LOGINMoran sontak memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu? Bukankah aku dan dia adik kakak?”
Kepala Xi Bao bergerak mengangguk. “Tapi hubungan kalian tidak baik, terutama anda yang bersikap tidak sopan. Anda selalu memaki-maki Nona Shuyan, anda juga pernah ribut gara-gara sepotong kue dengannya sampai seluruh Ibu Kota Yujing ini menertawakan anda.” Rasa nyeri tiba-tiba menghantam kepala Moran. Sungguh ia melewatkan satu hal penting. Pemilik tubuh ini suka mencari gara-gara dengan Shuyan karena iri dia adalah gadis yang dikagumi banyak pria. “Nona … anda sedang tidak merencanakan hal buruk pada Nona Shuyan, kan?” Xi Bao menatap khawatir. “Aku tidak merencanakan apapun. Aku hanya menolong dia supaya ayah tidak menghukumnya dengan—maksudku salah paham.” Moran menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi. “Ada baiknya kalau Kakak adik tidak boleh terus berkonflik.” Apalah daya hanya itu yang bisa Moran katakan. Xi Bao akhirnya mengangguk. Ada raut lega sekaligus was-was di wajahnya. “Eh, Xi Bao, kamu bilang saat aku jatuh ke sungai kemarin aku ditolong seseorang, apa kamu mengenalnya?” Moran kembali bertanya membuat Xi Bao menggaruk kepalanya ragu. “Nona … orang itu menggunakan penutup wajah dan membawa pedang. Sepertinya bukan orang biasa. Dia juga kelihatan buru-buru pergi setelah menyelamatkan Nona.” Penjelasan Xi Bao membuat Moran menekuk dahi. Dalam cerita asli ia tidak pernah merasa membaca bagian ini. Semua bagian buku itu ditulis dari pengalaman Shuyan. “Oh, ya, Nona.” Xi Bao mengeluarkan sebuah sebuah peluit giok kecil berwarna putih gading dan menyerahkannya pada Moran. “Kemarin saya menemukan barang ini di dekat tubuh Nona. Sepertinya ini barang milik orang itu.” Moran mengamati seruling kecil di tangannya. Tidak ada yang aneh pada peluit itu. Ukurannya pas digenggam, ringan, dengan ukiran sederhana di ujungnya. Hanya saja ada sedikit noda merah mengering di permukaannya. Bekas darah itu sudah berubah gelap, seolah pemiliknya bahkan tidak sempat membersihkannya. Mungkinkah orang yang menyelamatkannya sedang terluka? Moran menutup telapak tangannya, menyembunyikan benda itu di balik lengan baju. “Coba katakan lagi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa jatuh ke sungai?” Moran bersiap menyimak penjelasan Xi Bao. Xi Bao tampak masih gelisah. Ia meremas ujung pakaiannya berkali kali sebelum menjawab. “Saya juga tidak terlalu jelas. Waktu itu Nona bilang ingin membeli pemerah pipi dan wewangian baru, jadi kita berpisah. Nona ke toko kosmetik dan saya membeli buah persik. Tapi saat saya menyusul, toko kosmetik sudah ramai sekali.” Ia menelan ludah. “Nona Saling mendorong dengan Putri Jiang sampai akhirnya Nona jatuh ke sungai.” Moran mengernyit tipis. Xi Bao melanjutkan cepat, seakan takut dimarahi. “Setelahnya orang itu datang entah dari mana dan langsung menyelamatkan Nona. Saya awalnya ingin menemui dia untuk memberi uang sebagai tanda terima kasih, tapi dia pergi dengan cepat. Seperti sedang mengejar sesuatu.” Kabin kecil itu kembali sunyi. Moran menatap seruling di tangannya sekali lagi. Mungkin berguna untuk mencari siapa pemiliknya. Tanpa pikir panjang Moran meniup peluit itu hingga berbunyi nyaring sebanyak tiga kali. Sekilas, tidak ada hal aneh yang terjadi. Tetapi entah kenapa tiba-tiba angin berhembus cukup kencang. Jalanan itu lengang, tetapi kereta