Share

Chapter 5 | Pergi Tanpa Persiapan

Penulis: Allensia Maren
last update Tanggal publikasi: 2026-02-26 11:34:12

Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.

“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”

Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.

Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”

Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.

“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”

Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di tangannya diturunkan. “Pegang ujungnya. Ada bekas patah yang dipoles ulang. Di sisi belakang terukir namaku.”

Moran menelan ludah. Ia meraba ujung peluit itu dengan hati-hati. Benar saja, ada bekas patahan yang halus namun terasa jelas di bawah jarinya. Ia membaliknya perlahan, menyipitkan mata untuk melihat ukiran kecil di bagian belakang.

Yin Zhen.

Jari Moran berhenti bergerak. Dadanya berdebar makin keras.

“Baik… itu cukup meyakinkan,” gumamnya pelan. Ia mengangkat pandangannya, berusaha tetap tenang. “Tapi kau tidak terlihat seperti orang yang kehilangan barang. Kau terlihat seperti orang yang datang menagih nyawa.”

Sepasang mata pendekar itu kembali mengerut. Dalam sekejap, pedangnya kembali menempel di leher Moran. Ujung bilahnya menekan kulitnya hingga terasa perih.

Pria itu melangkah maju, tubuhnya tinggi menjulang. Wajahnya mendekat, napasnya menyentuh telinga Moran yang beranting rumbai.

“Orang yang mengaku kekasihku memang pantas dilenyapkan.”

Napas Moran tersendat. Punggungnya terasa dingin oleh keringat. Di sudut ruangan, Xi Bao sudah gemetaran. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak berani bersuara.

“Soal itu, aku minta maaf.” Moran berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Aku hanya asal meniup peluit ini. Tidak kusangka suaranya membuat teman-temanmu datang menghadang keretaku. Dalam keadaan terdesak, aku terpaksa mengaku sebagai kekasihmu.”

Moran tersenyum canggung, lalu kembali melanjutkan, “Tapi sebagai gantinya, aku akan membayar ganti rugi.”

Dengan gerakan perlahan, ia melepas liontin berbentuk bunga yang tergantung di pinggangnya. Rantai tipis itu berkilau saat terangkat. Ia menyerahkannya bersama peluit giok, telapak tangannya terbuka di hadapan pria itu.

“Sebagai jaminan, aku akan mengirimkan makanan untukmu. Katakan di mana aku bisa mencarimu?”

Pendekar itu menatap benda-benda di tangannya tanpa ekspresi. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia menarik kembali pedangnya. Bilah itu menghilang ke dalam sarung dengan suara gesekan halus. Tangannya hanya mengambil peluit giok, sementara liontin bunga itu tetap berada di telapak Moran.

Moran mengembuskan napas pelan ketika tekanan di lehernya menghilang. Ia tanpa sadar menyentuh kulitnya yang memerah.

Namun, pendekar bernama Yin Zhen itu menyelipkan peluit itu ke pinggangnya tanpa menjawab pertanyaan Moran.

“Kau sudah menyelamatkanku waktu tenggelam tadi. Aku sungguh berutang budi,” kata Moran.

“Tidak perlu. Aku tidak perhitungan untuk hal kecil.” Pria itu berbalik. Jubahnya berkibar ringan saat ia melangkah menjauh. “Asal kau tidak sembarangan lagi mengaku sebagai kekasihku, itu sudah cukup.”

Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Dalam beberapa detik, sosoknya sudah melompat melewati pagar halaman dan menghilang di balik atap-atap rumah.

Moran berdiri terpaku beberapa saat sebelum lututnya melemas dan terduduk di kursi batu. Ia menatap liontin bunga di tangannya, lalu menyentuh pelan lehernya yang masih terasa dingin oleh bekas bilah pedang.

“Nona… Anda tidak apa-apa?” Xi Bao bergegas mendekat. Gadis itu hampir tersandung roknya sendiri saking paniknya. Tangannya terulur, memeriksa leher Moran dengan cemas. “Astaga, tadi pedangnya benar-benar—”

“Aku baik-baik saja.” Moran menggeleng pelan, meski denyut nadinya masih berdetak cepat di pelipis.

Xi Bao mengerucutkan bibir, jelas masih kesal. “Pendekar itu angkuh sekali! Nona sudah berniat baik tetapi dia malah mengacungkan pedang. Sungguh menyebalkan!”

“Tidak masalah,” lanjut Moran akhirnya, menggenggam liontin itu lebih erat. “Kita sudah tahu namanya.”

Xi Bao berkedip. “Nona benar-benar ingin mencarinya lagi?”

Moran mengangkat sudut bibirnya tipis. “Dia membawa peluit komando, dan memiliki bawahan. Orang seperti itu pasti bukan orang biasa. Semoga saja kami bisa bertemu lagi.”

***

Tengah malam itu Moran tidak bisa tidur. Entah mengapa pikirannya tidak bisa tenang. Setiap memejamkan mata, yang terbayang di mimpinya adalah sebuah pedang terhunus mengarah tepat ke tenggorokannya. Kilatan baja itu memantulkan cahaya dingin, dan di baliknya berdiri sosok Yin Zhen dengan tatapan tanpa ampun.

Ia terbangun berkali-kali dengan napas tersengal. Jemarinya mencengkeram selimut hingga kusut. Keringat dingin membasahi pelipisnya meski udara malam menusuk tulang.

