LOGINTangan saya bergetar hebat. Buku tua bersampul kulit hitam itu terasa lebih berat daripada beban Bumi di punggung saya. Di bawah siraman cahaya obor yang dibawa si pengacara, nama itu terpampang nyata, ditulis dengan tinta merah yang sudah menghitam dimakan usia: FAJAR ADITYA SUBROTO."Apa... apa maksudnya ini?" suara saya nyaris hilang, tertelan gemericik air sungai yang deras di bawah jurang Pematangsiantar. "Kenapa nama suamiku ada di buku sejarah kelam keluargaku sendiri?"Pengacara itu, pria tua dengan kacamata yang salah satu lensanya retak, menatap saya dengan rasa iba yang membuat perut saya semakin mual. "Nyonya Kinan, Anda pikir pernikahan Anda dengan Tuan Fajar adalah sebuah kebetulan yang manis di Labuan Bajo? Anda pikir Maria Subroto memilihkan menantu 'orang aspal' hanya untuk menghina Anda?"Ia membuka halaman tengah buku itu. Di sana, tertempel sebuah foto hitam putih yang sudah kusam. Foto dua orang pria muda sedang berdiri di depan sebuah dermaga lama—dermaga yang
Udara Pematangsiantar pagi itu tidaklah ramah. Dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah di pinggir jalan. Aku turun dari bus antarkota dengan menggendong Bumi yang masih terlelap, sementara Bima membantu Fajar turun dari pintu belakang bus dengan kursi roda lipatnya. Wajah Fajar pucat, bibirnya membiru karena AC bus yang bocor sepanjang malam, namun matanya menatap deretan pohon sawit di kejauhan dengan tatapan waspada."Kita benar-benar melakukan ini, Nan?" bisik Fajar, suaranya parau tertelan deru mesin bus yang menjauh. "Kita datang ke tempat yang bahkan ibu kamu sendiri tidak berani sebut namanya?"Aku membetulkan letak kain jarik yang menyangga Bumi. "Kita tidak punya pilihan, Dit. Maria sudah di sini. Jika 'Buku Hitam Nelayan' itu benar-benar ada di kota ini, kita harus menemukannya sebelum dia menggunakan buku itu untuk membumihanguskan Labuan Bajo secara hukum."Kami menyewa sebuah angkutan kota tua yang berbau bensin t
Pesawat perintis yang membawaku kembali ke Labuan Bajo bergoyang hebat dihantam badai kecil di atas perairan Komodo. Perutku mual, bukan hanya karena guncangan udara, tapi karena rahasia yang kini berdenyut di dalam rahimku. Aku meraba perutku yang masih rata di balik daster batik yang kini sudah bersih, namun tetap terasa berat. Di sana, ada sebuah kehidupan yang tidak tahu bahwa ayahnya sedang lumpuh dan ibunya baru saja melewati neraka di bawah tanah Bogor.Begitu pintu pesawat terbuka, udara panas dan bau garam menyambutku seperti pelukan seorang kawan lama yang kasar. Aku tidak menunggu jemputan mewah. Aku berjalan keluar bandara, menyeret tas ransel kusamku, menuju sebuah puskesmas kecil di pinggiran kota.Di sana, di sebuah kamar dengan dinding yang catnya sudah mengelupas dan bau karbol yang menusuk, aku menemukan duniaku yang sesungguhnya.Fajar duduk di atas kursi roda tua yang bannya sudah gundul. Ia menatap ke luar jendela, ke arah laut yang biru, namun matanya kosong.
