เข้าสู่ระบบMoran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.
“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”
Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.
Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”
Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.
“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”
Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di tangannya diturunkan. “Pegang ujungnya. Ada bekas patah yang dipoles ulang. Di sisi belakang terukir namaku.”
Moran menelan ludah. Ia meraba ujung peluit itu dengan hati-hati. Benar saja, ada bekas patahan yang halus namun terasa jelas di bawah jarinya. Ia membaliknya perlahan, menyipitkan mata untuk melihat ukiran kecil di bagian belakang.
Yin Zhen.
Jari Moran berhenti bergerak. Dadanya berdebar makin keras.
“Baik… itu cukup meyakinkan,” gumamnya pelan. Ia mengangkat pandangannya, berusaha tetap tenang. “Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang kehilangan barang. Kau terlihat seperti orang yang datang menagih nyawa.”
Sepasang mata pendekar itu kembali mengerut. Dalam sekejap, pedangnya kembali menempel di leher Moran. Ujung bilahnya menekan kulitnya hingga terasa perih.
Pria itu melangkah maju, tubuhnya tinggi menjulang. Wajahnya mendekat, napasnya menyentuh telinga Moran yang beranting rumbai.
“Orang yang mengaku kekasihku memang pantas dilenyapkan.”
Napas Moran tersendat. Punggungnya terasa dingin oleh keringat. Di sudut ruangan, Xi Bao sudah gemetaran. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak berani bersuara.
“Soal itu, aku minta maaf.” Moran berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Aku hanya asal meniup peluit ini. Tidak kusangka suaranya membuat teman-temanmu datang menghadang keretaku. Dalam keadaan terdesak, aku terpaksa mengaku sebagai kekasihmu.”
Moran tersenyum canggung, lalu kembali melanjutkan, “Tapi sebagai gantinya, aku akan membayar ganti rugi.”
Dengan gerakan perlahan, ia melepas liontin berbentuk bunga yang tergantung di pinggangnya. Rantai tipis itu berkilau saat terangkat. Ia menyerahkannya bersama peluit giok, telapak tangannya terbuka di hadapan pria itu.
“Sebagai jaminan, aku akan mengirimkan makanan untukmu. Katakan di mana aku bisa mencarimu?”
Pendekar itu menatap benda-benda di tangannya tanpa ekspresi. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia menarik kembali pedangnya. Bilah itu menghilang ke dalam sarung dengan suara gesekan halus. Tangannya hanya mengambil peluit giok, sementara liontin bunga itu tetap berada di telapak Moran.
Moran mengembuskan napas pelan ketika tekanan di lehernya menghilang. Ia tanpa sadar menyentuh kulitnya yang memerah.
Namun, pendekar bernama Yin Zhen itu menyelipkan peluit itu ke pinggangnya tanpa menjawab pertanyaan Moran.
“Kau sudah menyelamatkanku waktu tenggelam tadi. Aku sungguh berutang budi,” kata Moran.
“Tidak perlu. Aku tidak perhitungan untuk hal kecil.” Pria itu berbalik. Jubahnya berkibar ringan saat ia melangkah menjauh. “Asal kau tidak sembarangan lagi mengaku sebagai kekasihku, itu sudah cukup.”
Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Dalam beberapa detik, sosoknya sudah melompat melewati pagar halaman dan menghilang di balik atap-atap rumah.
Moran berdiri terpaku beberapa saat sebelum lututnya melemas dan terduduk di kursi batu. Ia menatap liontin bunga di tangannya, lalu menyentuh pelan lehernya yang masih terasa dingin oleh bekas bilah pedang.
“Nona… Anda tidak apa-apa?” Xi Bao bergegas mendekat. Gadis itu hampir tersandung roknya sendiri saking paniknya. Tangannya terulur, memeriksa leher Moran dengan cemas. “Astaga, tadi pedangnya benar-benar—”
“Aku baik-baik saja.” Moran menggeleng pelan, meski denyut nadinya masih berdetak cepat di pelipis.
Xi Bao mengerucutkan bibir, jelas masih kesal. “Pendekar itu angkuh sekali! Nona sudah berniat baik tetapi dia malah mengacungkan pedang. Sungguh menyebalkan!”
“Tidak masalah,” lanjut Moran akhirnya, menggenggam liontin itu lebih erat. “Kita sudah tahu namanya.”
