Beni sedang berdiri. Senyuman mengembang di bibirnya, karena kedatangan Vera, kekasihnya. Tapi senyuman Beni langsung hilang karena ternyata Vera tidak sendiri.Vera masuk ke kamarnya dan keluar dari kamarnya di lantai 1 dan berdiri di depan kos dengan tas koper besar dan seorang pria bermobil mewah menghampirinya dan berdiri di sampingnya."Ben, kita putus."Kalimat itu seakan menghujam di telinganya. Singkat, padat, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. Vera mengucapkannya sambil memeriksa kukunya yang baru di-manicure.Beni yang saat itu sedang membawa sapu hanya bisa terpaku. "Putus? Kenapa? Lalu bagaimana dengan investasi yang kamu bilang minggu ini balik modal? Uangnya kan uang kos-kosan ini, uang punya Paman."Vera mengibaskan rambutnya. "Ya gimana ya, namanya juga investasi. Ada untung ada rugi. Kamu ngerti kan? Ah, kamu sih nggak ngerti apa-apa sih soal keuangan. Pinter dikit, dong.""Tapi kamu bilang pasti untung. Kamu bilang seminggu kembali dengan unt
Mehr lesen