mereka seolah sedang di awasi berbagai pasang mata. Bahkan Xi Bao beberapa kali menyentuh tengkuknya sendiri. “Nona … setelah meniup peluit ini tidak akan ada masalah kan?” Hanya saja, selang beberapa detik tiba-tiba kereta kuda yang ditunggangi mereka mendadak berhenti. Kusir di depan bicara dengan terbata-bata. “No—nona… ada orang yang mencegat kereta.” Moran menyingkap tirai. Di tengah jalan berdiri beberapa pria serba hitam dengan penutup wajah. Mereka membawa pedang berjajar rapi menghalangi jalur kereta. Xi Bao langsung pucat. “Nona, apakah mereka bandit?” gumamnya gemetaran. Pandangan Moran tertuju pada Pria yang memimpin baris depan, ia melangkah maju. Tatapannya dingin dan tajam, lalu berhenti tepat di luar jangkauan kuda. “Tuan-tuan sekalian …” Moran memberanikan diri melepas tusuk konde emas dari sanggulnya. “Kami keluar dari kediaman dengan terburu-buru jadi tidak sempat membawa uang banyak, tapi emas ini bisa kalian tukarkan di pegadaian.” Alih-alih mengambil perhiasan di tangan Moran, pemimpin para pria berbaju hitam itu menyarungkan pedang. Sedangkan tiga lainnya bersiaga mengacungkan bilah pisau panjang ke arah Moran. “Nona, boleh tahu dari mana anda mendapatkan peluit itu?” Sepasang mata pria itu jatuh pada Pada peluit kecil di tangan Moran. Ternyata mereka datang karena suara peluit itu. Xi Bao dan kusir sudah gemetaran karena takut. Sementara Moran menahan diri agar tetap terlihat tenang. “Ini… milik kekasihku. Terjatuh saat dia menemuiku,” jawab Moran sekenanya, satu-satunya alasan yang terlintas di kepalanya saat itu. Ia lalu memaksakan senyum lebar, meski para pria di depannya masih menatap penuh curiga. “Kalian teman kekasihku?” lanjut Moran ringan. “Kebetulan aku sedang kesal dan malas menghubunginya. Kalau kalian bertemu dengannya, bilang saja dia harus mengambil sendiri peluit ini di kediaman keluarga Yang.” Ekspresi para pria di hadapannya seketika berubah. Pedang panjang mereka kembali ke sarung hampir bersamaan. Kepalan tangan kanan ditutup telapak kiri di depan dada, kepala menunduk sepersekian napas, lalu mereka mundur setengah langkah memberi jalan. Pemimpin pria itu tidak mengatakan apapun, tetapi sorot matanya sedikit melunak. Tangannya bergerak mempersilahkan kereta Moran berjalan sebelum menghilang dari pandangan. Xi Bao baru berani bernapas lega sekaligus kebingungan. “Eh? Apa maksudnya? Kenapa mereka pergi? Apa mereka takut dengan Nona?” Moran menggeleng, sekali lagi menatap peluit di tangannya. “Entahlah, tapi mereka tidak berniat membunuh kita,” gumamnya sebelum memberi perintah. “lanjutkan perjalanan!” Hanya saja di sampingnya Xi Bao menelan ludahnya kasar. “Nona … tapi anda baru saja mengatakan sembarangan bahwa benda itu milik kekasih anda, lalu memintanya mengambil ke kediaman, bagaimana kalau pemilik peluit ini marah dan membuat masalah?”“Song Jingren?” Sumpit dan mangkok kecil di tangan Moran hampir saja terlepas dari genggaman. Ia benar-benar tidak menyangka pria itu akan menampakkan batang hidungnya di kediaman ini.Di sisi lain, Tuan Besar Yang sudah lebih dulu pucat. Ia langsung berdiri dari kursinya, bahkan sumpitnya masih tergenggam di tangan. Kepalanya menunduk dalam.“Jenderal Song… maafkan ucapan istriku tadi,” katanya tergesa. “Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggungmu.”Nyonya Yang ikut berdiri. Wanita itu bahkan tidak berani menatap menantunya. Kepalanya ikut menunduk.Moran yang melihat itu lantas meletakkan alat makannya di meja dan bangkit berdiri. Sudut bibirnya terangkat ringan sama halnya dengan tangan yang begitu saja melingkar di lengan Song Jingren. “Jingren, Ibu hanya bertanya kenapa kamu tidak bisa hadir bersamaku, tidak memiliki maksud lain.” Moran sebenarnya sudah bersiap menghadapi amarah, tetapi Song Jingren justru membalas senyum meski hanya sesaat sebelum menoleh pada mertuanya. “A