Baru saja ia hendak memaksakan diri memejamkan mata lagi, terdengar suara ketukan pelan di pintu.

Tok. Tok. Tok.

Tubuh Moran menegang. Ia duduk perlahan, meraih jepit rambut kayu di atas meja rias dan menggenggamnya seperti senjata. Langkahnya ringan ketika turun dari ranjang. Setiap papan lantai yang berderit membuat jantungnya berdegup makin keras.

Ketukan itu terdengar lagi. Lebih cepat.

Dengan napas tertahan, Moran membuka pintu hanya selebar telapak tangan.

Ketika daun pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Moran saat Shuyan berdiri di ambang pintu. Gadis itu mengenakan pakaian serba hitam, jubah panjang menyapu lantai. Sebuah tas kain besar tersampir di pundaknya. Rambutnya diikat sederhana, siap bepergian. Wajahnya sembab dan matanya memerah.

"Shuyan?"

Shuyan segera menutup bibir Moran dengan telunjuknya. Gerakannya cepat dan tegas.

“Aku tidak punya banyak waktu,” potongnya cepat. Suaranya tertahan sengaja dipelankan. “Aku akan pergi malam ini.”

“Pergi?” Moran mengerutkan dahi. “Ke mana?”

“Ke mana pun selain di sini.” Senyum tipis muncul di bibir Shuyan, tapi matanya berkabut. “Kamu benar. Aku tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak mencintaiku.”

Udara di sekitar tubuh Moran serasa membeku. Baru siang tadi ia berceramah, Shuyan langsung bersedia pergi?

"Tapi kenapa tiba-tiba begini? Aku memintamu pergi tapi bukan tanpa persiapan. Bagaimana kalau tunggu sampai besok? Aku akan carikan tempat yang nyaman untukmu."

Shuyan menggeleng. “Setelah makan malam, aku mendengar percakapan ayah dan ibu. Jika aku tidak mau memilih, ayah sendiri yang akan menentukan siapa suamiku. Lalu Feng Lang … Besok pagi Ayah akan mengutus orang ke sana untuk mengantarnya keluar dari ibu kota.”

Moran menelan ludah. Ia menatap sepasang bola mata Shuyan yang basah. "Kamu sudah memikirkan ini matang-matang?" 

Shuyan mengangguk mantap. "Aku akan pergi ke tempat Feng Lang. Setelah itu kami akan pergi bersama. Soal uang kamu tidak perlu khawatir, aku ada sedikit tabungan untuk hidup beberapa bulan ke depan."

Pada akhirnya Moran hanya bisa mengangguk. Ia melebarkan tangannya dan memeluk tubuh Shuyan. Mungkin ini terasa kejam tetapi ini semua demi kelangsungan hidupnya sendiri. Moran tidak bisa melihatnya mati tanpa keadilan begitu saja.

"Setelah kamu mendapatkan tempat baru, tolong kabari aku," ujar Moran seraya melepas pelukannya. 

Shuyan mengangguk dan menghapus air matanya. Bibirnya bergerak naik. "Jaga dirimu. Jangan buat onar lagi. Aku tidak bisa membelamu."

Moran mengangguk lagi. Air matanya jatuh deras ketika tak lagi melihat punggung Shuyan di kegelapan. 

Semoga saja jalan yang dia pilihkan untuk Shuyan ini tidak salah. Dan semoga saja berawal dari hal kecil ini takdir yang kejam itu bisa diubah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 28 | Si Tuan Muda Liu

    “Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 27 | Kehebatan Moran

    Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 26 | Mencapai Kesepakatan

    Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 25 | Paviliun Seribu Tamu

    Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 24 | Gosip Para Pelayan

    Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 23 | Tetap Awasi Dia

    Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 22 | Sedang Diawasi

    Moran segera meninggalkan aula leluhur dan berjalan menuju kamarnya. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa langkah melewati koridor yang sunyi. Lentera yang tergantung di bawah atap bergoyang perlahan tertiup angin sore. Bayangan mereka memanjang di lantai batu.Di belakangnya, Jin Lin berjalan beber

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 12 | Pengirim Hadiah Tanpa Nama

    Moran meletakkan kayu penggulung setelah memipihkan adonan terakhir. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan sisa tepung yang menempel di telapak dan jemarinya. Butiran tepung beterbangan tipis di udara sebelum perlahan jatuh ke meja kayu yang sudah penuh taburan putih.“Hadiah itu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 11 | Diabaikan Para Pelayan

    Kalimat itu dikatakan dengan penuh penekanan. Akan tetapi Song Jingren lebih dulu menarik pedangnya sebelum Moran sempat menyanggah. Hanya perlu hitungan detik, pria itu memutar pergelangan tangannya lalu menarik kembali senjatanya. Ia mengembalikan pedang kepada Jin Lin dan pergi melewati Moran be

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 10 | Hari Pertama sebagai Nyonya Jenderal

    Xi Bao melirik sekitar. “Pengantar barang tidak menyebutkan nama pengirimnya hanya bilang dari sepupu jauh dari Nanhe,” ujar Xi Bao merendahkan suaranya semakin pelan. “Tapi Nona tidak punya kerabat dari Nanhe. Mungkinkah ini dari Nona Shuyan?”Moran tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status