Ruang bawah tanah di rumah Bogor ini mendadak terasa seperti peti mati yang luas. Cahaya lampu neon di atas kepala kami berkedip-kedip, mengeluarkan bunyi dengung listrik yang menyakitkan telinga. Aku berdiri mematung, menatap Bramantyo Subroto yang berdiri tegak dengan tongkat peraknya—pria yang selama sepuluh tahun ini menipu dunia dengan kursi rodanya.Di layar ponsel yang ia genggam, aku melihat Fajar. Suamiku. Pria yang dulu begitu gagah, kini terikat di kursi kayu di sebuah gudang gelap di Labuan Bajo. Kepalanya terkulai, darah mengering di sudut bibirnya, dan di sampingnya... Bumi, anakku, sedang menangis tanpa suara karena mulutnya dilakban hitam. Di dada mereka, melingkar kabel-kabel merah dan hijau dengan timer digital yang terus berdetak mundur.05:59... 05:58..."Kau pikir kau cerdas, Kinan?" Bramantyo melangkah maju, suara ketukan tongkatnya di lantai semen terdengar seperti detak jantung maut. Tuk... tuk... tuk... "Kau pikir akuntansi bisa menyelamatkanmu dari realita
Bunyi roda pesawat yang menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku kembali ke Jakarta. Kota yang lampunya gemerlap tapi hatinya lebih dingin dari ruang mayat. Aku turun dari pesawat bukan sebagai menantu terhormat keluarga Subroto, melainkan sebagai seorang pesakitan. Rambutku yang biasanya tertata rapi kini kusam, daster batiku tertutup jaket pinjaman Bima yang baunya apek, dan mataku... mataku menyimpan rahasia yang paling kelam.Di pintu kedatangan, sebuah mobil Rolls-Royce hitam sudah menunggu. Pintu terbuka, dan Aris—anjing setia Bramantyo—tersenyum meremehkan."Selamat datang kembali ke realita, Nyonya Kinan," sindirnya sembari membukakan pintu. "Tuan Besar sudah menunggu di rumah Bogor. Beliau bilang, mawar yang layu tetap mawar, asalkan tahu cara bersimpuh."Aku tidak menjawab. Sepanjang perjalanan menuju Bogor, aku hanya menatap pantulan wajahku di kaca mobil yang gelap. Aku terlihat seperti mayat hidup. Tapi di balik tatap
Lantai semen Puskesmas Labuan Bajo ini terasa sangat dingin di telapak kakiku yang tanpa alas. Aku duduk di bangku kayu panjang yang sudah reyot, menatap bayanganku sendiri di kaca jendela yang buram oleh uap hujan. Di balik pintu kayu bercat putih yang sudah mengelupas di depanku, Fajar sedang diperiksa. Suara erangan tertahannya sesekali menembus celah pintu, menghujam jantungku lebih tajam daripada peluru Maria.Bumi tertidur di sampingku, kepalanya bersandar di pahaku yang masih berbekas noda lumpur dan darah kering. Napas anakku berat, sesekali ia mengigau menyebut nama "Ayah". Aku mengusap rambutnya yang kasar karena air garam, mencoba memberikan ketenangan yang aku sendiri pun tidak memilikinya."Nan..."Bima muncul dari arah koridor, wajahnya kusam, matanya merah karena kurang tidur. Ia menyodorkan sebuah ponsel tua dengan layar yang retak. "Lihat ini. Kabar buruknya belum selesai."Aku melihat layar itu. Pesan singkat dari bank pusat: Akses akun dibekukan atas permintaan
Angin malam di atas jembatan penyeberangan itu terasa seperti pisau yang mengiris kulit. Di bawah sana, arus kendaraan Jakarta masih menderu, lampu-lampu mobil membentuk garis panjang yang tak putus-putus. Namun, bagi Kinan, dunia seolah berhenti berputar tepat di depan anak tangga terakhir.Mbak
Rumah Sakit Medika pukul dua dini hari. Lorongnya tampak seperti koridor panjang menuju alam lain—dingin, remang, dan hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan yang mendengung rendah. Kinan berjalan perlahan. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menghasilkan gema yang seo
Pagi itu, apartemen kecil yang biasanya sunyi dan hanya diisi suara gesekan pulpen Kinan di atas kertas, mendadak berubah menjadi neraka kecil. Kinan baru saja selesai mandi, rambutnya masih dibalut handuk putih, dan ia baru saja akan menyeduh kopi saat suara gedoran di pintu unitnya terdengar sepe
Pagi itu, langit Jakarta seolah enggan menampakkan wajahnya. Mendung menggantung rendah, membuat suasana kota terasa seperti lukisan kusam yang hampir luntur. Kinan melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan perasaan yang tidak menentu. Di tasnya, tersimpan rapi berkas-berkas tambahan untuk sid







