“Rayden!”“Hai, Baby!”Aurin langsung menghambur ke pelukan suaminya. Begitu mendongak, ia bertanya lirih, “Bagaimana kondisi Nyonya Besar? Apa beliau sudah siuman?”Rayden mencebik, ia menatap istrinya dengan senyum tipis yang mengandung sedikit cemburu manja. “Mengapa mengkhawatirkan Mama, alih-alih bertanya keadaan saya setelah pergi sekian jam lamanya?” “Kamu sudah ada di depan mataku, terlihat baik-baik saja. Maka dari itu saya lebih dulu menanyakan keadaan beliau,” balas Aurin lembut. “Jadi, bagaimana? Nyonya sudah baik-baik saja, ‘kan?”Rayden mengoreksi. “Beliau ibu mertuamu, Baby. Mulai sekarang, panggil Mama, sama seperti saya memanggilnya.” Aurin merasa aneh. Hatinya diterpa gelombang tak menentu ketika tubuh mereka saling menempel erat dalam dekapan hangat..Kata ‘ibu mertua’ tadi cukup mengusik. Rasanya masih terdengar asing di telinganya. Apalagi, menyebut wanita setinggi Rita dengan sebutan yang sedekat
Mehr lesen