Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 151. Tangan yang Sama-Sama Berdarah

Share

151. Tangan yang Sama-Sama Berdarah

Author: malapalas
last update publish date: 2026-06-12 09:02:51
​Marcus terdiam untuk waktu yang cukup lama. Di bawah lampu ruang kerjanya, tatapannya tetap tenang, datar, dan sedalam telaga mati. Tidak ada kilatan kemarahan, tidak ada pula riak ketakutan di sana. Baginya, ancaman yang baru saja dilontarkan Stanley tidak lebih dari embusan angin malam yang lewat sepintas lalu.

Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menunjukkan dominasi, Marcus menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit.

"Dendam memang memiliki cara yang unik untuk membuat sese
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   248. Jejak Sang Pewaris

    Atmosfer di sayap barat markas utama klan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Pintu ruang kerja Tetua Marcus terbuka kasar.Stanley melangkah masuk dengan napas memburu. Jas mahal yang biasanya selalu dikenakannya dengan sempurna kini kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan sorot matanya dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan.Pria yang kemarin masih memiliki kekuasaan besar kini datang tanpa sedikit pun wibawa.Marcus tetap duduk di balik meja kerjanya.Tangannya masih memegang cangkir porselen. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah kedatangan Stanley yang nyaris kehilangan kendali bukan sesuatu yang penting."Marcus!" Stanley menghampiri meja dengan langkah tergesa. "Kamu harus membantuku!"Marcus mengangkat pandangan dengan tenang."Aku sudah mendengarnya, Stanley.""Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Stanley. "Aaron menghancurkan perusahaanku! Rekening-rekeningku dibekukan, asetku disita, jalur perdaganganku diputus, dan sahamku jatuh dalam hitungan jam!"Ia men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   247. Ketika Segalanya Runtuh

    Keesokan harinya suasana di kediaman mewah Stanley tidak lagi memancarkan keagungan sebuah klan terpandang. Pagi yang biasanya diisi dengan cangkir-cangkir teh mahal dan deretan pelayan yang membungkuk hormat, kini berubah menjadi neraka kepanikan yang menyesakkan napas.​Pintu depan kediaman dibanting kasar. Suara teriakan, jeritan tangis, dan benturan barang-barang pecah menggema dari ruang tengah hingga ke lorong utama.​"Stanley! Apa yang sebenarnya terjadi?! Bank memblokir seluruh kartu kredit kami! Rumah ini ... rumah ini ditempeli segel penyitaan!" seru seorang wanita paruh baya—salah satu kerabat senior—dengan wajah pias dan mata membelalak horor.​Di sudut ruangan lain, sepupu-sepupu Jessi yang selama ini hidup mewah dan menggantungkan seluruh gaya hidup mereka dari kucuran dana perusahaan Stanley, menangis histeris. Mereka memegangi ponsel masing-masing yang tanpa henti menayangkan berita kehancuran finansial keluarga mereka.​"Paman! Saham kita anjlok! Nilainya jatuh sampai

  • Anak Rahasia Sang Alpha   246. Malam Sebelum Perhitungan

    "Ibu...."Suara itu keluar begitu saja dari bibirku. Detik berikutnya, aku melangkah cepat menghampirinya.Tubuhku langsung tenggelam dalam pelukan hangatnya.Begitu kedua lengannya memelukku, seluruh pertahanan yang sejak tadi susah payah kubangun runtuh seketika.Tangisku pecah.Aku mencengkeram pakaian Ibu erat-erat, menyembunyikan wajah di bahunya seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang."Iya, Sayang. Ibu di sini." Telapak tangan Ibu mengelus punggungku perlahan. "Menangislah kalau memang ingin menangis. Jangan ditahan."Aku semakin terisak.Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Aku tidak bisa berusaha terlihat baik-baik saja.Di depan Aaron, aku tersenyum. Di depan para pelayan, aku mencoba terlihat tegar. Namun di hadapan Ibu, aku tidak sanggup lagi berpura-pura."Nenek...."Suara itu membuat pelukan Ibu semakin erat. Tangannya terus mengusap punggungku."Ibu tahu kamu sangat kehilangan Nenek."Aku mengangguk dalam tangis.Beberapa saat berlalu s

  • Anak Rahasia Sang Alpha   245. Duka di Balik Kemegahan

    Aku mengikuti Bu Sarah sambil menggendong Arsen.Sebenarnya, Aaron sudah menyiapkan kursi roda untukku, tetapi aku menolaknya. Aku masih cukup kuat menaiki tangga ke lantai dua. Terlebih lagi, obat khusus dari Dokter Reynard bekerja dengan baik. Aku bisa merasakan tenagaku berangsur-angsur pulih.Bu Sarah berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading. Dua orang pelayan berdiri di sisi pintu, lalu segera membukanya perlahan.Aku melangkah masuk. Dan seketika aku terdiam. Mataku membulat.Kamar itu begitu indah hingga aku bahkan lupa melangkah. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap seluruh ruangan dengan perasaan yang sulit kuungkapkan.Dindingnya didominasi warna putih lembut dengan sentuhan abu-abu muda dan emas yang memberikan kesan hangat, elegan, tetapi tetap menenangkan. Cahaya lampu kristal di langit-langit tidak terlalu terang, seolah sengaja dipilih agar nyaman bagi mata bayi.Di sisi kanan terdapat sebuah boks bayi berukuran besar dengan ukiran sederhana berbent

  • Anak Rahasia Sang Alpha   244. Kepulangan Sang Pewaris

    Setelah meninggalkan laboratorium medis tersembunyi milik Aaron, helikopter pribadi itu melaju menembus langit malam.Helikopter tersebut dikirim dari kawasan hutan pinus atas perintah Aldrick melalui ikatan batin, tepat setelah Aaron memutuskan membawa Fay dan Arsen kembali ke mansion. Semua dipersiapkan dengan cepat dan cermat demi memastikan perjalanan sang Luna serta sang pewaris berlangsung nyaman tanpa gangguan.Fay duduk bersandar dengan nyaman di dalam kabin, memeluk Arsen yang tengah tertidur tenang dalam dekapannya. Di samping mereka, Aaron duduk tanpa suara.Sejak helikopter lepas landas dan mengudara, tatapannya hampir tidak pernah beralih dari Fay dan putranya. Sesekali tangannya terulur untuk memastikan selimut Arsen tetap menutupi tubuh mungil tersebut dengan sempurna.Fay menatapnya sambil tersenyum kecil. "Kamu sudah memeriksa selimutnya entah berapa kali."Aaron tidak terlihat merasa bersalah. "Belum cukup."Fay terkekeh pelan. "Dia sedang tidur.""Aku tahu.""Jadi k

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

  • Anak Rahasia Sang Alpha   1. Malam yang Seharusnya Tidak Terjadi

    “Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status