“...Izinkan saya pergi ke Utara.”Josselyn mengulang ucapannya. Tapi hanya hening yang menyambutnya. Tak ada yang langsung menjawab.Josselyn masih menegakkan punggungnya. Walau ia tak berani menatap berpasang mata di sekelilingnya.‘Tahan, Josselyn. Kau harus tegas dengan permohonanmu, agar mereka mengabulkannya.’ ucapnya pada diri sendiri.“Utara?” ulang Raja pelan.“Itu bukan perjalanan singkat,” lanjutnya, nada suaranya dipenuhi keraguan. “Bukan pilihan yang aman untuk wanita.”“Justru karena itu saya harus pergi, Yang Mulia,” jawab Josselyn, memberanikan diri memutar tubuhnya menghadap Baginda Raja.“Jika kita menunggu lebih lama lagi, musim dingin akan lebih dulu...” Josselyn menelan ludahnya, mencari kata-kata yang lebih tepat. “Semua akan sia-sia jika kita terlambat.”“Lagi-lagi dia berlagak seperti Tuhan—satu-satunya yang bisa menyembuhkan Ratu,” gumam Killian.Josselyn mendengar itu, refleks menoleh. Tatapan mereka bertemu.“Ini satu-satunya cara,” lanjutnya.Killian tidak l
続きを読む