แชร์

Chapter 2 | Menemukan Peluit Giok

ผู้เขียน: Allensia Maren
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-26 11:30:54

Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”

Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”

Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. 

“Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. 

“Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”

Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. 

Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. 

“Eh, Xi Bao, kamu bilang saat aku jatuh ke sungai kemarin aku ditolong seseorang, apa kamu mengenalnya?” Moran kembali bertanya membuat Xi Bao menggaruk kepalanya ragu. 

“Nona … orang itu menggunakan penutup wajah dan membawa pedang. Sepertinya bukan orang biasa. Dia juga kelihatan buru-buru pergi setelah menyelamatkan Nona.”

Penjelasan Xi Bao membuat Moran menekuk dahi. Dalam cerita asli ia tidak pernah merasa membaca bagian ini. Semua bagian buku itu ditulis dari pengalaman Shuyan. 

“Oh, ya, Nona.” Xi Bao mengeluarkan sebuah sebuah peluit giok kecil berwarna putih gading dan menyerahkannya pada Moran. “Kemarin saya menemukan barang ini di dekat tubuh Nona. Sepertinya ini barang milik orang itu.”

Moran mengamati seruling kecil di tangannya. Tidak ada yang aneh pada peluit itu. Ukurannya pas digenggam, ringan, dengan ukiran sederhana di ujungnya. Hanya saja ada sedikit noda merah mengering di permukaannya. Bekas darah itu sudah berubah gelap, seolah pemiliknya bahkan tidak sempat membersihkannya.

Mungkinkah orang yang menyelamatkannya tadi sedang terluka?

Moran menutup telapak tangannya, menyembunyikan benda itu di balik lengan baju.

“Coba katakan lagi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa jatuh ke sungai?” Moran bersiap menyimak penjelasan Xi Bao.

Xi Bao tampak masih gelisah. Ia meremas ujung pakaiannya berkali kali sebelum menjawab.

“Saya juga tidak terlalu jelas. Waktu itu Nona bilang ingin membeli pemerah pipi dan wewangian baru, jadi kita berpisah. Nona ke toko kosmetik dan saya membeli buah persik. Tapi saat saya menyusul, toko kosmetik sudah ramai sekali.” Ia menelan ludah. “Nona Saling mendorong dengan Putri Jiang sampai akhirnya Nona jatuh ke sungai.”

Moran mengernyit tipis. 

Xi Bao melanjutkan cepat, seakan takut dimarahi. “Setelahnya orang itu datang entah dari mana dan langsung menyelamatkan Nona. Saya awalnya ingin menemui dia untuk memberi uang sebagai tanda terima kasih, tapi dia pergi dengan cepat. Seperti sedang mengejar sesuatu.”

Kabin kecil itu kembali sunyi. Moran menatap seruling di tangannya sekali lagi. Mungkin berguna untuk mencari siapa pemiliknya. 

Tanpa pikir panjang Moran meniup peluit itu hingga berbunyi nyaring sebanyak tiga kali. 

Sekilas, tidak ada hal aneh yang terjadi. Tetapi entah kenapa tiba-tiba angin berhembus cukup kencang. 

Jalanan itu lengang, tetapi kereta mereka seolah sedang di awasi berbagai pasang mata. Bahkan Xi Bao beberapa kali menyentuh tengkuknya sendiri.

“Nona … setelah meniup peluit ini tidak akan ada masalah kan?”

Hanya saja, selang beberapa detik tiba-tiba kereta kuda yang ditunggangi mereka mendadak berhenti.

Kusir di depan bicara dengan terbata-bata. “No—nona… ada orang yang mencegat kereta.”

Moran menyingkap tirai. Di tengah jalan berdiri beberapa pria serba hitam dengan penutup wajah. Mereka membawa pedang berjajar rapi menghalangi jalur kereta.

Xi Bao langsung pucat. “Nona, apakah mereka bandit?” gumamnya gemetaran. 

Pandangan Moran tertuju pada Pria yang memimpin baris depan, ia melangkah maju. Tatapannya dingin dan tajam, lalu berhenti tepat di luar jangkauan kuda. 

“Tuan-tuan sekalian …” Moran memberanikan diri melepas tusuk konde emas dari sanggulnya. “Kami keluar dari kediaman dengan terburu-buru jadi tidak sempat membawa uang banyak, tapi emas ini bisa kalian tukarkan di pegadaian.”

