ログイン“Sayang, dimana sekarang?” Suara Prana langsung menyambar melalui speaker ponsel begitu Shanum menekan tombol hijau, terdengar nada khawatir disana.“Di rumah. Aku baru saja sampai,” jawab Shanum sembari menyandarkan punggungnya pada pintu jati yang baru saja tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantung yang masih berantakan. Intimidasi dingin Fadil di mobil tadi masih terasa.“Kamu baik-baik saja? Ibumu atau Fadil melakukan sesuatu?” Pertanyaan Prana datang beruntun. Kalimat itu tajam, seakan ia siap memutar balik kemudi dan menerjang siapa pun yang berani menyentuh Shanum jika wanita itu mengiyakan.Shanum menghela napas lelah. Bayangan tatapan predator Fadil dan bisikan ancaman di samping telinganya tadi kembali berputar. “Aku baik, Mas. Cuma sedikit pening.”“Aku sebentar lagi sampai. Jangan kemana-mana, aku lagi putar arah!”Tanpa menunggu balasan, sambungan telepon diputus sepihak. Shanum tahu Prana tak sedang menerima penolakan. Ia segera bergera
Hendra mendorong pintu kaca ruangannya dengan langkah lebar, melirik jam tangan peraknya yang baru menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Langkahnya terhenti saat melihat sosok Prana sudah duduk santai di kursi kulit tamu sembari menyesap kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan."Bukannya janjian kita jam sembilan ya? Kenapa kamu sudah ada di sini?" tanya Hendra heran. Ia meletakkan tas jinjingnya ke atas meja kerja yang masih rapi.Prana hanya mengangkat cangkir kopinya tipis. "Aku butuh waktu lebih awal untuk menunjukkan sesuatu padamu sebelum Shanum sampai di sini nanti."Kedua netra Hendra kini mengalihkan pandangan pada pria yang duduk di sebelah Prana. Pria itu tampak masih sangat muda, mengenakan kacamata dengan bingkai tebal dan kemeja kotak-kotak yang dikancingkan sampai ke leher.Tipikal anak muda kutu buku yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar monitor daripada di bawah sinar matahari.“Kamu gak praktek? Lagi cuti atau bagaimana?” selidik Hendra se
Fadil mulai memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari gerbang rumah Dokter Bobby. Matanya sesekali melirik spion, memastikan sosok mertuanya sudah hilang dari pandangan sebelum ia melepaskan topeng keramahannya.“Jadi apa yang ibumu bahas tadi?” tanya Fadil curiga.Shanum tetap bungkam. Ia merapatkan hoodie kremnya, menarik talinya lebih kencang hingga dagunya tersembunyi sempurna.Ia menggigit bibirnya menahan rasa sesak mengingat ucapan ibunya yang masih terngiang jelas di telinga. “Mungkin ada yang kurang dari caramu melayani dia.”“Makin kemari kamu banyak tingkah ya? Bukannya jawab, malah pura-pura gak dengar,” desak Fadil lagi, suaranya mulai meninggi, kehilangan kesabaran yang tadi ia pamerkan di depan Ani.“Ibu cuma minta aku lebih baik ngurus kamu,” jawab Shanum datar. Matanya menatap kosong ke arah jalanan di depannya.Fadil mendengus, tawa remeh keluar dari sela bibirnya. “Oh itu… Ibumu memang benar. Akhir-akhir ini kamu emang banyak tingkah,” gerutu Fadil sambil memutar k
“Bagus ya! Menginap di sini tanpa izin suami, terus handphonenya sengaja dimatikan!” gertak Fadil di teras rumah orang tua Shanum tanpa memperdulikan keberadaan mertuanya.Shanum menunduk. “Ponselku mati habis baterai, Mas. Aku ketiduran di kamar tamu, gak sempet cek handphone.”“Ketiduran? Sampai lupa suami baru pulang dari Jepang, bela-belain jemput ayahmu, terus istrinya ketiduran?!” bentak Fadil lagi.“Iya, maaf,” jawab Shanum benar-benar sudah malas menanggapi Fadil.“Ayo pulang! Jangan buang-buang waktu lagi di sini!” Fadil berseru dengan nada yang tak terbantahkan.Tanpa menunggu jawaban, pria itu berputar arah dan berjalan lebar-lebar menuju mobil yang terparkir di depan pagar, meninggalkan Shanum yang berdiri terpaku di teras.Shanum menghela napas panjang, merapatkan tudung hoodie krem yang masih melekat di kepalanya. Ia memastikan tali tudung itu terikat cukup kuat untuk menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya. Dengan langkah berat, ia masuk kembali ke dalam rumah untuk
