Inicio / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 155. Akhirnya Pulang

Compartir

155. Akhirnya Pulang

Autor: malapalas
last update Fecha de publicación: 2026-06-13 18:02:49

Aku kembali menunduk menatap jas mahal berwarna gelap yang kini menutupi tubuhku dengan sempurna. Lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil.

"Aku suka kamu cemburu. Itu berarti ... kamu benar-benar mencintaiku."

Entah kenapa suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya.

Mungkin karena malu, mungkin juga karena aku terlalu bahagia.

Saat aku mengangkat kepala kembali, Aaron sedang menatapku. Tatapan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.

Matanya terlihat begitu hangat. Begitu lembut dan penuh pera
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Anak Rahasia Sang Alpha   155. Akhirnya Pulang

    Aku kembali menunduk menatap jas mahal berwarna gelap yang kini menutupi tubuhku dengan sempurna. Lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil."Aku suka kamu cemburu. Itu berarti ... kamu benar-benar mencintaiku."Entah kenapa suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya.Mungkin karena malu, mungkin juga karena aku terlalu bahagia.Saat aku mengangkat kepala kembali, Aaron sedang menatapku. Tatapan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.Matanya terlihat begitu hangat. Begitu lembut dan penuh perasaan. Seolah di dunia ini hanya ada aku dan dirinya.Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa gugup ketika menerima tatapan seperti itu. Karena kini aku tahu apa arti sorot mata tersebut.Cinta.Murni dan tanpa keraguan.Sudut bibir Aaron perlahan terangkat. Melihat reaksiku rupanya cukup untuk membuat suasana hatinya membaik.Aku langsung memalingkan wajah karena merasa semakin malu.Di belakang kami, Lucien berdeham pelan. "Tuan."Aaron tidak menoleh. "Apa?""Kami masih ada di sini."A

  • Anak Rahasia Sang Alpha   154. Warna Cemburu

    Mesin jet menderu halus, memotong lapisan awan tebal dan meninggalkan wilayah pegunungan kabut Aldhen di belakang mereka. Di dalam kabin yang senyap, Aaron langsung mengambil posisi di kursi tepat di sebelah Fay.​Tak sedetik pun tangan kekar Aaron melepaskan jemari Fay. Ia menggenggamnya erat, ibu jarinya bergerak mengusap punggung tangan Fay dengan ritme yang menenangkan, seolah terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa sang mate kini benar-benar sudah kembali ke pelukannya.Fay menoleh ke luar jendela besar di sampingnya. Di bawah sana, hamparan hijau hutan yang luas bergradasi dengan warna jingga keemasan dari matahari yang mulai terbenam. Pemandangan itu begitu megah dan damai.​"Indah sekali," gumam Fay pelan, memecah keheningan. "Dari atas sini, bumi terlihat sangat tenang."​Fay menempelkan jemarinya ke kaca jendela, matanya berbinar menatap semburat senja."Lihat itu, Aaron. Sungai di bawah sana terlihat seperti benang perak yang berkilau. Dan hutan itu ... rasanya nggak percaya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   153. Sayap Perlindungan

    Setelah gerbang utama Benteng Batu menghilang di balik kabut pegunungan, rombongan Aaron terus bergerak menjauh dari wilayah Aldhen.Angin pegunungan berembus semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan dingin yang menusuk tulang. Namun, di dalam barisan pasukan klan dominan, ketegangan yang sebelumnya mencengkeram kini telah mencair, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi untuk mengawal kepulangan sang Luna.Jalur berbatu yang mereka lalui menurun perlahan mengikuti lekuk lereng gunung. Di beberapa bagian, tebing-tebing tinggi menjulang di sisi jalan, sementara hamparan lembah luas terlihat membentang jauh di bawah sana.Fay berjalan di sisi Aaron dengan tangan yang tidak pernah benar-benar dilepaskan oleh pria itu.Jemari besar Aaron menggenggam tangannya erat namun hangat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia lengah sedetik saja.Bahkan setiap kali jalur yang mereka lalui sedikit tidak rata, Aaron otomatis memperlambat langkahnya agar Fay tidak kesulitan mengikuti

