Sisi berkata pelan, rasanya masih susah berbicara. "Lo nonton drama apaan semalam? Dia bukan tipe laki-laki yang bakal ngelakuin hal konyol kek film Drakor kesukaan Lo itu." Tery mengedikkan bahu. "Ya, kalau gitu sekalian aja, lo kasih tes buat dia. Kalau dia masih mau sama lo dengan kondisi begini, berarti dia beneran cinta. Kalau enggak, ya udah, tinggalin." "Ngomong gampang, tapi gue nggak bisa asal mutusin semuanya sekarang. Lagian, lo juga tahu, pernikahan ini bukan karena cinta." "Justru karena itu!" Tery menepuk meja kecil di samping ranjang Sisi. "Lo punya kesempatan buat tahu, Sisi! Daffi itu suami lo, setidaknya dia punya tanggung jawab. Kalau dia malah ninggalin lo dalam keadaan begini, buat apa dipertahankan?" Sisi diam. Pikirannya melayang pada sosok Daffi, pria yang menikahinya bukan karena cinta, tetapi karena paksaan dan situasi. Selama ini, Sisi hanya mengikuti arus, berpikir bahwa deng
Magbasa pa