjadi masalah?”

Moran menoleh dan membuang napas panjang. Ia meraih kedua bahu Xi Bao dan menatapnya dalam.

“Xi Bao, saat ini nyawa Shuyan juga nyawaku! Aku harus menyelamatkan dia. Kalau aku terlambat, takdir kami berdua akan berakhir.” 

Semua orang tahu jika selama ini Moran tak pernah peduli pada Shuyan. Bahkan, selalu terang-terangan berbuat jahat padanya. 

Jadi, perubahan sikap itu jelas membuat Xi Bao terdiam kebingungan. Namun, ia tak bisa banyak bertanya dan tetap mengangguk lalu berjalan keluar kamar dengan tergesa-gesa.

Beberapa menit kemudian, Moran melangkah keluar kamar. Ia menjumpai Xi Bao yang terengah-engah berlari ke arahnya. “Nona! Nona!”

Moran mengernyit heran. “Xi Bao? Ada apa?”

“Tuan besar juga mengutus orang ke sungai Baihe! Apakah kita akan tetap pergi ke sana?”

Sepasang mata Moran melebar. Ia lalu menarik tangan Xi Bao dan berlari ke luar kediaman. “Cari jalan terdekat! Kita tidak boleh terlambat!” 

Kereta kuda melaju cepat membelah jalanan yang padat. Tubuh Moran berguncang pelan di atas bangku kayu. Kedua tangannya saling meremas cemas meski telah meminta kusir mencari jalan pintas.

Di depannya Xi Bao juga duduk dengan ekspresi yang hampir sama. “Nona, sebenarnya apa yang terjadi di Sungai Baihe ini? Kenapa Tuan Besar juga mengutus orang ke sana?” 

Moran memijat pelipisnya. Entah bagaimana cara menjelaskan pada Xi Bao, si tokoh pelayan setia ini. Ia sedang lupa ingatan tidak mungkin mengandalkan ingatan. 

“Aku … Shuyan bilang padaku mau datang kesana menemui seseorang, jadi sebelum orang utusan ayah salah paham, aku harus sampai di sana,” jelas Moran pada akhirnya.

Xi Bao hanya mengerjapkan sepasang matanya beberapa kali.  Sampai akhirnya, ia memberanikan diri untuk bertanya, “Nona … sejak kapan anda menjadi dekat dengan Nona Shuyan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 6 | Dekret Dari Istana

    Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 5 | Pergi Tanpa Persiapan

    Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

    “Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 3 | Menghasut Tokoh Utama Kawin Lari

    Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 2 | Menemukan Peluit Giok

    Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

    “Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status