  • Anak Rahasia Sang Alpha   152. Rahasia yang Tidak Boleh Terbongkar

    "Apa? Tidak, itu tidak mungkin!" Bisikan tidak percaya itu lolos begitu saja dari sela-sela bibir Stanley yang mendadak kering.​Marcus hanya mengangkat bahu sekilas, menikmati pemandangan kehancuran di wajah pria di depannya.​Stanley mundur setengah langkah, merasa seolah-olah ada batu besar yang menghantam dadanya hingga sesak.Ia tahu lebih baik daripada siapa pun betapa sulitnya menembus pertahanan para pebisnis Singapura tersebut. Mereka terkenal sangat selektif, dingin, dan tidak tersentuh oleh suap atau intimidasi kaum werewolf. Bahkan dirinya sendiri, dengan segala jaringan yang ia miliki, belum pernah berhasil mendapatkan komitmen penuh dari mereka.​Tapi Aaron? Pemuda itu berhasil? Dalam waktu yang sesingkat itu?​"Tidak, ini pasti kesalahan. Kamu pasti sedang menggertakku," desis Stanley, mencoba mencari celah kebohongan.​Namun, sorot mata Marcus yang jernih dan penuh kemenangan menunjukkan bahwa semua ini adalah kenyataan pahit yang harus ia telan.​"Aaron berhasil meyak

  • Anak Rahasia Sang Alpha   151. Tangan yang Sama-Sama Berdarah

    ​Marcus terdiam untuk waktu yang cukup lama. Di bawah lampu ruang kerjanya, tatapannya tetap tenang, datar, dan sedalam telaga mati. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada pula riak ketakutan di sana. Baginya, ancaman yang baru saja dilontarkan Stanley tidak lebih dari embusan angin malam yang lewat sepintas lalu. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menunjukkan dominasi, Marcus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit. "Dendam memang memiliki cara yang unik untuk membuat seseorang bertahan hidup lebih lama, Stanley," ujar Marcus, suaranya berat dan serak, khas seorang tetua yang telah melewati ratusan badai. Stanley menyipitkan matanya, merasa terganggu dengan ketenangan pria di hadapannya. "Apa maksudmu dengan omong kosong itu?" "Kamu masih terus memikirkan luka di wajah Jessi." Marcus menatapnya lurus, membedah ekspresi Stanley tanpa belas kasihan. "Itu adalah bukti nyata bahwa kamu belum benar-benar bisa menerima kenyataan. Kamu terjebak oleh dendam itu sendiri

  • Anak Rahasia Sang Alpha   150. Janji Berdarah yang Ditagih

    Matahari siang bersinar terang di atas markas utama klan. Aktivitas para anggota klan masih berlangsung seperti biasa. Beberapa kendaraan keluar masuk area utama, sementara para penjaga berjaga di setiap titik strategis dengan disiplin tinggi. Sebuah mobil hitam mewah perlahan berhenti di pelataran depan markas. Pintu kendaraan terbuka. Stanley turun dengan ekspresi dingin. Beberapa penjaga segera memberi salam hormat saat mengenalinya. Sebagai salah satu investor terbesar yang selama bertahun-tahun memiliki hubungan dekat dengan Sang Tetua, kedatangannya sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan. Namun hari ini Stanley tidak menuju aula utama. Ia juga tidak berniat menghadiri rapat resmi apa pun. Tanpa membuang waktu, ia langsung berjalan menuju sayap barat bangunan utama, tempat ruang kerja pribadi Tetua Marcus berada. Langkahnya mantap. Tatapannya tajam. Jelas terlihat bahwa ia datang dengan tujuan tertentu. Sepanjang koridor, beberapa pria berpakaian hitam berdiri dalam posisi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status