“Mas…” protes Shanum lemah, tangannya yang semula berniat mendorong dada Prana justru mencengkeram erat kemeja pria itu untuk mencari pegangan.“Hmm?” sahut Prana pelan, bibirnya kini mulai merayap turun menyusuri garis rahang Shanum, mengabaikan penolakan setengah hati wanita itu. “Masih mau bilang kamu enggak bau asem?”Mendengar kata asem, bibir Shanum kembali mengerucut sebal. “Lepas, Mas... Aku beneran mau mandi,” bisik Shanum, berusaha memalingkan wajah saat belahan bibir Prana mulai berpindah mengecup lehernya dengan intensitas yang makin dalam.Sentuhan konstan itu mengirimkan sengatan halus yang langsung melumpuhkan sisa tenaganya. Prana terkekeh rendah, embusan napasnya terasa panas di permukaan kulit Shanum.“Ini juga mau mandi, Sayang. Tapi bajunya harus dilepas dulu, kan?”Tanpa menunggu persetujuan, tangan Prana bergerak ke arah ritsleting pakaian Shanum. Menurunkankannya melalui pundak Shanum, membiarkannya merosot begitu saja. Kini, menyisakan bra merah yang kontras de
Baca selengkapnya