Meisya tersenyum lebar, menarik sudut bibirnya ke atas. “Boleh saja, Jeng. Namun … apakah anak-anak kita itu bersedia dan saling menyukai jika kita jodohkan begitu saja?” “Nah, urusan itu bisa kita atur belakangan, Mei. Lagian, anakmu itu cantik, sopan, dan baik budi. Saya yakin seratus persen anak saya pasti akan langsung menyukainya. Yang terpenting saat ini adalah kita mempertemukan mereka terlebih dahulu,” jawab Rita penuh keyakinan. “Baiklah, saya setuju, Jeng. Nanti kita rencanakan pertemuan atau kencan buta untuk mereka berdua,” sahut Meisya dengan wajah yang terlihat sangat sumringah dan berseri-seri, seolah beban berat di pundaknya telah terangkat seketika. “Bagus kalau begitu. Sudah, ayo kita lanjutkan makan dulu, Jeng. Makanan kita keburu dingin jika kita biarkan terus terabaikan hanya karena asyik membicarakan rencana indah ini,” ajak Rita riang. “Ayo, Jeng,” jawab Meisya antusias, lalu keduanya kembali menyantap hidangan di depan mereka dengan perasaan yang senang
Mehr lesen