Reva menangis hampir satu jam di depan rumah Surya. Ia duduk di tangga, menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar. Kenangan demi kenangan dengan Leon terus berputar di kepalanya — dari bangku SMA, dari malam-malam kuliah, dari janji-janji yang pernah mereka ucapkan, dan dari semua luka yang kemudian datang.Surya berdiri di sampingnya, tidak menyentuh, hanya menunggu dengan sabar. Leon berdiri beberapa langkah di depan, wajahnya pucat, tangan mengepal, siap menerima penolakan.Akhirnya Reva mengangkat wajahnya yang basah. Ia berdiri, langkahnya pelan, lalu mendekati Surya.Surya tersenyum kecil, mengira Reva sudah memutuskan untuk tinggal. Leon menunduk, menghela napas panjang, lalu berbalik, bersiap pergi.Tapi Reva memegang lengan Surya. Suaranya serak dan pecah.“Surya… maafkan aku.”Surya mengerutkan kening. “Reva?”Reva menunduk, air mata masih menetes. “Aku tidak bisa. Aku sudah mencoba. Aku sudah ingin memilih yang baru, yang tenang, yang tidak menyakitiku. Tapi hatik
อ่านเพิ่มเติม