"Pelayan, dari mana macaron ini?"Minari setengah berseru sambil mengangkat kotak macaron yang masih tergeletak di atas meja ruang tamu."Yang memberikannya tetangga dari seberang, Nona," jawab salah seorang pelayan."Evan?" Nama itu langsung terlintas di benaknya. "Kapan dia datang?""Kemarin, saat Nona pergi bersama Tuan Zian."Minari mengangguk pelan."Oke, cukup. Terima kasih."Pelayan itu membungkuk sopan sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.Kini hanya tinggal Minari dan sekotak macaron di ruang tamu.Tatapannya melembut. Ia teringat hari pertama Evan memperkenalkan diri sambil membawa kotak macaron yang sama.Sejak saat itu, makanan kecil berwarna-warni itu selalu mengingatkannya pada pria tersebut.Tanpa sadar, pikirannya melayang pada kejadian di penginapan.Saat Evan membangunkannya. Saat pria itu memanggilnya Rooha.Minari yakin dirinya tidak salah deng
더 보기