Jin Lin mengangguk cepat dan segera menyusul keluar. Ia tahu benar, begitu Song Jingren memutuskan sesuatu, bahkan langit pun tidak akan mampu menahannya.Pada akhirnya, ia hanya bisa merapal doa dalam hati, berharap tidak akan terjadi keributan lagi di antara pengantin baru itu.***Asap tebal mengepul di dapur kediaman Keluarga Yang. Api di atas wajan menyala liar, membuat Tuan dan Nyonya Besar Yang saling pandang dengan wajah tegang.Mereka hampir yakin Moran akan mengulang bencana terakhirnya. Namun ketika hidangan akhirnya tersaji di meja, keduanya justru terdiam.Daging sapi tampak lembut. Sayurannya tertata rapi. Aromanya bahkan… menggoda. Yang paling mengejutkan? Tidak ada yang terbakar. Semua barang kembali seperti semula di tempatnya.“Moran… sejak kapan kamu bisa memasak seperti ini?” Nyonya Yang terkesiap, matanya tak lepas dari hidangan di meja makan.“Baru sehari di rumah Jenderal Song, kau langsung hebat dalam memasak?” Yang Tianyu ikut menimpali, nadanya setengah tida
Moran menyesap sedikit teh Longjing sebelum meletakkan kembali cangkirnya. Ancaman seperti ini terlalu langsung. Di zamannya dulu, orang-orang akan membungkusnya dengan senyuman.“Tuan Shen bercanda? Masalah pernikahan kemarin adalah urusan kita berdua. Tidak ada kaitannya dengan ayah.”Kekehan tawa Tuan Shen terdengar renyah di ruangan itu. “Moran… Kau menikah dengan Song Jingren. Menurutmu para pejabat lain masih akan menganggap Keluarga Yang netral?” Tuan Shen menatapnya, suaranya tetap datar. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Song Jingren memang belum menyatakan sikap politiknya. Tapi ia dekat dengan Pangeran Kedua. Apa itu masih belum cukup jelas?”Sepasang mata Moran nyaris berputar malas, meski ekspresinya tetap tertahan. Gadis itu membuang napas panjang.“Aku memang tidak mengerti politik istana,” ujarnya ringan. “Tapi sekalipun Song Jingren adalah suamiku, aku juga tidak bisa mengubah pendapatnya.”Tuan Shen akhirnya mendengus, seolah kehabisan kesabaran. “Kalau begit
Moran menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu beberapa saat. Jemarinya merapikan ujung anting di telinga sebelum akhirnya ia menoleh pada Xi Bao.“Tidak apa-apa,” ujarnya tenang. “Jingren adalah pejabat militer. Banyak urusan di Biro Keamanan Internal. Ayah dan Ibu pasti bisa memakluminya.”Xi Bao terdiam sejenak. Ia lalu perlahan mengangguk, meskipun keraguan di wajahnya belum sepenuhnya hilang. “Kalau begitu… biarkan saya menyiapkan kereta,” katanya akhirnya.***Paviliun Sepuluh Ribu Tamu.Bangunan bertingkat tiga itu berdiri megah di tepi Jalan Qingyun, salah satu jalan paling ramai di kota. Meski matahari baru saja naik, ruang makan di dalamnya telah dipenuhi para tamu. Pedagang, pengelana, hingga para cendekiawan duduk memenuhi meja-meja kayu. Sementara para pelayan lalu-lalang membawa nampan berisi teko teh dan hidangan panas.Ketika Moran melangkah masuk, gelombang keramaian itu seolah menyambutnya dari segala arah. Aroma makanan, denting mangkuk porselen, dan suara tawa
