LOGIN“Apa yang sebenarnya terjadi tadi?”Suara Josselyn pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.Sebastian terbaring tenang di bawah pohon, napasnya kini jauh lebih stabil. Sangat kontras dengan kondisinya beberapa saat lalu.“Itu yang ingin kutanyakan,” sahut Howarth dingin. “Karena itu jelas bukan penyembuhan biasa.”Josselyn menatap tangannya sendiri. Masih terasa hangat. Sisa sensasi aneh itu belum sepenuhnya hilang.“Aku tidak melakukan apa-apa,” gumamnya. “Aku hanya mengikuti instruksinya.”“Dan itu yang membuatku semakin tidak menyukai pria itu. Terlalu mencurigakan,” potong Howarth.Pria bertudung merah itu kini berdiri beberapa langkah dari mereka. Diam. Seolah tidak tertarik ikut dalam percakapan.“Tapi dia membantu,” Josselyn menatap Howarth. “Jika bukan karena dia—”“—Sebastian tetap hidup,” sahut Howarth cepat. “Ya. Tapi itu tidak berarti kita bisa mempercayainya.”Josselyn menghela napas.“Saya tidak bilang kita harus mempercayainya. Tapi kita tidak punya pilihan
“Tentu. Kami orang yang tahu balas budi.” jawab Howarth pelan, senyumnya tipis tapi matanya tajam.Sosok bertudung merah itu tidak menjawab. Ia hanya duduk tenang di atas kudanya, menatap mereka satu per satu seolah sedang menimbang nilai barang di pasar.Josselyn menggigit bibirnya. “Jika Anda ingin imbalan, katakan saja. Tapi dia—” ia melirik Sebastian, “—tidak punya banyak waktu.”Sebastian mendengus pelan. “Jangan… bicara seolah aku akan mati.”“Itu sangat mungkin terjadi,” balas Josselyn cepat.“Kau meremehkanku.”“Howarth,” Josselyn beralih, suaranya menegang, “batuk darahnya menunjukkan efek racun yang memulai mengarah ke alat vital.”Howarth tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada pria bertudung itu.“Mari kita percepat,” katanya akhirnya. “Apa yang kau inginkan?”Bukannya menjawab, sosok itu justru turun dari kudanya.Gerakannya tenang. Terukur. Tidak terburu-buru, seolah ia tahu tak ada seorang pun di sana yang mampu memaksanya.“Josselyn benar. Dia tidak puny
"Berhenti! Jangan kejar!" Suaranya terdengar berat, tapi tetap tegas. Beberapa prajurit yang hampir memacu kudanya langsung menarik kendali. “Mereka mundur!” teriak salah satu dari mereka. “Biarkan,” lanjut Sebastian, napasnya mulai tidak teratur. “Formasi tetap. Lindungi tengah.” “Ya, Tuan!” Hening perlahan turun, menggantikan denting pedang dan jeritan yang barusan memenuhi hutan. “...Ini sudah selesai?” gumam Josselyn pelan. “Untuk sekarang. Ya,” jawab Howarth tanpa menoleh. Josselyn menelan ludah. Tangannya masih gemetar. “Tuan Sebastian—” “Aku tidak apa-apa.” “Anda berdarah—” “Aku bilang tidak apa-apa.” Sebastian menatap tajam ke arah Josselyn. Gadis itu tak menghindar tatapannya. Justru membalasnya dengan kesal yang jelas tampak di matanya. “Tuan Howarth, lihat dia!” suara Josselyn meninggi. Howarth sempat tersenyum. Melirik tingkah kedua orang yang usianya beberapa tahun lebih muda darinya itu. “Aku bisa melihat,” balas Howarth santai, matanya k
“Formasi! Lindungi tengah!”Suara Sebastian memotong kepanikan seperti bilah tajam, saat ia melihat ada sekelompok prajurit tersisa yang baru datang.Killian memang hanya menyediakan satu kereta penumpang, tapi rombongan ini tidak kecil. Kereta-kereta barang Edevan ikut serta—dan cukup banyak prajurit mengawal mereka.Prajurit terbagi menjadi tiga bagian: Bagian awal, tengah dan akhir. Prajurit bagian awal dan tengah, sudah banyak yang terluka. Sedangkan prajurit bagian akhir, yang awalnya memisah dari rombongan, kini sudah datang.Dilihat dari raut wajahnya, mereka tidak menyangka terjadi penyerangan. Mereka dengan cepat mengikuti instruksi dari Sebastian.Pasukan berkuda itu menghunus pedangnya dan menyerang sekelompok pria berjubah hitam itu. Mengobrak-abrik lingkaran mereka, hingga masuk melindungi lingkaran kecil di dalamnya—Sebastian, Howarth, Josselyn dan satu prajurit tersisa.“Jangan terpencar!” lanjut Sebastian, matanya menyapu pepohonan. “Fokus pada pemanah di atas!”Josse
“...Kau tak nyaman?”Pertanyaan Howarth membuat Josselyn tersentak.“T-tidak,” Josselyn sempat melirik Howarth.Dua hari telah berlalu. Banyak waktu yang ia habiskan untuk duduk di hadapan kedua bangsawan Edevan itu. Hingga ia menyadari wajah Howarth terlalu halus untuk ukuran pria.Wajah Sebastian jauh lebih tegas. Janggut tipis di pipinya justru membuatnya terlihat lebih pantas menjadi kakak Howarth.Ia menarik napas panjang. “Saya hanya belum terbiasa.”“Apa Kerajaan Valenroth kekurangan kereta kuda sehingga hanya membawakan kita satu saja? Seharusnya Putra Mahkota itu lebih memperhatikan Alkemis Kesayangannya ini.” celetuk Howarth.Ia memiringkan kepala. Mata besarnya menyipit sedikit, seperti sedang bermain-main.“Saya tak seberharga itu,” jawab Josselyn lirih. Ia melemparkan pandangannya ke luar jendela kereta kuda. Berusaha untuk rileks, tapi punggungnya tetap tegak.Howarth, yang duduk di seberangnya, menyilangkan kaki dengan santai. “Ah… jadi kau merasa seperti itu?”Sebastia
“...Izinkan saya pergi ke Utara.”Josselyn mengulang ucapannya. Tapi hanya hening yang menyambutnya. Tak ada yang langsung menjawab.Josselyn masih menegakkan punggungnya. Walau ia tak berani menatap berpasang mata di sekelilingnya.‘Tahan, Josselyn. Kau harus tegas dengan permohonanmu, agar mereka mengabulkannya.’ ucapnya pada diri sendiri.“Utara?” ulang Raja pelan.“Itu bukan perjalanan singkat,” lanjutnya, nada suaranya dipenuhi keraguan. “Bukan pilihan yang aman untuk wanita.”“Justru karena itu saya harus pergi, Yang Mulia,” jawab Josselyn, memberanikan diri memutar tubuhnya menghadap Baginda Raja.“Jika kita menunggu lebih lama lagi, musim dingin akan lebih dulu...” Josselyn menelan ludahnya, mencari kata-kata yang lebih tepat. “Semua akan sia-sia jika kita terlambat.”“Lagi-lagi dia berlagak seperti Tuhan—satu-satunya yang bisa menyembuhkan Ratu,” gumam Killian.Josselyn mendengar itu, refleks menoleh. Tatapan mereka bertemu.“Ini satu-satunya cara,” lanjutnya.Killian tidak l