Xi Bao berkedip. “Nona benar-benar ingin mencarinya lagi?”
Moran mengangkat sudut bibirnya tipis. “Dia membawa peluit komando, dan memiliki bawahan. Orang seperti itu pasti bukan orang biasa. Semoga saja kami bisa bertemu lagi.”
***
Tengah malam itu Moran tidak bisa tidur. Entah mengapa pikirannya tidak bisa tenang. Setiap memejamkan mata, yang terbayang di mimpinya adalah sebuah pedang terhunus mengarah tepat ke tenggorokannya. Kilatan baja itu memantulkan cahaya dingin, dan di baliknya berdiri sosok Yin Zhen dengan tatapan tanpa ampun.
Ia terbangun berkali-kali dengan napas tersengal. Jemarinya mencengkeram selimut hingga kusut. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara malam menusuk tulang.
Baru saja ia hendak memaksakan diri memejamkan mata lagi, terdengar suara ketukan pelan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Tubuh Moran menegang. Ia duduk perlahan, meraih jepit rambut kayu di atas meja rias dan menggenggamnya seperti senjata. Langkahnya ringan ketika turun dari ranjang. Setiap papan lantai yang berderit membuat jantungnya berdegup makin keras.
Ketukan itu terdengar lagi. Lebih cepat.
Dengan napas tertahan, Moran membuka pintu hanya selebar telapak tangan.
Ketika daun pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Moran saat Shuyan berdiri di ambang pintu. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam, jubah panjang menyapu lantai. Sebuah tas kain besar tersampir di pundaknya. Rambutnya diikat sederhana, siap bepergian. Wajahnya sembab dan matanya memerah.
"Shuyan?"
Shuyan segera menutup bibir Moran dengan telunjuknya. Gerakannya cepat dan tegas.
“Aku tidak punya banyak waktu,” potongnya cepat. Suaranya tertahan sengaja dipelankan. “Aku akan pergi malam ini.”
“Pergi?” Moran mengerutkan dahi. “Ke mana?”
“Ke mana pun selain di sini.” Senyum tipis muncul di bibir Shuyan, tapi matanya berkabut. “Kamu benar. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak mencintaiku.”
Udara di sekitar tubuh Moran serasa membeku. Baru siang tadi ia berceramah, Shuyan langsung bersedia pergi?
"Tapi kenapa tiba-tiba begini? Aku memintamu pergi tapi bukan tanpa persiapan. Bagaimana kalau tunggu sampai besok? Aku akan carikan tempat yang nyaman untukmu."
Shuyan menggeleng. “Setelah makan malam, aku mendengar percakapan ayah dan ibu. Jika aku tidak mau memilih, ayah sendiri yang akan menentukan siapa suamiku. Lalu Feng Lang … Besok pagi Ayah akan mengutus orang ke sana untuk mengantarnya keluar dari ibu kota.”
Moran menelan ludah. Ia menatap sepasang bola mata Shuyan yang basah. "Kamu sudah memikirkan ini matang-matang?"
Shuyan mengangguk mantap. "Aku akan pergi ke tempat Feng Lang. Setelah itu kami akan pergi bersama. Soal uang kamu tidak perlu khawatir, aku ada sedikit tabungan untuk hidup beberapa bulan ke depan."
Pada akhirnya Moran hanya bisa mengangguk. Ia melebarkan tangannya dan memeluk tubuh Shuyan. Mungkin ini terasa kejam tetapi ini semua demi kelangsungan hidupnya sendiri. Moran tidak bisa melihatnya mati tanpa keadilan begitu saja.
"Setelah kamu mendapatkan tempat baru, tolong kabari aku," ujar Moran seraya melepas pelukannya.
Shuyan mengangguk dan menghapus air matanya. Bibirnya bergerak naik. "Jaga dirimu. Jangan buat onar lagi. Aku tidak bisa membelamu."
Moran mengangguk lagi. Air matanya jatuh deras ketika tak lagi melihat punggung Shuyan di kegelapan.
Semoga saja jalan yang dia pilihkan untuk Shuyan ini tidak salah. Dan semoga saja berawal dari hal kecil ini takdir yang kejam itu bisa diubah.
Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala
Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta
“Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu
Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang
Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu
“Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har