Alih-alih mengambil perhiasan di tangan Moran, pemimpin para pria berbaju hitam itu menyarungkan pedang. Sedangkan tiga lainnya bersiaga mengacungkan bilah pisau panjang ke arah Moran. 

“Nona, boleh tahu dari mana anda mendapatkan peluit itu?” Sepasang mata pria itu jatuh pada Pada peluit kecil di tangan Moran. Ternyata mereka datang karena suara peluit itu.

Xi Bao dan kusir sudah gemetaran karena takut. Sementara Moran menahan diri agar tetap terlihat tenang.

“Ini… milik kekasihku. Terjatuh saat dia menemuiku,” jawab Moran sekenanya, satu-satunya alasan yang terlintas di kepalanya saat itu. Ia lalu memaksakan senyum lebar, meski para pria di depannya masih menatap penuh curiga.

“Kalian teman kekasihku?” lanjut Moran ringan. “Kebetulan aku sedang kesal dan malas menghubunginya. Kalau kalian bertemu dengannya, bilang saja dia harus mengambil sendiri peluit ini di kediaman keluarga Yang.”

Ekspresi para pria di hadapannya seketika berubah. Pedang panjang mereka kembali ke sarung hampir bersamaan. Kepalan tangan kanan ditutup telapak kiri di depan dada, kepala menunduk sepersekian napas, lalu mereka mundur setengah langkah memberi jalan.

Pemimpin pria itu tidak mengatakan apapun, tetapi sorot matanya sedikit melunak. Tangannya bergerak mempersilahkan kereta Moran berjalan sebelum menghilang dari pandangan.

Xi Bao baru berani bernapas lega sekaligus kebingungan. “Eh? Apa maksudnya? Kenapa mereka pergi? Apa mereka takut dengan Nona?”

Moran menggeleng, sekali lagi menatap peluit di tangannya. “Entahlah, tapi mereka tidak berniat membunuh kita,” gumamnya sebelum memberi perintah. “lanjutkan perjalanan!”

Hanya saja di sampingnya Xi Bao menelan ludahnya kasar. “Nona … tapi anda baru saja mengatakan sembarangan bahwa benda itu milik kekasih anda, lalu memintanya mengambil ke kediaman, bagaimana kalau pemilik peluit ini marah dan membuat masalah?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 6 | Dekret Dari Istana

    Malam itu tersiar kabar bajak laut menyerang pelabuhan selatan ibu kota.Dalam gelapnya malam, satuan elit Kekaisaran, Biro Keamanan Internal, bergerak cepat. Saat matahari terbit, dermaga telah berubah menjadi lautan darah.Di bawah komando Song Jingren, jenderal muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan, pasukan elit itu menyapu bersih musuh. Kepala pemimpin bajak laut itu kini terbaring di hadapan Maharani sebagai bukti kemenangan mutlak.***“Kau dengar? Pelabuhan selatan diserang. Jenderal Song langsung turun tangan. Semalam saja dermaga itu penuh mayat. Para nelayan yang ada di sekitar pun tidak luput dari pembantaian.”“Aku dengar dia memenggal pemimpin bajak laut dan menggantung kepalanya di gerbang kota sebelum membawanya ke hadapan Maharani. Benar-benar iblis berkuda hitam.”“Keluarga Song pilar militer Kekaisaran. Sejak Kekaisaran Jinyu berdiri, mereka selalu berada di garis depan. Bahkan mendiang Kaisar dan Maharani sangat mempercayai mereka. Tidak heran lagi kala

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 5 | Pergi Tanpa Persiapan

    Moran spontan mengangkat kedua tangan. Pergelangan tangannya sedikit bergetar, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat kaku.“Tu… tuan Pendekar, sepertinya ada salah paham di antara kita. Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik? Aku akan menuangkan teh untukmu.”Angin malam berhembus tipis, menggoyangkan rumbai antingnya. Ujung pedang di lehernya tidak bergeser sedikit pun. Kilau dingin bilahnya memantulkan wajah Moran yang pucat.Alis pria itu terangkat tipis. “Kembalikan peluitnya. Jangan buang waktuku.”Moran mempertahankan senyumnya meski tenggorokannya kering. Jemarinya bergerak perlahan ke arah lengan baju, seolah takut satu gerakan salah akan membuat pedang itu menggores kulitnya.“Ah, tentu. Aku pasti mengembalikannya. Tapi kalau benar milikmu, kau bisa menyebutkan cirinya, bukan?” Moran mundur setengah langkah. Tumitnya menyentuh kaki meja di belakangnya. “Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyerahkannya pada orang yang salah.”Tatapan pria itu tidak goyah. Pedang di ta

