Share

Bab 17

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-13 21:42:40

Eca susah payah menahan tawa mendengar Bi Lastri mengomel seperti itu. Agaknya Bi Lastri juga sudah muak dengan tingkah juragan mesum itu.

“Ih, Bibi jangan ngomong begitu, ah,” katanya sambil menutup mulut. “Nanti kalau kedengaran, bisa-bisa kita diusir dari Mekarluyu.”

“Kejam pisan itu orang, Neng,” gerutu Bi Lastri, tangannya ikut bergerak-gerak gemas. “Bininya aja sudah tiga, masih kurang wae. Tidak punya malu.”

Eca langsung menunduk, pura-pura membetulkan ujung bajunya supaya tawanya tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Null_null
Kayaknya si eca ini yg bakal baper diluan deh wkwk
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
mudah mudahan Ihsan yg bawa pesenan gorengan ya???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 149

    Ihsan terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan istrinya itu. Gelagat sang suami justru membuat Eca semakin yakin bahwa dugaannya tidak sepenuhnya salah.Tetapi, istri mana yang nggak senang kalau suaminya sampai berinisiatif memberinya sesuatu seperti ini?“Harusnya Akang nggak usah sampai repot-repot,” ujar Eca. “Tanpa dikasi ini pun aku udah maafin Akang, kok.”“Nggak repot, Neng.” Senyum Ihsan melebar. “Saya memang sudah niat mau ngasih Neng.”“Benar begitu?” Eca masih kurang yakin.Sebuah anggukan diberikan Ihsan sebagai jawaban. “Neng terima, ya,” lanjutnya seraya meraih gelang tersebut dari dalam kotaknya.Tangannya menggenggam pergelangan Eca dengan hati-hati sebelum memasangkan gelang itu. Setelah pengaitnya terpasang, Eca langsung mengangkat tangannya, memandangi gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya.“Neng suka?”Eca mengangguk berkali-kali. “Suka banget.”Ia memiringkan pergelangan tangannya ke kanan dan kiri, memperhatikan bagaimana cah

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 148

    Selesai makan malam dan membereskan dapur, keduanya pindah ke ruang tengah. Televisi di depan mereka menyala, tetapi hanya menjadi pengisi suara di ruangan itu.Eca duduk menyandar di dada Ihsan sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali, tangannya meraih potongan rengginang yang dibawa mertuanya kemarin. Kedua kakinya selonjor di atas sofa, sementara Ihsan tetap membaca buku dengan tenang. Sesekali, pria itu menunduk hanya untuk mengecup pucuk kepala istrinya.Meski terlihat sibuk dengan ponselnya, Eca bisa merasakan dada Ihsan yang naik turun dengan tenang di belakang tubuhnya. Detak jantung pria itu juga terdengar samar di telinganya.Jauh berbeda dengan siang tadi.Keheningan yang justru terasa nyaman itu bertahan beberapa saat, sampai akhirnya suara Ihsan terdengar pelan di atas kepala Eca.“Neng ….”“Hm.” Eca mendongak sebentar. “Apa, Kang?”“Jangan marah lagi sama saya, ya.”Gerakan jempol Eca di layar ponsel langsung berhenti.“Tadi sudah dibilang aku udah maafin Akang,” balas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 147

    Eca berkedip beberapa kali. Otaknya seperti mendadak loading, membuatnya hanya bisa menatap Bi Lastri dengan wajah kosong.Bi Lastri mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, tetapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.“Mun sudah keramas mah, berarti beres atuh urusannya.”Eca masih mengernyit.Sampai akhirnya Bi Lastri berdeham kecil sebelum menambahkan dengan nada yang penuh maksud.“Biasana mah kalau laki bini berantem, beresna di ranjang.”Mata Eca langsung membulat.Oh. Baru sekarang ia menangkap kalau sedari tadi arah pembicaraan tetangganya itu mengarah kesana.Ia buru-buru menggigit bibir, tetapi percuma saja. Sudut bibirnya sudah telanjur terangkat.“Bibi!”Bi Lastri malah terkekeh pelan. “Naon? Bener begitu, nya?”“Bibi ah, nggak usah dibahas.”Hawa panas seketika saja menjalar ke pipi hingga ke telinga Eca. Tangannya bahkan buru-buru menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, sekadar mengusir sedikit rasa gugupnya.Ia menunduk sebentar, berharap Bi Lastri tidak meliha

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 146

    “Tapi saya mohon maafkan saya sekali ini, Neng.” Kali ini suara Ihsan benar-benar pecah.Eca hanya mampu terdiam, meski melihat bahu pria itu bergerak kecil sekali atau dua kali, lalu kembali bergetar hebat, lebih jelas dari sebelumnya.Ihsan sempat mengangkat tangan yang satunya ke wajah, tetapi beberapa detik kemudian menurunkannya lagi. Seolah percuma menyembunyikan sesuatu yang sudah telanjur jatuh di hadapan Eca.Tarikan napasnya terdengar patah-patah. Kemudian, satu tetes air jatuh tepat di punggung tangan Eca.Dada Eca seketika terasa sesak melihatnya.Selama ini, Ihsan selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Entah lewat senyum menyebalkannya, candaan yang kelewat santai, atau sikapnya yang kadang membuat Eca ingin menjitak kepala pria itu, tetapi Ihsan juga selalu punya cara menenangkannya di saat yang bersamaan.Namun, sekarang, pria itu bahkan seperti tidak sanggup mengangkat wajah di hadapannya.Dahinya just

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 145

    Ihsan mengangguk cepat. Namun, Eca tak langsung bereaksi. Untuk beberapa detik, ia bahkan seperti lupa caranya berkedip. Matanya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, seolah sedang mencari celah untuk memastikan bahwa ia tidak salah menangkap anggukan itu. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan Ihsan perlahan mengerat. Suaminya itu tidak menarik kembali ucapannya, tetapi pula tersenyum atau mencoba menganggapnya sebagai candaan. Tenggorokan Eca mendadak terasa kering dibuatnya. Benarkah? Pria yang sejak kecil lebih banyak diam di sisinya itu benar-benar menyimpan perasaan seperti ini selama bertahun-tahun? Ihsan menarik napas panjang. Setelah beberapa detik, ia kembali memecah keheningan ruang tamu. “Waktu kecil, saya pikir saya cuma sayang sama Neng seperti adik sendiri. Ada naluri saya yang selalu ingin jagain Neng.” Ia ter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 144

    Eca mengernyit semakin dalam. Surat? Ia sama sekali tidak ingat pernah menerima surat dari Fajar. Bahkan setelah mencoba mengingat kejadian sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tetap tidak ada apa pun yang muncul di kepalanya. Tapi ia ingat satu hal, pagi itu rumahnya sudah sangat sibuk karena keberangkatannya ke Jakarta dipercepat sehari dari jadwal. Barang-barangnya sudah dimasukkan ke mobil, sementara Eca sendiri sudah duduk di kursi penumpang ketika melihat seseorang datang dari arah jalan. Dia Fajar. Pria itu mengendarai motor bututnya melewati lorong menuju rumahnya. Saat itu, Eca hanya mengira Fajar mungkin hendak ke rumah Ihsan. Mereka teman sejak SMP, jadi keberadaan Fajar di sekitar rumah itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, Eca tidak sempat berbicara dengannya karena mobil sudah lebih

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 1

    “Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!” Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharus

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru y

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 3

    Pria yang dipanggil Ihsan itu diam. Ekspresinya tenang, namun tatapannya sulit terbaca. Ihsan adalah teman masa kecil Eca. Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar. Eca tidak

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 2

    Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim. Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu. Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang beg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status