LOGIN“Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba
“Aku gak punya banyak waktu, Gandi. Cepat langsung katakan apa yang mau kamu bicarakan,” buka Shanum tanpa basa-basi, sama sekali tak menyentuh minuman yang sudah di sajikan lima belas menit yang lalu. Ia duduk dengan posisi tegak, kedua tangan bertautan diatas pangkuannya.Gandi mengaduk kopinya perlahan. Sikapnya jauh lebih tenang dibandingkan tadi malam di restoran. Tak ada lagi cengkeraman kasar atau nada suara yang meledak-ledak. Pria itu meletakkan sendok kecilnya, menatap Shanum serius.“Aku mau minta maaf soal semalam, Num,” kata Gandi, terdengar tulus. “Ponsel Mega masih aku pegang. Jangan khawatir, foto itu sudah dihapus semua, jadi gak akan sampai ke Mama.”Shanum mengembuskan napas pendek, merasa satu beban berat di pundaknya luruh begitu saja. “Makasih,” ucanya tulus. “Sekarang, katakan apa hal penting yang kamu maksud di pesan semalam?”Gandi bersandar pada kursi. “Kamu ingat waktu Ayah kita tiba-tiba mengumumkan perjodohan?”Kening Shanum mengkerut. “Kenapa tiba-tiba ba
“Num, ada sesuatu yang selama ini gak pernah aku ceritakan ke siapa pun. Tolong kasih aku waktu sebentar besok, kali ini aku gak akan memaksa.”Di dalam kamar, sambil duduk di tepi ranjang. Kepalanya terasa penuh. Beberapa kali ia membaca pesan yang dikirimkan Gandi. Menimbang apa yang sebenarnya ingin dikatakan Gandi. Ada penasaran yang mendadak muncul.Di satu sisi, ia sangat mencurigai motif Gandi. Di sisi lain, kalimat 'ada sesuatu yang gak pernah aku ceritakan' membuat rasa penasarannya terusik. Apakah ini ada hubungannya dengan Fadil? Atau justru tentang foto yang diambil Mega?Shanum meletakkan ponselnya di atas nakas, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu demi mengusir penat yang menumpuk.Dua jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika ponsel di atas nakas berdering nyaring. Shanum segera menyambar ponselnya. Nama Prana tertera di layar. Baru saja tombol hijau digeser.“Kenapa tadi gak telepon aku? Kamu dimana sekarang? Udah di apartemen?” Pra
"Lihat saja, aku akan melaporkannya ke Mama!" teriak Mega sambil mengangkat ponsel tingginya. Jarinya bergerak lincah mengetik. "Biar Mama tahu kelakuan perempuan yang sok suci ini!"Sebelum Mega sempat mengirim, Gandi mengulurkan tangan dan merebut ponsel itu dengan cepat."Mas! Apa-apaan sih?" protes Mega, melengking. Ia berusaha meraih kembali. "Kenapa dilarang? Biar Mama tahu kalau Mas Fadil itu gak salah sepenuhnya!"“Cukup, Mega. Hentikan,” kata Gandi berat dan tegas. Ia mengunci layar ponsel, lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celananya, mengabaikan tatapan protes dari Mega. “Jangan bikin keributan lagi di sini. Malu dilihat orang.”Shanum yang menyaksikan perdebatan sepasang suami istri itu diam-diam merasakan embusan kelegaan yang amat besar di dalam dadanya. Ketegangan yang sempat memuncak perlahan mulai mengendur.Sejujurnya, ia belum siap jika harus menghadapi konfrontasi baru malam ini, apalagi jika hal itu sampai menyeret nama Prana dan membahayakan posisi pria itu s
“Dia dokter teman Mas Fadil kan?” tanya Gandi penuh penekanan. Mata pria itu menatap tajam, menuntut jawaban yang tak kunjung keluar dari bibir Shanum. “Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan dia?”Shanum memundurkan langkahnya, mencoba memberi jarak. Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan nama Prana yang memanggil untuk kesekian kalinya. Getaran di telapak tangannya terasa begitu mengganggu, tetapi ia sengaja memasukan ponselnya ke dalam tas agar Gandi tak bisa membaca nama yang tertera di sana.“Aku gak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, Gandi. Tolong minggir, ini sudah malam. Aku harus pulang,” jawab Shanum terdengar tegas meski detak jantungnya kian berkejaran.Gandi maju satu langkah, kembali mempersempit jarak di antara mereka. “Pulang ke mana? Ke rumah ayahmu? Jawab, Shanum! Dimana kamu tinggal sekarang?”“Mau pulang kemana saja juga bukan urusan kamu, Gan!” jawab Shanum mulai terpancing emosinya.Gandi tak goyah, tatapannya tetap menuntut Shanum untuk mejjaw
"Shanum."Tubuh Shanum langsung menegang. Suara ini sudah lama tak didengarnya, dan ia enggan berurusan dengan orang yang memilikinya. Walaupun sebenarnya dia bukan salah satu orang yang membuat Shanum tertekan.Perlahan Shanum menoleh ke samping. Darah di wajahnya seakan surut seketika begitu melihat sepasang suami istri yang sangat ia kenal berada dekat dari dirinya. Gandi—adik kandung Fadil, sekaligus teman sekolah Shanum sejak mereka masih kecil—dengan istrinya, Mega.Mata Mega menelusuri wajah Shanum dari atas sampai bawah dengan penuh penilaian. Sementara Gandi berdiri dengan kedua tangan di saku celana, memperhatikan Shanum tanpa berkedip. Sorot mata Gandi tampak kecewa, tak ada kehangatan seperti dulu kalau pria itu selalu membelanya dari amukan Fadil."Kebetulan sekali ya," suara Mega terdengar sinis.Jantung Shanum mulai berdebar cepat. "Kalian ngapain di sini?""Tentu kami makan malam juga disini." Mega melangkah mendekat, memotong jarak di antara mereka. Tatapan Mega beral
“Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat
Prana membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Shanum, mencium dan menghisap leher Shanum. Tangan Prana yang besar bergerak perlahan, mengusap leher, turun ke bahu, hingga menjelajahi lekukan tubuh lain.“Dalam mimpimu, apa aku melakukan ini?” tanya Prana penuh godaan. Bibirnya menyapu l
“Sekarang cium aku... jadi aku bisa membuktikan kalau aku disini membutuhkanmu, Mas.”Mendengar pengakuan itu, pertahanan Prana runtuh seketika. Ia tak membutuhkan perintah kedua. Bibirnya langsung membungkam bibir Shanum dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan, menenggelamkan semua pertanyaan
“Aku sudah tahu kamu akan datang, Shanum,” ucap Prana rendah, mengirimkan getaran aneh yang menjalar hingga ke perut Shanum. “Sudah kubilang, aku akan menunggu seberapa lama pun kamu mencoba ingkar.”Di ujung tangga, pintu kaca geser sudah terbuka lebar. Prana berdiri di ambang pintu, menunggu laya