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 4 | Kedatangan Pendekar Misterius

    “Ka… kawin lari?” suara Shuyan bergetar. Ia melepas tangan Moran dan membuang pandangan ke sudut kabin kereta kayu. “Tidak! Bagaimana mungkin aku melakukan hal tercela semacam itu?”Xi Bao langsung pucat. “Nona jangan berkata sembarangan! Jika Tuan Besar tahu, beliau pasti memutus hubungan dengan Nona Shuyan.”Moran menghela napas pendek. “Kalau begitu beri aku cara lain. Apa kamu bisa menjadikan Feng Lang putra pejabat ibu kota dalam semalam?”Xi Bao terdiam. “Bu… bukan begitu maksud saya…”Shuyan sendiri masih terlihat gamang. Moran kembali memegang kedua bahu sang kakak. “Pilihanmu sekarang hanya dua. Kabur dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan para pria penguasa itu dan menunggu mati?”“Tapi kalau aku pergi kawin lari bagaimana dengan reputasi—”“Apakah nama baik bisa membuatmu bahagia?” suara Moran meninggi. “Menjadi istri pejabat mana pun pada akhirnya sama saja. Hari ini mereka mengangkatmu setinggi langit. Besok, saat kamu tak berguna, mereka akan menyingkirkanmu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 3 | Menghasut Tokoh Utama Kawin Lari

    Moran tersenyum kecut dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Mengaku menjadi kekasih orang asing adalah hal sembrono yang pernah ia lakukan. “Menyelamatkan nyawa lebih penting. Saat dia datang mengambil peluit nanti, aku akan menjelaskannya.” Perjalanan mereka kembali terasa sunyi, Moran seolah tidak peduli, tetapi pikirannya terus saja berputar kejadian yang baru saja ia alami. Moran hanya asal meniupnya, tetapi justru muncul beberapa orang misterius. Jelas itu bukan peluit biasa. Namun, pada buku cerita yang telah ia baca sebelumnya adegan ini bahkan tidak ada. Atau karena membaca cepat sehingga ia melewatkannya? Moran harus menyelidiki lagi tentang peluit giok itu dan mengembalikan pada pemiliknya, tetapi setelah melakukan sebuah urusan penting untuk menyelamatkan masa depannya.***Setibanya di Sungai Baihe, langkah Moran mendadak terhenti.Dadanya seolah dipukul keras ketika matanya menangkap sosok Shuyan di tepi sungai. Ia melihat jelas bagaimana pemuda itu menunduk, tang

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 2 | Menemukan Peluit Giok

    Moran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.”Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.”Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu

  • Maaf Jenderal, Aku Datang untuk Mengubah Takdir   Chapter 1 | Bertransmigrasi Menjadi Nona Jahat

    “Nona Kedua buat masalah lagi?”“Iya. Katanya karena berebut pemerah pipi dengan Putri Perdana Menteri Jiang. Lihatlah sekarang dia bahkan tidak ingat siapa dirinya.”“Nyonya dan Tuan Besar terlalu memanjakannya sampai jadi seperti ini. Setiap hari hanya memikirkan perona pipi dan bedak. Berbeda dengan Nona Shuyan yang tekun belajar puisi dan guqin.”“Ya … Nona Pertama memang layak diberi penghargaan gadis berbakat di Ibu Kota.”Bisik-bisik pelayan terdengar dari balik jendela. Moran menutupnya pelan. Ia menghela napas panjang melangkah mendekati meja rias di sudut kamar. Sebuah cermin perunggu bundar berdiri di atasnya, memantulkan wajahnya sendiri.Pemerah pipi tampak berjajar rapi, warnanya merah mencolok. Kertas pemerah bibir dengan warna menyala, lalu koleksi bedak putih dari berbagai toko semua ada di meja itu. “Pantas saja mereka menertawakan pemilik tubuh ini,” gumam Moran lirih. Moran sepenuhnya sadar bahwa dia telah bertransmigrasi ke dunia novel yang dia baca beberapa har

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status