Malam itu akhirnya berlalu tanpa kejadian lain yang mengkhawatirkan. Entah bagaimana caranya, hidangan yang Moran siapkan ternyata cukup mengejutkan para penghuni rumah.Bahkan Wen Ruyue yang biasanya cukup pemilih dalam urusan makanan tampak mengangguk beberapa kali sepanjang makan malam. Sementara Song Guoting, yang sejak awal tidak banyak berbicara, akhirnya menghabiskan satu mangkuk nasi hingga bersih. Sikap diamnya saja sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia merasa puas.Walau malam itu juga Moran dan Jingren harus bersandiwara sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.***Keesokan paginya, langit baru saja memucat ketika halaman kediaman Song Jingren kembali sibuk. Song Guoting harus berangkat lebih awal untuk kembali ke perbatasan. Urusan militer tidak pernah memberi banyak waktu untuk beristirahat.Namun Wen Ruyue tidak ikut pergi bersamanya. Ia memutuskan tinggal di kediaman itu selama beberapa hari lagi, sekalian menunggu Song Jingwen, putri bungsunya, pulang dari Akadem
Gadis yang kini telah resmi menjadi istri Song Jingren itu menoleh kepada Jin Lin yang baru saja kembali mengganti air untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Song Jingren hanya duduk diam di tepi dipan. Sesekali tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat, seolah menahan gelombang rasa sakit yang datang silih berganti.“Nyonya, tetapi Jenderal tadi sudah meminum sup penghenti pendarahan,” jawab Jin Lin. Wajahnya pun tidak luput dari bayang-bayang kekhawatiran. “Saya tidak mungkin membuatnya lagi.”“Sup herbal itu terlalu lambat efeknya.” Moran mengerutkan kening. “Di mana tabib? Kenapa dia belum sampai juga? Jika terus seperti ini, dia akan mati kehabisan darah!”Ia segera menekan kain bersih pada luka cambukan yang terbuka di punggung Song Jingren. Kedua tangannya menekan sekuat mungkin, tetapi darah masih merembes keluar, perlahan membasahi kain yang baru saja diganti.Usahanya hampir tidak memberi hasil.Jin Lin terdiam sejenak sebelum berkata pelan, “Tabib sedang dipanggil dari
Moran segera meninggalkan aula leluhur dan berjalan menuju kamarnya. Jaraknya tidak jauh, hanya beberapa langkah melewati koridor yang sunyi. Lentera yang tergantung di bawah atap bergoyang perlahan tertiup angin sore. Bayangan mereka memanjang di lantai batu.Di belakangnya, Jin Lin berjalan beber
Moran meletakkan kayu penggulung setelah memipihkan adonan terakhir. Ia menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghilangkan sisa tepung yang menempel di telapak dan jemarinya. Butiran tepung beterbangan tipis di udara sebelum perlahan jatuh ke meja kayu yang sudah penuh taburan putih.“Hadiah itu
Kalimat itu dikatakan dengan penuh penekanan. Akan tetapi Song Jingren lebih dulu menarik pedangnya sebelum Moran sempat menyanggah. Hanya perlu hitungan detik, pria itu memutar pergelangan tangannya lalu menarik kembali senjatanya. Ia mengembalikan pedang kepada Jin Lin dan pergi melewati Moran be
Xi Bao melirik sekitar. “Pengantar barang tidak menyebutkan nama pengirimnya hanya bilang dari sepupu jauh dari Nanhe,” ujar Xi Bao merendahkan suaranya semakin pelan. “Tapi Nona tidak punya kerabat dari Nanhe. Mungkinkah ini dari Nona Shuyan?”Moran tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada k