“Bangun, Sayang.”Prana tak menggunakan guncangan kasar atau teriakan untuk membangunkan wanita di sampingnya. Ia hanya mengusap pipi Shanum dengan punggung jarinya—sebuah sentuhan yang ternyata jauh lebih efektif daripada bunyi alarm mana pun.Sinar lampu tidur yang masih menyala membuat pandangannya sedikit kabur. Perlahan-lahan wajah Prana yang berada tepat di hadapannya menjadi fokus pertama yang ia tangkap. Pria itu sudah rapi .“Mas, jam berapa sekarang?” tanya Shanum lirih serak khas orang bangun tidur. Sejenak ia melupakan kemelut yang terjadi kemarin.Prana tak langsung menjawab. Ia justru menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi kening Shanum ke belakang telinga. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat wajah bangun tidur Shanum yang terlihat polos.“Hampir jam empat pagi. Sudah waktunya kita pulang,” bisik Prana.Shanum langsung terduduk tegak di atas ranjang. Kantuk yang tadinya menyerang hebat luntur seketika. Jantungnya berdegup kencang, teringat rencana mere
“Kenapa belum tidur?” tanya Prana melihat Shanum yang masih membuka mata sayunya dalam pelukannya, lalu menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi bahu Shanum yang terbuka.Shanum menggeser posisinya, mendongak menatap wajah Prana. Ia menemukan pria itu juga masih terjaga. Sambil menghela napas panjang, jemarinya bergerak menelusuri garis rahang Prana yang tegas.“Sebenarnya aku cuma takut kalau aku tidur, pas bangun nanti semua ini ternyata mimpiku saja. Aku takut bangun di kamar itu, disamping Fadil.”Prana menangkap tangan Shanum, mengecup telapak tangannya dengan lembut. “Ini nyata, Sayang. Kamu di sini, bersamaku. Aku gak akan pernah membiarkan mimpi buruk itu menarikmu kembali.”Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya terdengar detak jam dinding yang teratur. Prana kemudian memiringkan tubuhnya, menatap Shanum dengan rasa ingin tahu yang mulai muncul.“Ngomong-ngomong, bagaimana tadi kamu bisa keluar dari rumah tanpa ketahuan Ibumu atau Dokter Bobby? Aku tadi sudah menyiap
Prana tidak membuang waktu, ia menyingkirkan rintangan terakhir yang memisahkan kulit mereka. Mata sayu Shanum menatap Prana dengan napas yang masih terengah-engah yang kini berdiri tegak di antara kedua kakinya.Sosok Prana tampak begitu dominan di bawah cahaya lampu pemeriksaan yang terang, diata
“Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan padamu apa artinya dimiliki sepenuhnya,” bisik Prana parau.Detik berikutnya, Prana meraup bibir Shanum dalam sebuah ciuman yang dalam. Kasar, menuntut, dan penuh dengan kerinduan yang telah terpendam selama lima tahun.“Mas... mmm...” bisik Shanum di sela ciu
Shanum segera mengunci pintu kamar dari dalam. Fadil sendiri hanya mengantar sampai pagar rumah, dan langsung melesat kembali ke kantornya.“Kenapa aku bisa selalai itu? Gimana kalau aku sampai hamil?” batinnya menyesal.Tangan Shanum gemetar hebat saat menyentuh perut ratanya. Disana ada jejak pana
Prana tengah memakai jas putih dokternya, sambil memperhatikan Shanum sedang membaca pesan di ponselnya.Mata Prana menyipit, menyadari perubahan raut wajah Shanum. Ia mendekat, mengambil ponsel dari tangan Shanum yang dingin. Dibacanya pesan itu sekilas, lalu meletakkannya kembali ke meja seolah p







