“Minari!”Alistair datang.Wajah Minari langsung memucat.Untuk sesaat ia hanya bisa menatap pria yang berdiri di ambang pintu restoran itu. Otaknya mendadak kosong. Jantungnya berdetak terlalu cepat.“Pa-Papa?”Alistair berjalan menghampiri tanpa senyum, tanpa sapaan, tanpa ekspresi yang bisa ditebak.Setiap langkahnya membuat tubuh Minari semakin menegang.“Papa, kenapa bisa ada di sini?”Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.Alistair berhenti tepat di depan meja.“Kau tidak perlu tahu itu.”Nada suaranya datar. Justru karena itulah Minari merasa takut.Tatapan pria itu turun sebentar ke cangkir kopi yang belum habis, lalu kembali ke wajah putrinya.“Yang perlu kau tahu,” lanjut Alistair pelan, “aku selalu bisa menemukanmu.”Dada Minari langsung terasa sesak.Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa terdengar seperti ancaman.“Dengan siapa kau datang kemari?”Pertanyaan itu membuat Minari menegang lagi.Ia segera melakukan perhitungan di dalam kepalanya.Apakah Alistair sudah
더 보기